Arbain Al-Jiyad Hadits 14: Janji Allah Terwujud Apabila Kita Selalu Memelihara Doa tanpa Putus

Submitted by admin on Sat, 10/17/2020 - 07:03
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Doa kalian akan diijabahi selagi tidak terburu-buru ingin dikabulkan, yaitu dengan mengatakan; ‘Aku telah berdoa, namun doaku tidak kunjung dikabulkan.’”

Masalah 1

Dalam memahami masalah dikabulkannya doa sesuai janji Allah ta’ala dalam Al-Quran dan hadits, diperlukan pemahaman mengenai kaidah keseimbangan hukum sunatullah. Contohnya seperti berikut:

Manusia pasti tumbuh berkembang dari awal penciptaannya berupa satu sperma sampai tumbuh menjadi zigot dan seterusnya lahir menjadi bayi. Selanjutnya maka dia mengalami perkembangan pertumbuhan hingga maut menjemput. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan aktivitas jasad yang berjalan terus menerus dan berkesinambungan, ini merupakan sunatullah. Tidak ada manusia yang langsung dari bayi menjadi dewasa, tetapi harus melalui proses.

Seluruh makhluk dari manusia, hewan dan tumbuhan berkembang mengikuti prinsip tersebut. Menumbuhkan benih tidak bisa hanya dengan sekali menyiramnya dengan satu ton air. Tetapi harus mengikuti sunatullah yang telah Allah tetapkan. Menyiramnya setiap hari dengan volume air terukur dengan kadar pertumbuhannya akan membuat benih tersebut tumbuh menghasilkan sesuai keinginan.

Menyelisihi aturan sunatullah dengan menyiram benih satu ember besar justru hanya membuat benih tersebut rusak. Inilah yang disebut istijal (ketergesaan). Tidak mengikuti aturan sunatulah merupakan penyakit istijal. Apabila penyakit ini berkumpul dengan penyakit putus asa akan membuat semuanya menjadi hancur dan rusak.

Demikian pula dalam proses penyembuhan si sakit. Agar sehat kembali, perlu sebuah proses pengobatan yang terus menerus sampai sembuh. Obat dan dosis disesuaikan dengan kebutuhan si sakit. Merupakan sunatullah bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan proses terus menerus sampai didapatkan keseimbangan. Sehingga dipahami, perkara yang terjadi di alam semesta ini tidak akan terwujud kecuali memenuhi syarat terjadinya keseimbangan antara permulaan dan akhir, antara start dan finish.

Prinsip tersebut juga berlaku pada hukum-hukum syariah. Untuk mewujudkannya harus terpenuhi keseimbangan dengan melakukan doa terus menerus sampai teraktualisasi. Perkara ini harus lebih dipahami oleh aktivis dinullah seperti mujahidin, ulama dan dai daripada orang biasa lain. Banyak ilmu-ilmu syari yang telah mereka kuasai tetapi kebutuhan lainnya adalah memahami sunatullah prinsip keseimbangan yang berlaku baik di alam semesta maupun alam ghaib.

Beramal hingga terjadi keseimbangan merupakan perwujudan cinta pada Allah dengan menjalankan perintah-Nya. Maka perintah-perintah-Nya akan merealisasikan cinta ilahi sedang takdir-Nya merealisasikan janji seperti firman Allah:

وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا ۖ نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ

“Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya).” (As-Shaf: 13)

Sebagian aktivis menyangka, janji Allah yang ghaib akan terwujud hanya dengan melalui qudrah ilahiyah tanpa melalui hukum-hukum sunatullah. Sangkanya, alam ghaib akan terwujud hanya melalui qudrah ilahiyah tanpa melalui sunah ini. Sunatullah dianggap hukum khusus bagi kehidupan dunia tanpa ada kaitannya dengan hal ghaib dan hubungan langit.

Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan Dia mampu untuk menciptakannya hanya dengan satu kata “jadilah.” Namun segala sesuatu Allah ciptakan melalui hukum sunatullah. Terjadinya proses terus menerus yang melewati waktu-waktu dalam penciptaan langit dan bumi.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya:”kun (jadilah)“, maka jadilah ia.” (An-Nahl: 40)

Dipahami dari ayat ini, perbuatan ilahi tidak terjadi kecuali melalui hukum sunatulah. Segala perbuatan mesti harus melalui sunatullah dan itu melalui waktu untuk terwujudnya. Diakhirkan terwujudnya bukan berarti menunjukkan tidak adanya wujudnya.

