Arbain Al-Jiyad Hadits 1: Perintah Jihad Ofensif, Tujuan dan Sebab disyariatkannya

Penulis

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan laa ilaaha illallah. Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha ilallah, berarti ia telah menjaga darah dan jiwanya dariku kecuali karena alasan yang dibenarkan syariat, dan perhitungannya kembali pada Allah.” (Al-Bukhari)

Dalam hadits mulia ini terdapat delapan masalah pembahasan.

 

Masalah 1

Hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu ini merupakan asas paling agung dalam bab tauhid dan jihad karena menerangkan tujuan perang serta alasan disyariatkannya perang dalam Islam yaitu membumikan kalimat tauhid dan syariat Allah ta’ala.

 

Masalah 2

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan laa ilaaha illallah.”

Terdapat dua bentuk perang; perang yang merupakan fitrah, tabiat serta insting manusia dan perang yang bukan fitrah manusia.

Perang yang merupakan fitrah manusia bagian dari tabiat alaminya yaitu insting pertahanan diri melindungi harta dan kehormatannya serta insting melindungi apapun yang dia miliki. Usaha defensif dari kezaliman agresor merupakan salah satu dari fitrah suci manusia.

Sedangkan bentuk perang “al-qital/ofensif” dalam hadits ini bukanlah perintah yang dipahami manusia sebagai fitrah, tabiat dan instingnya. Perang bentuk ini tidak akan bisa dilaksanakan oleh jiwa kecuali dengan suatu tahrid ilahi (motivasi ilahi yang mengobarkan semangat) tamak mencari pahala. Sebab itulah Allah ta’ala berfirman mengenai bentuk perang ini:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan ancaman bagi siapa pun yang meninggalkan bentuk perang ini dalam sabdanya:

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

"Barang siapa mati, sedang ia tidak pernah berjihad dan tidak mempunyai keinginan untuk jihad, ia mati dalam satu cabang kemunafikan." (Muttafaq alaih)

Perintah dalam hadits adalah perintah perang dengan tujuan menyebarkan Islam dan syariatnya. Perintah perang ini datang secara prinsip tanpa ada sebab apapun, yaitu meskipun tidak ada agresi militer dari musuh selama masih ada kekafiran di muka bumi.

 

Masalah 3

أُمِرْتُ

“Aku diperintahkan.”

Kalimat ini menunjukkan atas wajibnya perang sebagaimana disepakati oleh umat Islam terdahulu, yaitu jihad yang wajib bagi imam atau amir yang mengumumkan perang. Menunjukkan pula bahwa perang bentuk ini merupakan hak Allah semata, tidak ada bagian hak bagi hamba. Sedangkan bentuk perang lain yaitu defensif merupakan hak hamba.


Masalah 4

أَنْ أُقَاتِلَ

“Untuk memerangi.”

Perang bentuk ini disyariatkan tanpa harus ada kezaliman dari musuh atau serangan. Perang ini adalah perang yang dimulakan dengan dakwah dan penegakkan hujah umum pada seluruh bangsa kafir setelah itu barulah dilancarkan serangan hingga hancur kekuatan mereka dan tunduk pada hukum Islam atau sebelum itu mereka tunduk dengan membayar jizyah.

 

Masalah 5

حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Hingga mereka mengucapkan laa ilaaha illallah.”

Hatta menunjukkan akhir tujuan peperangan, yaitu berhenti ketika kaum kufar masuk Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat lailahaillallah. Perang juga dihentikan ketika dikenali dengan indikasi keislaman seperti shalat, memakan sembelihan muslim. Dikenali pula dengan indikasi turunan seperti ayah anak dan kependudukan.

