Arbain Al-Jiyad Hadits 1: Hadits Paling Agung dalam Bab Tauhid dan Jihad

Submitted by admin on Sun, 06/28/2020 - 06:41
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan laa ilaaha illallah. Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha ilallah, berarti ia telah menjaga darah dan jiwanya dariku kecuali karena alasan yang dibenarkan syariat, dan perhitungannya kembali pada Allah.” (Al-Bukhari)

Hadits mulia ini merupakan hadits paling agung dalam bab tauhid dan jihad. Di dalamnya menerangkan tujuan perintah perang ofensif kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya yaitu membumikan kalimat tauhid dan menegakkan syariat Allah ta’ala.

Islam mengenal dua bentuk perang:

  1. Perang yang merupakan bagian dari fitrah, tabiat serta insting manusia. Berupa bentuk reflek pertahanan (defensif) diri melindungi harta dan kehormatannya serta insting melindungi apapun yang dia miliki. Operasi defensif dari kezaliman agresor merupakan salah satu dari fitrah suci manusia. Tidak ada dalil khusus yang memerintahkan perang defensif ini.
  2. Perang yang bukan merupakan fitrah manusia. Yaitu bentuk perang ofensif yang tidak sesuai dengan tabiat dan insting manusia. Hadits ini merupakan dalil perintah perang ofensif.

Perang ofensif ini tidak akan bisa dilaksanakan oleh manusia kecuali dengan suatu tahrid ilahi (motivasi ilahi yang mengobarkan semangat) tamak mencari pahala. Sebab itulah Allah ta’ala berfirman mengenai bentuk perang ini:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan ancaman bagi siapa pun yang meninggalkan bentuk perang ini dalam sabdanya:

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

“Barang siapa mati, sedang ia tidak pernah berjihad dan tidak mempunyai keinginan untuk jihad, ia mati dalam satu cabang kemunafikan.” (Muttafaq alaih)

Kalimat:

أُمِرْتُ

“Aku diperintahkan.”

Menunjukkan bahwa perang ofensif merupakan hak Allah semata, tidak ada bagian hak bagi hamba. Allah semata yang memiliki hak perintah perang ini. Sedangkan bentuk perang lain yaitu defensif merupakan hak hamba, meskipun tidak ada perintah mempertahankan diri, manusia secara fitrahnya akan melakukan pertahanan diri.

Kalimat:

أَنْ أُقَاتِلَ

“Untuk memerangi.”

Perang bentuk ini disyariatkan tanpa harus ada kezaliman dari musuh atau serangan. Perang ini adalah perang yang dimulakan dengan dakwah dan penegakkan hujah umum (dakwah wal indzar) pada seluruh bangsa kafir setelah itu barulah dilancarkan serangan hingga hancur kekuatan mereka dan tunduk pada hukum Islam atau sebelum itu mereka tunduk dengan membayar jizyah.

Perintah perang dalam hadits ini datang secara prinsip tanpa mengharuskan sebab apapun, yaitu meskipun tidak ada agresi militer dari musuh. Selama masih ada kekafiran dan kesyirikan di muka bumi, umat Islam diperintahkan untuk memerangi mereka walaupun umat Islam telah memiliki wilayah kedaulatan yang kuat.

Lafazh kalimat ini juga menunjukkan bahkwa perang bentuk ini merupakan perang dengan memobilisasi kekuatan yang besar yang hanya bisa dilakukan oleh sebuah daulah (negara). Sebab itulah dimulakan dengan dakwah wal indzar.

Kapan perintah ini berhenti? yaitu:

حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Hingga mereka mengucapkan laa ilaaha illallah.”

Hatta menunjukkan akhir tujuan peperangan, yaitu berhenti ketika kaum kufar masuk Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat lailahaillallah. Sehingga kalimat tauhid ini sebagai syarat tidak diperanginya mereka. Peperangan juga berhenti jika ditemukan indikasi keislaman seperti shalat, memakan sembelihan muslim. Dikenali pula dengan indikasi turunan seperti ayah anak dan kependudukan.

