Arbain Al-Jiyad Hadits 13: Keseimbangan Merupakan Syarat Kemenangan

Submitted by admin on Sun, 10/11/2020 - 13:12
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setan mengikat tengkuk kepala setiap dari kalian saat tidur dengan tiga tali ikatan. Setiap ikatan dikatakan padanya; ‘Bagimu malam yang panjang, tidurlah nyenyak.’ Apabila dia bangun dan mengingat Allah maka lepaslah satu tali ikatan. Jika kemudian dia berwudhu maka lepaslah tali yang lainnya dan bila ia mendirikan shalat lepaslah seluruh tali ikatan dan pada pagi harinya ia akan merasakan semangat dan merasakan keharuman jiwa. Namun bila dia tidak melakukan seperti itu, maka pagi harinya jiwanya merasa buruk dan menjadi malas beraktifitas.”

Masalah 1

Salah satu makar setan yang rutin dilakukan pada manusia mencegahnya melakukan amal shalih dan bersemangat beramal. Menjerat melalui pintu kemalasan sehingga seorang muslim kehilangan inisiatif dan efektivitas beramal.

Bahkan setan merusak amalan tersebut di awal waktu. Setan mencurinya sebelum manusia melakukannya. Ketika seorang muslim merasa malas, maka dia akan menunda beramal. Dia menyangka umurnya masih panjang dan bisa dikerjakan suatu saat nanti. Terkadang pula, dia mampu membebaskan dirinya dari rasa malas di awal waktu, tetapi kemudian dia meninggalkan amal di pertengahan dan berhenti dari apa yang tengah dikerjakan.

Tetapi rumusnya adalah; bila amalan itu rusak di awal maka hasil akhirnya juga akan rusak. Kunci dari keberkahan dan keberhasilan amalan adalah di awal waktu amal tersebut dikerjakan.

Amal shalih tidak akan bisa dikerjakan kecuali dengan iradah kuat yang menyingkirkan penundaan. Selain iradah juga diperlukan perhatian pada amalan tersebut sampai ia bisa menyelesaikannya sebab setan akan turut campur menggelincirkannya pada hawa nafsu sehingga kekuatan iradahnya untuk beramal shalih menjadi hilang.

Masalah 2

Tidur suatu mekanisme manusia untuk merehatkan badan agar nanti bisa segar dan giat kembali beraktivitas. Tetapi tidur itu bisa berubah menjadi nafsu ketika melakukannya terlalu lama. Akhirnya menjadi malas beramal saat bangun yang kemudian membuatnya menunda amal. Inilah yang disebut; setan merusak amal di awal waktu.

Dalam hadits ini, setan memiliki rutinitas bagaimana membuat setiap orang itu malas beramal. Pekerjaan wajib yang dilakukan pada semua orang yang tidur yaitu mengikat tengkuknya dengan tiga ikatan yang sangat kuat.

Ikatan setan terdiri dari tiga ikatan, bukan hanya satu ikatan. Apa yang dilakukan setan merupakan proses instalasi ikatan. Setiap ikatan menggunakan cara mengikat tali yang kuat dan itu diulangi tiga kali sehingga menjadi sulit dilepaskan.

Perbuatan setan tersebut mengikuti tabiat kehidupan, yaitu berdiri di atas suatu proses dan instalasi. Harus ada suatu mekanisme yang berulang sehingga usaha itu menjadi kuat. Setan bukan hanya meletakkan tali pada tengkuk orang yang tidur. Bukan hanya mengikat dengan sebuah ikatan yang lemah. Tapi terdapat suatu instalasi dan proses pengulangan.

Maka tidak ditemukan di dunia ini sesuatu yang mampu berdiri sendiri tanpa proses lainnya. Sama saja pada amalan kebaikan maupun kejahatan. Sebab itu melakukan suatu usaha tidak bisa hanya dengan sebuah proses saja tetapi memerlukan proses pengulangan.

