Arbain Al-Jiyad Hadits 15: Memiliki Daya Kenyal Menghadapi Ujian dan Musibah

Submitted by admin on Tue, 10/20/2020 - 12:58
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُ صَلَّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam: “Sesungguhnya sabar itu pada kesempatan pertama (saat datang musibah).”

Masalah 1

Kesempatan pertama merupakan kondisi yang menentukan, disebut momentum. Bisa dalam hal yang baik atau musibah. Sehingga letak sabar itu pada momentum awal. Jika seseorang dapat bersabar dimomentum pertama ketika mendapatkan goncangan, dia memiliki daya kenyal, sebuah kekuatan untuk teguh dan kemudian segera cepat bangkit.

Siapa yang kehilangan momentum awal maka dia akan kehilangan hasil akhir. Bisa saja dia mencapai tujuan tetapi harus melalui kerja dan upaya yang lebih keras. Dia membutuhkan energi yang lebih besar. Itu sebabnya, keberhasilan tujuan tidak akan bisa dicapai kecuali dengan ketepatan momentum. Jika dia gagal mengolah momentum tersebut, jiwanya akan putus semangat lalu tertimpa kemalasan dan akan gagal mencapai tujuan.

Hanya orang yang cerdas dan memiliki kelurusan akal yang mampu mengelola momentum awal. Sebab sebuah benturan yang sangat keras yang menghantam jiwa menimbulkan dampak surprise. Daya kejut yang segera menurunkan ma’nawiyat atau moril seseorang.

Surprise tersebut membuat jiwanya bergolak, bergejolak dan mengalami benturan yang membuatnya menjadi kacau balau. Dia akan kehilangan akal sehat dan menjadi panik. Keputusan-keputusannya menjadi tidak lurus. Hanya orang yang memiliki kecerdasan dan kelurusan akal yang dapat tsabat (teguh). Surprise tidak mampu membutakan pikiran mereka dari apa yang seharusnya mereka lakukan.

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam tetap teguh dalam perang Hunain meskipun ribuan pasukan kaum muslimin terpukul dan kehilangan formasi tempur. Beliau teguh seperti gunung tinggi menjulang, momentum yang diraih musuh tidak membuatnya panik dan kehilangan akal.

Ketika menerima momentum awal dari surprise musuh, beliau segera reorganisasi pasukan dengan berseru:

أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ اللَّهُمَّ نَزِّلْ نَصْرَكَ

“Aku adalah seorang Nabi, tidak seorang pendusta, aku adalah putra Abdul Mutthalib. Ya Allah turunkanlah bala bantuan-Mu.” (Muslim)

Dalam riwayat lainnya:

ثُمَّ صَفَّهُمْ

"Kemudian beliau mereorganisasi pasukan. (Muslim)

Masalah 2

Manusia terjatuh ketika dia kehilangan momentum pertama saat terjadi benturan. Sehingga situasi tersebut menghilangkan akal dan menggoncangkan jiwa lalu musuh dengan mudah dapat menguasainya.

Bangsa Romawi merupakan bangsa yang dikenal memiliki daya kenyal. Sehingga kekalahan tidak menjadikannya terpuruk dan dikuasai musuh lebih lama. Tetapi mereka adalah bangsa yang segera bangkit karena dapat mengolah momentum pertama. Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu memuji bangsa Romawi:

أسرع الناس إفاقة بعد مصيبة

"Bangsa yang segera bangkit setelah mendapat musibah.

Siapa saja yang memiliki kemampuan seperti ini dengan bekal kesadaran dan persiapan maka dia tidak akan hancur karena musibah dan akalnya tidak akan menjadi buta serta panik karena surprise. Sejarah mencatat, pola serangan musuh yaitu dengan kekuatan penuh pada serangan pertama untuk mewujudkan kemenangan yang cepat dan memanfaatkan daya kejut. Tetapi apabila lawannya dapat bersabar dan bertahan pada benturan pertama, musuh akan kehilangan momentum lalu melemah.

Bangsa Qurays, mengerahkan segala kekuatannya untuk menghancurkan kaum muslimin pada perang Badar. Tetapi ketika mereka gagal, pasukan Qurays tidak mampu kembali bangkit seperti sedia kala. Ketika itu Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda dalam Perang Al-Ahzab:

الْآنَ نَغْزُوهُمْ وَلَا يَغْزُونَنَا نَحْنُ نَسِيرُ إِلَيْهِمْ

“Sekarang kita akan menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang kita, dan kita akan menghadapi mereka.” (Al-Bukhari)

Masalah 3

Peperangan yang panjang telah membuat umat ini kehilangan daya kenyal. Tertidur terlalu lama dan susah untuk bangkit kembali. Hingga kaum lain telah mendahului dengan persiapan dan perlengkapan. Ketika umat ini terjaga dan membuka mata, umat berbicara tentang shofwah Islamiyah (kebangkitan Islam), al-wa’yu (kesadaran kebangkitan) serta slogan lainnya.

Namun semua ini hanya menunjukkan umat belum bangun sempurna. Dia masih dalam keadaan mengantuk dan mengusap-usap mata. Siapa yang mampu bergerak, pergerakannya masih sempoyangan dan kaku seluruh badannya karena tertalalu lama tidur. Rasa cemas dan ketakutan serta keingingan hidup menyendiri masih melingkupi jiwanya.

Maka kita harus berjalan lebih cepat, bersungguh-sungguh dan berlelah-lelah. Beramal tanpa memedulikan mereka yang masih tertidur yang membaguskan setiap kerusakan, yang sangat cepat tercelup ke dalam penyimpangan. Usaha kesungguhan ini tidak akan bisa mampu dilakukan kecuali oleh orang-orang berjiwa besar.

Masalah 4

Sabar adalah kunci kemenangan. Aktualisasinya dengan mengendalilkan benturan-benturan dan gonjangan. Yaitu dengan mempelajari dan berinteraksi dengan situasi tersebut sebelum situasi itu semakin menguasainya. Karena itu Allah ta’ala mengajarkan kepada Nabi-Nya:

وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَىٰ سَوَاءٍ

“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka umumkan kepada mereka perang sebelum mereka menyerangmu.” (Al-Anfal: 58)

Khalifah Abu Bakar As-Shidiq radhiyallahu anhu menyikapi gelombang pemurtadan ketika masih menjadi embrio. Sedangkan Umar Al-Faruq radhiyallahu anhu menyarankannya untuk menunda. Tetapi Abu Bakar menolak karena beliau melihat akibat kerusakan yang lebih besar jika diberi waktu untuk berkembang. Maka dipotonglah kerusakan sebelum semakin buruk. Ini merupakan strategi yang brilian dan hikmah. Jika dibiarkan maka gelombang pemurtadan semakin kuat dan semakin sulit untuk dinetralisasi.

Situasi itu terjadi di masa kekhilafahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu saat sebagian kaum muslimin menuntut qishash bagi pembunuh khalifah Ustman radhiyallahu anhu. Terjadi ketidakseimbangan kekuatan karena telah kehilangan momentum. Kelompok pembunuh Ustman telah membesar dan memiliki kekuatan untuk melawan. Sehingga cara menumpas dengan kekuatan akan menimbulkan mafsadah yang lebih besar. Kasus seperti ini juga terjadi di awal Rasulullah shallallahu alaihi wassalam di Madinah menyikapi munafikin. Jika dibunuh akan menimbulkan mafsadah yang besar.

4 Rabiul Awal 1442 / 20 Oktober 2020