Arbain Al-Jiyad Hadits 12: Sabar dan Yakin Selesaikan Misi Sampai Akhir Hayat

Submitted by admin on Sun, 10/04/2020 - 01:46
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَبِيْ مُوْسَى الأَشْعَرِيْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُ صَلَّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَى أَجْرٍ مَعْلُومٍ فَعَمِلُوا لَهُ إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا لَا حَاجَةَ لَنَا إِلَى أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ فَقَالَ لَهُمْ لَا تَفْعَلُوا أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا فَأَبَوْا وَتَرَكُوا وَاسْتَأْجَرَ أَجِيرَيْنِ بَعْدَهُمْ فَقَالَ لَهُمَا أَكْمِلَا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمَا هَذَا وَلَكُمَا الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنْ الْأَجْرِ فَعَمِلُوا حَتَّى إِذَا كَانَ حِينُ صَلَاةِ الْعَصْرِ قَالَا لَكَ مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ فَقَالَ لَهُمَا أَكْمِلَا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمَا مَا بَقِيَ مِنْ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ فَأَبَيَا وَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِمْ فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِمْ حَتَّى غَابَتْ الشَّمْسُ وَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ

Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam: “Perumpamaan kaum muslimin dibandingkan orang-orang yahudi dan nashrani seperti seseorang yang mempekerjakan kaum yang bekerja untuknya dalam sehari hingga malam dengan upah yang ditentukan. Maka diantara mereka ada yang melaksanakan pekerjaan hingga pertengahan siang lalu berkata: ‘Anda tidak perlu membayar kami sesuai dengan persyaratan anda kepada kami (bekerja hingga malam), biarlah pekerjaan kami sampai di sini.’ Maka orang itu berkata: ‘Jangan berhenti bekerja, selesaikanlah sisa pekerjaan lalu ambil upahnya dengan penuh.’ Tetapi mereka tetap tidak mau dan tidak melanjutkan pekerjaan mereka. Kemudian setelah itu dia mempekerjakan dua orang dan mengatakan pada keduanya: ‘Selesaikanlah pekerjaan yang tersisa waktunya ini dan bagi kalian akan mendapatkan upah sebagaimana yang aku syaratkan kepada mereka (pekerja sebelumnya).’ Maka mereka berdua mengerjakannya hingga ketika sampai saat shalat ashar keduanya berkata, ‘Bayar upah seperti yang kamu janjikan kepada kami.’ Maka dia berkata kepada keduanya: ‘(Saya tidak akan membayar) Selesaikanlah sisa pekerjaan kalian berdua yang tinggal sedikit ini.’ Namun kedua orang itu enggan melanjutkannya. Lalu orang itu mempekerjakan suatu kaum yang mengerjakan sisa hari. Maka kaum itu mengerjakan sisa pekerjaan hingga terbenam matahari dan mereka mendapatkan upah secara penuh termasuk upah dari pekerjaan yang sudah dikerjakan oleh dua golongan orang sebelum mereka. Itulah perumpamaan mereka dan yang menerima cahaya ini.”

Masalah 1

Dalam hadits tersebut Rasulullah shallallahu alaihi wassalam memberikan contoh mengenai permulaan dimulainya amal, perjalanannya dan penyelesaiannya. Ada tiga kelompok orang yang diupah mengerjakan membuat suatu bangunan. Kelompok pertama adalah yang pertama kali meletakkan pondasinya namun tidak mampu melanjutkan pekerjaan dan tidak menerima upah. Kemudian dilanjutkan oleh kelompok kedua melanjutkan pekerjaan sebelumnya, tetapi mereka juga tidak mampu menyelesaikannya dan tidak menerima upah.

Bangunan tersebut akhirnya diselesaikan oleh kelompok ketiga hingga selesai. Keistimewaan kelompok ketiga ini mereka menerima upah secara penuh termasuk upah kelompok sebelum mereka.

Kelompok pertama dan kedua gagal dalam menjalankan misi. Tidak mendapatkan hasil apapun atas jerih payah mereka kecuali hanya kelelahan dan kepenatan. Pekerjaan mereka dinilai menjadi sia-sia karena putus ditengah jalan.