Setan mengetahui makarnya tidak akan berhasil kecuali dengan mengetahui sunah kehidupan yang memerlukan proses pengulangan. Padahal untuk memadharatkan manusia, dan hal tersebut tetap memerlukan suatu proses pengulangan agar usaha jahatnya berhasil.

Setan bukan hanya mengikat, tetapi juga membisikkan dua kalimat pada manusia ketika tidur. Setiap proses ikatan setan mengatakan:

“Bagimu malam yang panjang, tidurlah nyenyak.”

"Bagimu malam yang panjang, adalah ikatan pada waktu sedangkan "Tidurlah nyeyak, adalah ikatan pada jiwa manusia.

Sehingga manusia bangun akan malas beraktivitas sebelum ikatan tersebut lepas.

Masalah 3

Ikatan setan tersebut harus dihancurkan agar mukmin dapat beramal shalih dengan giat kembali. Namun menghancurkan ikatan juga memerlukan proses mengurai tali ikatan. Tidak bisa hanya digunting karena demikian kuat ikatan tersebut sebab melalui sebuah proses.

Demikian pula pada seluruh kejahatan dan keburukan, untuk menghancurkannya memerlukan suatu proses penguraian sampai mencapai keseimbangan. Setan mengikat manusia dengan tiga ikatan, maka Rasulullah shallallahu alaihi wassalam memerintahkan mengurainya juga dengan tiga proses; yaitu berdzikir, berwudhu dan shalat.

Proses penguraian keburukan sampai terjadi keseimbangan merupakan syarat menghancurkan keburukan. Sayangnya syarat ini jarang diperhatikan oleh aktivis Islam. Sangkanya, hanya dengan beramal shalih saja cukup untuk mewujudkan kejayaan. Ini merupakan kesalahan mindset para aktivis dinullah untuk mewujudkan kemenangan dan hidayah.

Untuk mencapai keseimbangan harus terpenuhi dua hal: usaha berterusan dan takaran. Sebagaimana petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wassalam pada sahabat yang menderita diare untuk mengonsumsi madu. Namun kemudian utusan si sakit tersebut menyampaikan belum sembuh dan ini terjadi berulang kali. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wassalam memerintahkan untuk terus meminum madu dan menambah dosisnya kemudian dia sembuh.

Artinya hanya dengan madu tidak cukup menjadi obat bagi sebagian penyakit tetapi harus ada keseimbangan antara obat dan penyakit. Hanya dengan madu saja tidak bisa langsung memberikan kesembuhan dengan berdalil:

فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ

“Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (An-Nahl: 69)

Tetapi harus mengikuti sunatullah yaitu terjadinya keseimbangan. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah menerangkan kaidah ini dalam At-Thibun Nabawi. Suatu penyakit akan sembuh apabila terjadi keseimbangan obat, yaitu dengan memberikan obat yang berterusan dan sesuai dosis.

Maknanya hanya dengan dzikir saja tidak mampu untuk melepaskan seluruh ikatan setan. Tetapi harus diikuti dengan proses melepaskan ikatan selanjutnya dengan wudhu dan shalat. Bila semua ini dilakukan maka seluruh ikatan setan akan terlepas sempurna karena terjadi keseimbangan.

Masalah 4

Kaidah keseimbangan ini juga berlaku pada amal jama’i. Dalilnya adalah kisah penghuni gua yang terjebak oleh batu yang menutup pintu gua. Pintu tersebut baru terbuka setelah ketiga orang tersebut berdoa. Hanya dengan doa salah satu dari mereka saja tidak cukup untuk membuat pintu tersebut terbuka. Setiap dari mereka mewujudkan jalan keluar sesuai dengan kadar doa mereka. Inilah yang disebut keterkaitan satu dengan yang lainnya.

Aturan dan sunatullah ini harus dipahami dalam jihad, dakwah dan juga doa serta semua amalan dunia atau akhirat. Kegagalan memahami kaidah ini membuat kita tidak bisa memahami takdir Allah dan janji serta syariat Allah ta’ala.

Ada pertanyaan, mengapa hasil tidak bisa diraih padahal syaratnya telah dipenuhi? Bukankah sunatulah telah menetapkan bahwa bila terpenuhi syaratnya maka kemenangan akan diperoleh.