Kadang terjadi kerancuan dalam melihat indikasi keislaman, terdapat kontradiksi antara syahadat yang dia ucapkan dengan amalannya. Maka saat itu diambil petunjuk yang paling kuat.

Dari semua indikasi keislaman, ucapan lailahaillallah merupakan indikasi keislaman paling kuat bagi seseorang kecuali bila terdapat pembatal keislaman. Seperti orang yang mengucapkan lailahaillallah tetapi sujud pada berhala, mencela Allah atau rasul. Saat itu tidak bermanfaat ucapan lailahaillallah. Islam bukan hanya ucapan lailahaillallah saja tanpa memenuhi syarat-syarat lainnya.

Seorang menjadi muslim dengan mengucapkan kalimat lailahaillallah serta memenuhi syarat-syarat lahir maupun batin seperti tunduk pada Allah dan rasul-Nya. Makna kalimat tauhid lailahaillallah adalah keikhlasan ibadah seseorang pada Allah saja serta menafikan peribadatan pada selain-Nya.

Ibadah tidak berhak dipersembahkan pada selain-Nya. Menjadikan Allah sebagai ilah maknanya ta’abud (peribadatan) dan ta’abud dibangun di atas penerimaan dan ketundukan total tanpa boleh sedikit pun pembangkangan. Allah berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa: 65)

Ayat ini mengandung susunan ibadah sebagaimana dikatakan oleh ahli ilmu yaitu ibadah yang termotivasi dengan cinta dan takut. Cinta dibangun dengan dua perkara yaitu; kesempurnaan cinta pada dzat Allah dan cinta Allah karena kebaikan-Nya pada hamba.

Sedangkan takut juga dibangun dengan dua perkara; takut karena keagungan Allah dan takut karena siksa-Nya. Takut karena keagungan Allah akan membuat seseorang malu berbuat maksiat yang bisa membuat Allah murka bukan karena ancaman siksa-Nya.

Hadits Abu Hurairah ini menjelaskan mengenai tujuan jihad ofensif, perang ofensif dan metodologi dakwah tauhid yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khalifahnya. Yaitu mereka menawarkan Islam dan tanda masuk Islam dengan mengucapkan syahadat. Kemudian menerangkan tentang hak kalimat ini diantarannya shalat dan zakat.

Keempat bangunan Islam ini yaitu syahadat lailahaillallah, syahadat Muhammad Rasulullah, shalat dan zakat merupakan pilar kesahihan Islam seseorang, menurut pendapat para sahabat utama. Tanpa keempat pilar tersebut, keislaman seseorang tidak sah.

Kalimat:

فَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Barang siapa mengucapkan laa ilaaha ilallah, berarti ia telah menjaga darah dan jiwanya dariku kecuali karena alasan yang dibenarkan syariat, dan perhitungannya kembali pada Allah.”

Menunjukkan bahwa asal jiwa dan harta itu mubah tanpa tauhid, bahwa harta mereka yaitu orang-orang musyrikin yang menentang tidak terjaga sebagaimana jiwa mereka. Kemubahan ini tetap berlangsung meskipun tidak terjadi peperangan selama masih ada penyebab yang mewajibkan perang yaitu kekafiran. Hadits ini hanya membicarakan mengenai hukum perang kepada kaum musyrikin secara asal dan tidak membahas tentang penghalang perang lainnya seperti dzimah dan perjanjian damai.

Kalimat:

بِحَقِّهِ

“Hak-Nya (alasan yang dibenarkan syariat).”

Yaitu kalimat lailahaillallah tidak menjaga seseorang dari pembunuhan selamanya tetapi terjaga diawal selama masih ada penghalang.

Kalimat:

وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Dan perhitungannya kembali pada Allah.”

Menyerahkan persolan batin kepada Allah karena syariat dan hukum-hukumnya di dunia berdasar lahiriah. Maka tidak diperkenankan menyelidiki apa yang di hati manusia selama tidak tampak indikasinya. Jika tampak lahiriah yang jelas maka diutamakan daripada kilah alasannya seperti zindiq dan lainnya yang mengaku Islam tetapi secara bersamaan lahiriahnya menyelisihi.

7 Dzulqadah 1441 H / 28 Juni 2020