Gambarannya seperti buah mangga. Untuk menjadi matang sempurna dia harus terlebih dahulu menjadi bakal buah yang sangat kecil. Meskipun demikian, bakal buah itu sudah mengikat sangat kuat pada tangkai dan dahan. Ketika bakal buah itu menghijau, petani paham jika bakal buah itu suatu ketika nanti akan besar dan matang. Maka meskipun masih sangat kecil buahnya, dia terus memeliharanya sampai buah tersebut bisa dipanen.

Artinya, diperlukan sebuah proses yang melewati waktu tertentu agar terwujudnya buah yang matang sempurna. Diakhirnya kematangannya bukan berarti menunjukkan tidak ada buahnya. Tetapi butuh suatu proses tahapan yang mengikuti hukum sunatullah yang telah Allah tetapkan.

Demikianlah orang yang beramal pada dinullah, dia yakin pada janji ilahi, janji yang ada dalam ilmu ghaib. Dia terus memelihara janji tersebut sampai tumbuh dan diperoleh sempurna. Belum terwujudnya janji Allah bukan berarti janji itu tidak ada, tetapi memerlukan suatu proses mengikuti hukum sunatullah.

Allah yang tidak pernah menyelisihi janji telah berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

“Dan Rabbmu berfirman: ’Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir 60)

Allah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (Al-Baqarah: 186)

Maka untuk mengaktualisasikan janji Allah tersebut, hamba harus terus menerus memelihara doanya dengan meningkatkannya dan bersungguh-sungguh serta banyak meminta dengan mencari waktu-waktu dan tempat mustajab sampai mencapai hasil diharapkan yaitu dengan terealisasinya janji Allah. Sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ

“Doa kalian akan diijabahi.”

Masalah 2

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“Dia mengatakan: ‘Aku telah berdoa, namun doaku tidak kunjung dikabulkan.’”

Allah telah berjanji, doa pasti dikabulkan. Namun kadang seseorang merasa doanya tidak dikabulkan Allah, padahal sebenarnya Allah telah mengabulkannya. Hanya saja dia tidak mengetahui jika Allah telah mengabulkan permintaanya.

Seperti orang yang berdoa meminta anak. Dia merasa Allah tidak mengabulkan permohonan tersebut. Padahal bisa jadi tanpa dia sadari, Allah telah mengabulkannya tetapi anak tersebut kemudian gugur dalam usia beberapa minggu yang keluar dalam bentuk darah. Istrinya mengira bahwa itu darah haid atau istihadah. Mereka tidak tahu kalau Allah telah mengabulkannya, tetapi Allah mempercepat pemberiannya dan mengambilnya kembali tanpa mereka sadari.

Contoh lainnya seperti orang yang tidak dikabulkan doanya diawal waktu karena dia tidak menyempurnakan doanya. Seandainya dia terus memelihara doanya tentu dia akan mencapai hasil dengan tercapainya kesempurnaan takdir ilahi yang dicintai manusia.

Seandainya pada kisah tiga orang yang terjebak dalam gua itu berkata: “Doa teman kita yang pertama tidak dikabulkan Allah”. Lalu keduanya tidak berdoa maka mereka tidak akan keluar dari gua selamanya. Padahal sebenarnya Allah telah mengabulkan dengan membuka batu itu sedikit. Ketika semua orang berdoa maka Allah diraih hasil yang mereka inginkan, pintu gua terbuka. Inilah makna hadits:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ

“Doa kalian akan diijabahi selagi tidak terburu-buru ingin dikabulkan.”

Maksudnya; doa setiap kalian akan dikabulkan apabila memelihara doa tersebut. Bila ia terus menjaganya maka akan terwujud tetapi bila tidak maka hanya doa hanya dikabulkan pada awal saja tetapi tidak mampu untuk mencapai tujuan yang dia inginkan. Seperi bakal buah, jika petani tidak memelihara bakal buah tersebut dia tidak akan menjadi matang padahal sudah berwujud buah.

Demikian pula penundaan dikabulkannya doa tidak mesti karena tidak adanya pemeliharaan doa tetapi dikabulkannya menunggu waktu yang tepat mengikuti mekanisme sunatullah seperti yang terjadi pada Yusuf alaihissalam. Dia telah melihat mimpi yang benar, namun untuk merealisasikan Janji Allah dalam mimpinya perlu perbuatan-perbuatan yang mengawali dan perjalanan kehidupan yang panjang agar takwil tersebut terwujud. Allah tidak mengatur apapun di dunia ini tanpa melalui mekanisme sunatullah kecuali pada mukjizat dan karamah.