Jawabannya adalah; seperti kisah tiga orang yang terjebak dalam gua. Hanya dengan sebuah doa saja tidak bisa mencapai tujuan, tetapi harus ada keseimbangan. Sehingga hanya dengan jihad saja tidak akan bisa diraih kemenangan tetapi harus ada keseimbangan. Salah satu syaratnya yaitu mu’adalah mawani’ (keseimbangan dengan menghilangkan penghalang-penghalangnya).

Teori ini disampaikan oleh Ibnu Hazm rahimahullah bahwa kecukupan kekuatan adalah lancarnya pelaksanaan tanpa adanya penghalang. Namun jika masih ada penghalang-penghalang maka tidak akan mencapai kekuatan yang cukup disebabkan terdapat sesuatu yang melemahkan kekuatan itu.

Kemalasan, penyimpangan pemikiran dan perbuatan sesat merupakan bagian penghalang keseimbangan. Sehingga apabila persoalan-persoalan tersebut tidak bisa diatasi tidak akan mencapai kecukupan kekuatan.

Masalah 5

Rasulullah shallalahu alaihi wassalam bersabda:

فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ

“Maka pada pagi harinya ia akan merasakan semangat dan merasakan keharuman jiwa.”

Ketika manusia dapat terbebas dari seluruh ikatan setan tersebut, dia bukan hanya terbebas dari belenggu kemalasan lebih dari itu dia akan mampu melakukan amalan lainnya. Sehingga dia berhasil membangun efektivitas amal shalih yang banyak dan baik.

Dengan amalan dzikir, wudhu dan shalat akan membuahkan amalan-amalan lainnya. Inilah rumus keteraturan dan ketersusunan kehidupan. Setiap amal perbuatan membutuhkan syarat dan setiap tindakan membutuhkan kondisi yang mengelilingi dan menyertainya.

Karena itu, tidak ditanyakan mengapa kita belum menang? Hal ini seperti kita tidak boleh menanyakan amal shalih yang tidak mewujudkan hasil tujuan akhir. Sebab hasil merupakan buah dari proses kumpulan-kumpulan amal yang panjang. Belum tampaknya hasil bukan berarti kegagalan namun hanyalah sebuah proses yang belum cukup waktunya untuk menunjukkan hasil.

Pohon besar tidak akan tumbang dengan satu gigitan semut kecil. Tetapi gigitan itu merupakan proses tahapan untuk menghancurkan pohon. Sebab itu orang yang bangun tidur tidak boleh bertanya: “Apa manfaatnya dzikir apabila tidak bisa membuka semua ikatan setan?”

Dzikir adalah tahapan pertama untuk membuka seluruh ikatan tersebut. Tanpa tahapan ini, hasil dari membebaskan diri dari ikatan setan tidak akan sempurna. Sebuah keberhasilan dihasilan dari proses dan tahapan-tahapan amal yang panjang,

Hadits mulai ini membuat kita dapat memahami hikmah kehidupan dan sunatullah memahami dinullah, bahwa kegagalan-kegagalan amal merupakan suatu percobaan untuk memantapkan hikmah dalam hati dan akal. Kegagalan adalah suatu proses menuju keberhasilan.

Setan mengetahui, bila proses ikatan yang dia lakukan dengan susah payah dapat terbuka dengan dzikir, wudhu dan shalat. Tetapi apakah setan putus asa lalu tidak mengikat tengkuk orang tidur jika hasilnya adalah kegagalan?

Jawabannya ini diketahui semua orang. Setan terus menerus mengikat orang yang tidur. Tetapi mengapa orang Islam justru malah putus asa memeranginya setiap subuh, setiap hari dan setiap saat? Inilah masalahnya. Sehingga setiap hari kita dituntut untuk mujahadah, sabar, dzikir, tsabat, mengambil pelajaran, tafakur dan menuntut ilmu. Allah ta’ala berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Al-Insyirah: 7)

23 Safar 1442 H / 11 Oktober 2020