Sebab itu merawat amal agar sampai pada tujuan kedudukannya sama penting dengan memulai amal. Konsistensi dalam beramal dengan kadar kesemangatan amal ketika dahulu memulai harus senantiasa dipelihara. Tetapi jika kesemangatan tersebut hanya di awal kemudian dalam perjalanannya terjadi inkonsistensi, melemah dan patah semangat maka jerih payah yang sudah dirintis sepanjang perjalanan akan hilang lenyap.

Tabiat jiwa manusia itu semangat ketika memulai suatu amal tetapi kemudian dalam perjalanan kualitas dan kuantitasnya menurun dan melemah. Terdapat beberapa penyebab hal ini diantaranya:

Pertama: Minimnya kesadaran pada apa yang akan dihadapi dari kelelahan, kesusahan dan risiko penderitaan. Mereka hanya melihat pada keindahan penerimaan serta janji pahala dari amal tersebut. Bekalnya hanya semangat membara dan emosi. Saat menerima kepahitan dan rintangan menjadi mundur dan berbalik.

Kedua: Amal tersebut pada awalnya diterima dan dilakukan oleh banyak orang. Kemudian dalam perjalanan orang-orang yang beramal mulai berkurang dan sedikit. Dia memilih mundur karena orang lain juga mundur.

Ketiga: Tertimpa kemalasan dalam beramal atau putus asa. Kemalasan itu menimpa iradah dan amal sedang putus asa terjadi karena tidak kunjung sampai tujuan sebab panjangnya perjalanan. Semuanya ini dari penyakit hati dan tidak ada ketsiqahan pada al-haq dalam dirinya.

Masalah 2

Mereka yang mampu menyelesaikan amal sampai selesai serta merampungkan misi hanyalah orang yang memiliki kesabaran tinggi dan kesungguhan. Allah ta’ala berfirman:

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Dan tidaklah mampu mencapai pada hasil yang terpuji ini melainkan orang-orang yang sabar dan tidaklah mampu mencapai pada hasil yang terpuji ini melainkan orang-orang yang memiliki kesungguhan. (Fushilat: 35)

Bahan bakar sabar adalah tsabat (teguh) seperti firman Allah ta’ala:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (As-Sajdah: 24)

Kesabaran semakin kuat dengan tsabat sedangkan keyakinan akan menjadi semakin kuat dengan cita-cita. Kehilangan kesabaran merupakan penyakit hati. Tidak ada obat untuk menyembuhkannya selain tsiqah di atas al-haq serta tidak menyesal atas kehilangan syahwat duniawi.

Aktivis Islam yang beramal untuk dinullah ta’ala dari mujahidin, ulama dan para dai membutuhkan sabar dan yakin lebih banyak dari orang lain. Karena perjalanan yang akan ditempuh sangat jauh selama kehidupannya sampai mati. Sebuah episode langkah-langkah kaki yang dihiasi dengan kesusahan dan penderitaan. Berbagai macam ujian yang menimpa badan, akal dan beragam makna yang tidak mampu diungkapkan.

Agar dapat memahami hal ini tidak bisa kecuali dengan hati. Allah ta’ala berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqarah: 214)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa pertolongan, kemudahan serta kemenangan tidak dapat diraih sampai melewati puncak ujian. Allah ta’ala berfirman mengenai tiga sahabat yang tertinggal pada perang Tabuk:

حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ

“Hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka.” (At-Taubah: 118)

Bila ujian semakin berat maka akan berjatuhan orang-orang yang tergabung dalam barisan. Tetapi pada saat yang sama juga akan bergabung kafilah baru dalam amal.

Siapa yang jatuh maka dia jatuh karena kebodohan dan syahwatnya. Siapa yang bergabung maka dia dia bergabung hanya karena akal dan hatinya menerima makna-makna yang halus lagi agung ini. Mereka yang mampu menyelesaikan amal hingga mati hanyalah orang yang memiliki dzu hadhin athim (kesungguhan).

