Arbain Al-Jiyad Hadits 16: Puncak Prestasi Menjadi Indikasi Waktu Penghabisannya

Submitted by admin on Fri, 10/23/2020 - 13:02
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يَرْفَعَ شَيْئًا مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam: “Sesungguhnya hak bagi Allah, untuk tidak meninggikan sesuatu dari perkara dunia kecuali dalam kesempatan lain akan merendahkannya.”

Masalah 1

Puncak prestasi yang diperoleh oleh makhluk merupakan indikasi waktu penghabisannya. Tidak ada setelah puncak kecuali penurunan dan dalam hadits ini, penurunan itu akan berlangsung sangat cepat. Seseorang mendaki ke puncak melalui tangga-tangga tetapi kemudian setelah mencapai ujung tertinggi dia akan terjun meluncur ke bawah.

Sehingga puncak usaha, puncak kemenangan, puncak kekuasaan merupakan pertanda bahwa akhir dari semua itu telah dekat. Ketika suatu bangsa telah berhasil menguasai bumi dan segala isinya lalu menyangka menjadi penguasa tunggal, disitulah lonceng berakhirnya kerajaannya. Firman Allah ta’ala:

حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا

Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kehancurannya. (Yunus: 24)

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah meraih kesempurnaan kemenangan dan kekuasaan (tamkin), saat itulah Allah mengabarkan telah dekatnya waktu kewafatan beliau. Allah ta’ala berfirman:

اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ () وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ() فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah. Maka bertasbihlah dalam memuji Rabbmu dan beristighfarlah kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima taubat.” (An-Nashr: 1-3)

Jadi kaidahnya yang bisa diambil dalam hadits ini adalah, sesuatu apabila telah mencapai puncak maka kemudian akan terjadi penurunan. Sunatullah ini merupakan hukum yang berakibat baik bagi kaum mukminin dan juga rahmat dari Allah ta’ala. Apabila suatu ujian telah menguat dan menjadi teramat berat, maka tidak ada perkara setelah itu kecuali jalan keluar. Seperti Nabi Ya’qub alaihissalam, ketika kerinduannya semakin besar maka beliau menangis sepanjang hari mengeluhkan segala kesedihannya kepada Allah ta’ala. Sampai mata beliau yang mulia menjadi buta karena banyaknya menangis, maka setelah puncak ujian itu datanglah kelapangan dengan perkataannya:

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya”. (Yusuf: 86)

Sedangkan musuh-musuh Allah, mereka tidak menyadari sunatullah ini. Bahkan mereka merasa terkecualikan dari hukum-hukum ini. Padahal mereka akan tertimpa kehancuran setelah mencapai kekuasaan puncaknya karena tergabungnya dua perkata, yaitu makar Allah pada mereka yang merupakan bagian dari sunatullah dan serangan bagtatah (surprise) dari kaum muslimin yang juga merupakan bagian dari sunatullah.

Peristiwa-peristiwa perguliran kekuasaan pada musuh-musuh Allah merupakan makar yang tidak mereka sadari akibatnya. Mereka tidak memiliki pemikiran tersebut dan juga tidak bisa mengambil pelajaran. Hingga pada hari ini, puncak kekuasaan tersebut telah memudar dan perlahan tenggelam sampai mereka merasa telah sampai pada kematian sejarah mereka.

Masalah 2

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam

إِلَّا وَضَعَهُ

“Kecuali dalam kesempatan lain akan merendahkannya.”

Menunjukkan adanya kekuasaan Allah ta’ala yang memindahkan dari sesuatu yang tinggi ke sesuatu yang rendah dengan sangat cepat. Berpindahnya suatu situasi yang baik menuju situasi yang buruk dengan teramat cepat tanpa tahapan, seperti terjun bebas. Kondisi tersebut sangat menyakitkan bagi jiwa karena mengalami goncangan yang sangat keras.

Sunatullah ini menunjukkan sifat Allah yaitu Al-Mutakabir. Maknanya Allah ta’ala menolak untuk dilengserkan kedudukannya. Sifat ini dekat dengan makna izzah (kemuliaan). Maka Allah merasakan ujian kelaparan dan ketakutan agar hamba mengetahui Allah Maha Perkasa lagi Maha Memiliki Segala Kebesaran.

Masalah 3

Hendaknya seorang mukmin setelah memahami sunatullah ini menjadi sedikit tertawa dan banyak menangis pada seluruh kondisi dan amal. Karena mukmin yang beramal untuk dinullah ta’ala tidak akan terpesona dan ketertipuan kecemerlangan, ketinggian, penguasaan dan kemenangan yang diraih oleh kaum kufar. Justru hal tersebut menjadi pertanda kehancuran mereka.

Ketika orang-orang yang jiwanya telah berjatuhan seperti laron masuk pada lidah api karena terfitnah oleh dunia dan menyangka bahwa Islam telah habis kekuatannya tidak akan mampu memiliki kekuatan untuk konfrontasi dan perlawanan, tiba-tiba berdiri kaum yang tsiqah pada Rabbnya dan memahami sunatullah-Nya. Mereka yakin terdapat sunah perguliran kekuasaan dan kekuasaan kekufuran akan sirna.

Sebab itu orang mukmin harus memperhatikan sunatullah ini bahwa tidak ada siapapun yang aman dari kejatuhan meskipun ilmu, hikmah dan kekuatannya hebat. Sebab rintangan yang membuat kejatuhan itu nyata. Dan tidak ada jaminan pada setiap orang untuk tidak gagal, orang alim tidak salah, dan orang ahli hikmah tidak sesat.

Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu justru menangis tatkala diserahkan padanya perbendaharaan dunia dari ghanimah yang berlimpah ruah karena mengetahui peristiwa-peristiwa apa yang akan terjadi setelahnya. Beliau melihat dengan mata bashirah pada apa yang ditutupi oleh Allah dari sunatullah dan pengaturannya. Bashirah yang membuat Said bin Jubair berkata pada Hajaj laknatullah dalam kondisi terluka: “Sungguh aku heran dengan keberanianmu pada Allah dan sabarnya Allah padamu.”

Masalah 4

Dipahami dari hadits ini adalah sebua kaidah: Suatu kekuatan akan ditundukkan oleh kekuatan lain yang lebih kuat darinya. Sebuah kecantikan akan dibiaskan oleh kecantikan lain yang lebih unggul darinya. Sesuatu yang berharga akan tetap menjadi berharga ketika kedudukannya menjadi paling mulia. Demikianlah kita menyikapi sunatullah ini dengan mewaspadai ketertipuan kedudukan dengan menganggap akan terus langgeng pada posisi puncak. Kita harus memahami bahwa kedudukan puncak itu tidak stabil, sebab itu harus mencari keunggulan lain yaitu akhirat sampai menemui kematian dan janah Ar-Rahman.

7 Rabiul Awal 1442 H / 23 Oktober 2020