Maka yang sering terjadi, seseorang berdoa tetapi doa pertama itu dia rasa tidak dikabulkan. Padahal hakikatnya Allah telah mengabulkan doanya. Tetapi kemudian dia meninggalkan doa tersebut maka pada saat itu tidak terwujud doanya seperti yang dia harapkan karena dia menyelisihi sebab yaitu tidak konsisten memelihara doa terus menerus.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita persoalan ini dalam perang Badar. Meskipun Allah telah berjanji memenangkan Rasul-Nya, tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh dan sangat merendah dalam permohonannya.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu dia berkata:

لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ

“Saat terjadi perang Badr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat pasukan musyrikin berjumlah seribu pasukan, sedangkan jumlah para sahabat beliau hanya 319 mujahid. Kemudian Nabi Allah shallallahu ’alaihi wasallam menghadapkan wajahnya ke arah kiblat sambil menengadahkan tangannya, beliau memanjatkan doa dengan suara keras: ’Ya Allah, tepatilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembah-Mua di muka bumi ini.’ Demikianlah, beliau senantiasa berdoa dengan suara kuat kepada Rabbnya sembari mengangkat tangannya menghadap kiblat, sampai-sampai selendang beliau terlepas dari bahunya.”

Maka Abu Bakar radhiyallahu anhu mendatangi beliau seraya mengambil selendang beliau yang terjatuh lalu mengenakannya di bahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Bakar kemudian menemani Rasulullah sashallallahu ‘alaihi wasallamw berdoa sampai suatu waktu beliau berkata:

يَا نَبِيَّ اللَّهِ كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ فَإِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ

“Ya Nabi Allah, cukuplah kiranya anda bermunajat kepada Allah, karena Dia pasti akan menepati janji-Nya kepadamu.”

Abu bakar tidak mengetahui janji Allah bahwa Allah akan memenangkan hambanya dalam perang Badar kecuali setelah mendengar dari doa yang dipanjatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah mengerti Allah akan memenangkan kaum muslimin di perang Badar ini, Abu Bakar ingin menenangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mencukupkan doanya. Beliau katakan, “Karena Allah pasti akan menepati janjinya.”

Tetapi yang terjadi adalah kebutuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan terus menerus berdoa sampai kemenangan terwujud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memahami rumus ini, memelihara doa dengan terus menerus dipanjatkan sampai terjadi keseimbangan. Sedangkan Abu Bakar hanya melihat pada janji mutlak saja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat pada kewajiban melaksanakan perintah Allah untuk berdoa dan kebutuhan berdoa agar janji tersebut terwujud. Janji agung kemenangan perang Badar memerlukan kesungguhan dalam doa yang berterusan sampai terwujud kemenangan.

Masalah 3

Demikianlah yang harusnya dilakukan oleh mujahidin, ulama, dai dan hamba-hamba-Nya. Hatinya melihat pada janji lalu memeliharanya dengan doa walaupun orang lain lalai dalam masalah ini atau para penentang menghinanya. Seperti penghinaan kaum Nuh saat Nabi Nuh alaihissalam membuat kapal di atas tanah tandus.

Mereka inilah orang-orang yang beramal dengan pemahaman hati dengan bekal ilmu syari’. Sebagaimana Allah memuji pemahaman Sulaiman alaihissalam yang dilebihkan dari ayahnya Daud alaihissalam:

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا

“Maka Kami telah memberikan pemahaman kepada Sulaiman dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.” (Al-Anbiya: 79)

Perkara langit dan bumi, ghaib dan lahir, syariah dan kauni alam semesta semuanya terikat dengan hukum-hukum sunatullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dalam qunut sebulan penuh sampai Allah menyelamatkan sebagian sahabatnya, beliau berdoa 13 tahun di Makah sampai teraktualisasi kemenangan pertama dengan turunnya hidayah pada penduduk Madinah. Lalu berdoa 10 tahun di Madinah sampai takluknya Makah dan seluruh jazirah Arab. Seluruhnya 13 tahun berdoa sampai Allah mewujudkan janji-Nya.

Jadi, hilangnya hasil amal itu karena ketergesaan. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ

“Akan tetapi kalian tergesa-gesa.” (Al-Bukhari)

29 Safar 1442 H / 17 oktober 2020