Resensi Kitab Al-Akhlak was Sair Ibnu Hazm

menjadi pribadi tangguh

 

Submitted by admin on Tue, 04/09/2019 - 02:39
Penulis

Ibnu Hazm rahimahullah melakukan studi mendalam tentang apa sih kenikmatan yang ingin diraih oleh semua manusia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, beliau dalam muqadimahnya sampai mengatakan; “Aku nafkahkan mayoritas umurku untuk menjawabnya, aku tambatkan diriku untuk meneliti dan memikirkannya.”

Beliau adalah Imam Al-Kabir, Al-Faqih, Al-Hafidz, Al-Mujtahid dalam berbagai seni keilmuan, Ahli bahasa Arab dan menguasai samudera ilmu serta kearifan yang sangat luas; Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Hazm Al-Umawy Al-Qurthubi Al-Andalusi (wafat 457 H). Menulis sebuah kitab mengenai akhlak dan menelisik psikologi manusia yang ditulis oleh ahli fikih dan ahli hadits tersohor, berjudul:

الاخلاق و السير او رسالة في مداواة النفوس و تهذيب الأخلاق و الزهد في الرذائل

Akhlak dan Pengembaraan atau Tesis Mengobati Jiwa dan Pembinaan Akhlak serta Pencegahan dari Sifat Tercela.

Sebuah kitab yang disusun untuk menjawab pertanyaan penting keinginan manusia. Ternyata manusia, siapapun dia, hanya menghendaki satu keinginan sepanjang hayatnya. Tetapi dalam meraih keinginan tersebut, manusia mengejarnya dengan berbagai macam cara yang salah berakibat akhlaknya menjadi buruk dan merusak.

Biasanya, kitab-kitab salaf dimulai dengan pengamatan dari ayat-ayat Al-Quran, Al-Hadits dilengkapi dengan atsar salaf. Setelah itu digali perbendaharaan ilmu dari sumber-sumber tersebut. Manhaj penulisan ini tampak dalam kitab Al-Adabul Mufrad Al-Imam Al-Bukhari, Asy-Syamail Al-Muhamadiyah karya Imam At-Tirmidzi dll.

Tetapi, manhaj beliau dalam karya ini dimulai dengan mengamati sifat manusia. Beliau memperhatikan dan menguji keinginan manusia sejak menangis keluar dari rahim ibu sampai masuk liang lahat. Sebuah pengamatan panjang yang menghabiskan hari-hari beliau di Andalusia dan pengembaraan ke negeri Islam lainnya.

Setelah itu beliau merujuk pada firman Allah dan hadits nabi untuk mengungkap jawabannya. Bisa dikatakan, kitab ini menyingkap tabir rahasia tentang keinginan seluruh manusia dimuka bumi ini semenjak zaman Adam alaihissalam hingga hari kiamat.

Tentu saja, jerih payah yang rahimahullah lakukan untuk mengejar sesuatu yang agung dan abadi. Katanya: “Aku tambatkan semua pengalaman dan percobaan yang aku lalui dituangkan dalam kitab ini, dengan harapan Allah menganugerahkan manfaatnya bagi hamba-hamba yang Dia kehendaki. Atas capaian yang membuat diriku lelah, hasil yang aku sangat bersungguh-sungguh untuk menemukannya, dan memeras energi pikiranku agar Dia memberikan maaf bagiku dan memberi hadiah suatu kenikmatan tiada tara bagiku.”

Setelah menghabiskan pengamatan yang panjang, akhirnya beliau menemukan seluruh keinginan manusia yaitu; mengusir kesedihan dari dirinya. Bahkan beliau menyimpulkan, mengusir kesedihan dari diri adalah keinginan yang disepakati oleh seluruh manusia semenjak penciptaannya hingga hari kiamat. Tidak ada seorangpun yang memandang baik kesedihan dan membiarkannya menguasai dirinya.

Sebab itu beliau menafsirkan aktivitas kehidupan manusia, pada hakikatnya upaya untuk mengusir kesedihan. Seseorang mencari harta, begadang semalam suntuk, mencari kesenangan, mencari ilmu, bahkan dari makan ke makan, minum ke minum, nikah ke nikah, baju ke baju yang lainnya ternyata untuk mengusir kesedihan.

Sayangnya, segala upaya yang dilakukan manusia untuk mengusir kesedihan dengan berbagai macam aktivitas yang disebutkan di atas seperti mencari kekayaan, ganti baju sampai ganti istri/suami hanya bisa mengusir sebagian kesedihan saja, itupun hanya sejenak, sifatnya fana. Apapun yang dilakukannya ternyata tidak mampu mengubur seluruh rasa pilu.