Dinul Islam merupakan amal yang harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah, ia merupakan din yang berorientasi hanya pada akhirat. Para sahabat menjadi orang-orang pilihan yang mampu menyelesaikan misi hingga mati karena mereka beramal hanya untuk negeri akhirat. Karena itu Allah berfirman mengenai mereka:

إِنَّا أَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ

“Sesungguhnya Kami telah mengkhususkan mereka untuk ikhlas beramal kepada negeri akhirat.” (Shad: 46)

Masalah 3

Hadits ini peringatan bagi aktivis Islam untuk tidak mundur sebelum misi selesai, karena kegagalan misi menghancurkan amal yang dibangun dari awal. Betapa rugi seseorang beramal untuk janah tapi ketika hampir sampai tujuan dia berbalik beramal amalan penghuni neraka.

Dalam kehidupan sekitar kita, betapa banyak kita melihat orang-orang yang memulai perbuatan baik, beragama dan menolong al-haq serta terluka ketika menyerukan al-haq sampai kita mengira mereka adalah pewaris-pewaris estafet perjuangan hingga manusiapun mencintainya. Kemudian dalam perjalanannya terjadilah penyimpangan di tengah rute dengan memungut emas di kanan dan kiri perjalanan.

Terdapat isyarat dalam hadits bahwa perintis yang memulai amal tidak dipuji kalau mereka gagal dalam perjalanan. Keutamaan para perintis apabila mereka tsabat sampai mereka wafat. Sedangkan pedagang sejarah yang sebelumnya memusuhi ahlul batil lalu telungkup dalam kubangan dunia maka celaan bagi mereka lebih besar dari orang selainnya karena mereka mengenal al-haq lalu berpaling.

Perjalanan riak riuh perjuangan memberitahu kita tingginya nilai hadits ini yaitu susahnya mencapai titik akhir dan beratnya jiwa menemaninya. Karena cita-cita dapat lelah seperti lelahnya jasad. Cita-cita dapat lelah seperti badan bisa penat. Seseorang perlu mengupdate cita-citanya seperti jasad memerlukan suplemen, bukan hanya asupan makanan pokok.

Suplemen cita-cita diraih dengan cara melakukan tazdkirah, bermajlis dengan teman seperjuangan dan duduk bermajlis bersama anak-anak muda karena mereka memiliki kekuatan, penerimaan dan hidayah. Mereka memiliki hati yang baru dan cita-cita orang sebelumnya.

Ahlul jihad adalah kelompok prioritas memperhatikan hadits ini karena kemenangan itu akan diraih bersama kesabaran. Seperti pada perang Hunain ketika 12 ribu pasukan tidak bermanfaat sebab tidak sabar. Kehancuran pasukan berbalik menjadi kemenangan saat Rasulullah shallallahu alaihi wassalam beserta pasukan yang tidak lebih dari seratus personal tsabat dan sabar bertahan. Maka tercapai kemenangan dan apa yang dicintai oleh Allah, Rasul-Nya serta kaum mukminin.

Dari sini, waspadalah pada kelalaian, memandang remeh amalan dan berputus asa. Betapa banyak kemenangan yang hendak dicapai tetapi kemudian lalai dan meremehkan berbalik mengakibatkan kehancuran. Dan betapa banyak kehancuran kemudian dihadapi dengan jiwa pantang menyerah serta yakin mencapai kemenangan menghasilkan penguatan dan kemenangan. Kemudian hendaknya mujahid jangan meninggalkan prinsip juang dalam perjalanan kehidupannya dan meletakkan senjata karena itu akan menghilangkan pahala dan keutamaannya.

Dalam hadits menyebutkan mengenai keutamaan generasi penerus jika dia melanjutkan amal hingga selesai. Perlu dipahami bahwa mayoritas generasi penerus kurang memahami makna-makna amal yang telah dirintis oleh pendahulu, tetapi tatkala mereka mencapai makna iman dan amal mereka mendapatkan kebaikan sempurna. karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:

سْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا

“Mereka mendapatkan upah secara penuh termasuk upah dari pekerjaan yang sudah dikerjakan oleh dua golongan orang sebelum mereka.”

16 Safar 1442 H / 4 Oktober 2020