Kadang terjadi kerancuan dalam melihat indikasi keislaman, terdapat kerancuan antara ucapannya dengan indikasi. Maka pada saat itu diambil petunjuk yang paling kuat. Dari semua indikasi keislaman, ucapan lailahaillallah merupakan indikasi keislaman paling kuat bagi seseorang kecuali bila terdapat pembatal keislaman. Seperti orang yang mengucapkan lailahaillallah tetapi sujud pada berhala, mencela Allah atau rasul. Maka pada saat itu tidak bermanfaat ucapan lailahaillallah. Islam bukan hanya ucapan lailahaillallah saja, tetapi ucapan lailahaillallah sebagai syarat keislaman. Seorang menjadi muslim dengan mengucapkan kalimat lailahaillallah serta memenuhi syarat-syarat lahir maupun batin seperti tunduk pada Allah dan rasul-Nya. Allah berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (An-Nisa: 65)

Hadits Abu Hurairah ini menjelaskan mengenai tujuan jihad, perang dan metodologi dakwah tauhid yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khalifahnya. Yaitu mereka menawarkan Islam dan tanda masuk Islam dengan mengucapkan syahadat. Kemudian menerangkan tentang hak kalimat ini diantarannya shalat dan zakat.

Keempat bangunan Islam ini yaitu syahadat lailahaillallah, syahadat muhammad Rasulullah, shalat dan zakat merupakan pilar kesahihan Islam seseorang, menurut pendapat para sahabat utama. Tanpa keempat pilar tersebut, keislaman seseorang tidak sah.

Makna kalimat tauhid lailahaillallah adalah keihlasan ibadah seseorang pada Allah saja serta menafikan peribadatan pada selain-Nya. Ibadah tidak berhak dipersembahkan pada selain-Nya. Menjadikan Allah sebagai ilah maknanya ta’abud (peribadatan) dan ta’abud dibangun di atas penerimaan dan ketundukan total tanpa boleh sedikit pun pembangkangan. Allah berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa: 65)

Ayat ini mengandung susunan ibadah sebagaimana dikatakan oleh ahli ilmu yaitu ibadah yang termotivasi dengan cinta dan takut. Cinta dibangun dengan dua perkara yaitu; kesempurnaan cinta pada dzat Allah dan cinta Allah karena kebaikan-Nya pada hamba.

Sedangkan takut juga dibangun dengan dua perkara; takut karena keagungan Allah dan takut karena siksa-Nya. Takut karena keagungan Allah akan membuat seseorang malu berbuat maksiat yang bisa membuat Allah murka bukan karena ancaman siksa-Nya.

 

Masalah 6

فَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Barang siapa mengucapkan laa ilaaha ilallah, berarti ia telah menjaga darah dan jiwanya dariku kecuali karena alasan yang dibenarkan syariat, dan perhitungannya kembali pada Allah.”

Menunjukkan bahwa asal jiwa dan harta itu mubah tanpa tauhid, bahwa harta mereka yaitu orang-orang musyrikin yang menentang tidak terjaga sebagaimana jiwa mereka. Meskipun tidak ada terjadi perang tidak menggugurkan kemubahan jiwa dan harta selama masih ada penyebab yang mewajibkan perang yaitu kekafiran. Hadits ini membicarakan mengenai hukum perang kepada kaum musyrikin secara asal dan tidak membahas tentang penghalang perang lainnya seperti dzimah dan perjanjian damai.


Masalah 7

بِحَقِّهِ

“Hak-Nya (alasan yang dibenarkan syariat).”

Yaitu kalimat lailahaillallah tidak menjaga seseorang dari pembunuhan selamanya tetapi terjaga diawal selama masih ada penghalang.


Masalah 8

وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Dan perhitungannya kembali pada Allah.”

Menyerahkan persolan batin kepada Allah karena syariat dan hukum-hukumnya di dunia berdasar lahiriah. Maka tidak diperkenankan menyelidiki apa yang di hati manusia selama tidak tampak indikasinya. Jika tampak lahiriah yang jelas maka diutamakan daripada kilah alasannya seperti zindiq dan lainnya yang mengaku Islam tetapi secara bersamaan lahiriahnya menyelisihi.


7 Dzulqadah 1441 H / 28 Juni 2020

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.