Selain itu, cara manusia mengusir kesedihan juga beragam dan banyak yang mencari cara dengan jalan yang salah yang sifatnya pelarian. Diantara manusia ada yang mencarinya dengan tidak beragama yang membuatnya tidak mengenal amal untuk akhirat. Ada yang mengerjakan keburukan tidak menginginkan kebaikan dan mencari al-haq. Ada yang bermalas-malasan hingga begadang semalam suntuk. Ada yang menolak harta dan menikmati hidup susah dan miskin seperti sufi dan bahkan ada yang senang dengan kebodohan sehingga meninggalkan ilmu.

Kitab yang sangat bagus ini hanya terdiri dari satu jilid dengan jumlah halaman 196. Terdiri dari sebelas pasal utama untuk memperbaiki akhlak kita. Dimulai dari pasal Mudawatun Nufus wa Ishlahul Akhlak (mengobati penyakit hati dan perbaikan akhlak), fadhilah ilmu, akhlak berteman, masalah cinta, dan terakhir akhlak menghadiri majlis ilmu.

Namun inti dari kitab ini bermuara pada bagaimana mengubur kesedihan secara efektif. Sedih memang salah satu sifat yang membayangi manusia tidak bisa ditiadakan tidak bisa dipungkiri. Tapi manusia membutuhkan obat agar bisa mencapai kebahagiaan.

Setelah sekian lama melakukan perenungan dan berbagai tesis, beliau menemukan, kesedihan manusia ternyata didapat tatkala dia menyandarkan tujuan amal untuk dunia, meskipun hanya secuil.

Beliau berkata: “Semua cita dan angan yang kamu harapakan karena tujuan dunia, hanya akan menghasilkan kesedihan. Entah dunia itu pergi darimu atau kamu yang tidak bisa memperolehnya, tak ada pilihan lain.”

Walhasil, temuan rahimahullah satu-satunya cara agar kesedihan itu sirna adalah; jangan sedikitpun beramal demi kepentingan dunia yang beliau istilahkan dengan al-amal lil akhirat faqhat (beramal hanya untuk akhirat saja).

Manusia jika beramal lil akhirat faqhat, tidak akan bersedih sekalipun lahiriyahnya gagal atau kurangnya penerimaan orang lain. Karena dia beramal untuk Allah yang membalas segala perbuatan baiknya dan melipat gandakan pahalanya. Allah, yang akan menganugerahkan janah seluas langit dan bumi.

“Jika semua urusanmu gagal, mengecewakan dan hasil akhir dari seluruh energi pikiranmu hanyalah kekurangan pada segala perkara dunia, maka hakikat solusinya hanyalah: al-amal lil akhirat faqhat.”

Mencari kebahagiaan dengan tujuan duniawi seperti begadang, mencari harta, mencari cinta, mencari keridhaan manusia dll justru malah tidak menghilangkan kesedihan, bahkan menjadi sebab kesedihan yang berkepanjangan yang mengotori semua kebahagiaan.

Sedangkan amal lil akhirat adalah jalan paling selamat dari segala aib, bersih dari segala debu, dan pencapaian hakiki mengubur kesedihan. Beliau berkata:

“Pahamilah, tidak ada cara lain menghilangkan kesedihan kecuali hanya dengan beramal kepada Allah ta’ala. Selain itu sesat dan kebodohan.”

Ibnu Hazm rahimahullah mengambil kesimpulan ini dengan pandangan rabaniyah menggunakan bashirah imaniyah , mengarahkannya pada persoalan niat, setelah mentadaburi nash-nash syariat seperti sabda Nabi salallahu alaihi wassalam:

مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ

Barang siapa yang menjadikan segala keinginannya hanya satu keinginan, yaitu tujuan akhirat, maka Allah mencukupi segala urusan dunianya. Siapa yang bercabang-cabang keinginannya dalam urusan dunia maka Allah tidak peduli kepada orang itu di lembah dunia yang mana ia binasa.” (Shahih Sunan Ibnu Majah)

Sebab itu beliau mengatakan, “Jangan kamu melakukan pengorbanan kecuali hanya pada yang lebih tinggi darimu, Dialah zat Allah ta’ala. Orang yang mengorbankan dirinya demi dunia seperti orang yang menjual permata Yaqut dibarter dengan tongkat kayu.”

Inilah tanda orang berakal, dia tidak akan mempertaruhkan harga jiwanya kecuali hanya untuk janah.

Follow Us Body

Tags

Artikel Terkait