Arbain Al-Jiyad Hadits 18: Memahami Pengaruh Pergerakan Alam Ghaib di Alam Nyata

Submitted by admin on Sat, 11/07/2020 - 03:23
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَسْمَاء رَضَيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ ليِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْفِقِي وَلَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَلَا تُوعِي فَيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ

Dari Asma’ radhiyalahu ‘anha berkata, bersabda kepadaku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Berinfaklah dan jangan kamu menghitung-hitung, karena nanti Allah berhitung-hitung padamu. Dan janganlah kalian menimbun harta, karena nanti Allah akan menimbun karunia-Nya darimu.”

Masalah 1

Siapa yang memberi dia akan mendapatkan balasan pemberian. Siapa yang bakhil juga akan mendapat balasan kebakhilan. Seseorang akan diberi balasan yang sama dengan apa yang dia lakukan.

Perbuatan yang kita lakukan di dunia ini akan bertemu dengan gerakan di alam ghaib yang pengaruhnya bisa dirasakan di dunia dan juga di akhirat. Pergerakan alam ghaib selalu membayangi alam nyata. Dia bergerak ketika terjadi pula pergerakan di alam nyata, berhenti ketika pergerakan di alam nyata ini berhenti. Alam ghaib turut bergetar ketika terjadi getaran di alam nyata dan berhenti bergetar ketika pergerakan alam nyata berhenti.

Namun alam nyata atau alam syahadah ini tertutup dengan tirai karena mengikuti hukum-hukum sunah kauniyah (alam dunia) sehingga tidak bisa melihat alam ghaib. Manusia tidak bisa melihatnya kecuali dengan melihat pengaruh atau efek yang dirasakan dari alam ghaib.

Karena alam ghaib tidak bisa dilihat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk melihat pada sebab awal atau yang pertama kali ada. Seperti ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tidak adanya penularan penyakit dalam sabdanya:

لَا عَدْوَى

“Tidak ada ’adwa (penularan penyakit.)” (Al-Bukhari)

Maka kemudian seorang badui bertanya:

“Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan unta yang ada tengah gurun pasir, seakan-akan (bersih) bagaikan gerombolan kijang kemudian datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?” (Al-Bukhari)

Maksudnya bagaimana memahami tidak adanya ’adwa tetapi unta-unta yang sehat itu ternyata tertular ikut sakit. Beliau menjawab:

فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ

“Siapa yang menulari pertama kali.” (Al-Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan tidak ada penularan penyakit, karena tersebarnya penyakit itu adalah sesuatu yang ghaib tidak bisa dilihat oleh mata. Maka untuk bisa melihat di alam nyata proses penularan penyakit, dicarilah siapa yang tertular pertama. Karena dialah yang menjadi sebab penularan penyakit yang ghaib.

Hadits berkaitan dengan ’adwa ini merupakan perumpamaan untuk menjelaskan tangan Allah dan hukum-hukum-Nya dalam mengatur takdir. Untuk bisa merasakan pergerakan alam ghaib maka lihat pada awal yaitu Allah ta’ala. Dia Allah adalah awal.

Melihat segala sesuatu di dunia ini tanpa melihat pada tangan Allah ta’ala dan hukum-hukum pelaksanaan takdir seperti orang membaca buku dari tengah. Tentu saja dia tidak akan bisa memahami isi buku tersebut karena untuk memahaminya dia harus membaca dari halaman pertama, yaitu dari awal.

Siapapun yang memandang segala hal hanya dengan hukum-hukum yang dhahir tanpa memandang adanya tangan Allah dan pergerakan alam ghaib yang menyertainya maka dia seperti dalam firman Allah ta’ala:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.”: (Ar-Rum: 7)

Masalah 2

Tujuan hadits yang diriwayatkan oleh Asma’ binti Abu Bakar ini supaya kita bisa mengetahui dan merasakan adanya pergerakan ghaib yang berjalan di atas bumi berhubungan dengan amal dan akhlak kita. Apabila di muka bumi ini kita merasakan hidayah maka pergerakan di alam ghaib akan menguatkan hidayah tersebut seperti firman Allah ta’ala:

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.” (Muhammad: 17)

Serta firman-Nya:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (Al-Isra: 18)

Pada alam ghaib terdapat pergerakan yang menjadi fokus orang beriman dan perhatian pandangan mereka. Yaitu kebahagiaan, cinta, ridha Allah atau kemarahan, kemurkaan dan kebencian Allah. Beruntunglah siapa yang dicintai Allah dan merugilah siapa yang dibenci Allah.

Jika kita ingin mengetahui posisi Allah pada kita maka lihat posisi pada diri kita dan hati kita pada Allah. Apakah kita mencintai-Nya? Apakah kita menginginkan ridha-Nya? Apakah kita ridha pada-Nya? Apakah kita husnuzhan pada Allah? Apakah kita menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya?

Allah akan mencintai siapa yang mencintai-Nya, ridha pada siapa yang ridha pada-Nya. Allah sesuai dengan persangkaan hamba pada-Nya. Ini merupakan ketetapan yang agung.

Masalah 3

Allah ta’ala adalah awal. Maka semua pergerakan sunah kauniyah harus dikembalikan pada yang pertama kali menggerakannya bahkan yang pertama kali menciptakan segala sesuatunya dari sesuatu yang kosong.

Saat manusia melihat turunnya hujan yang membasahi makhluk di bumi ia melihat pada ketetapan hukum sunah kauniyah; sebab-sebab proses terjadinya hujan. Tetapi kemudian dia harus mencari pada hakikat hujan itu, yaitu pertanyaan mengenai asal yang berarti mencari tahu siapa awal dari hujan tersebut.

Ketika terjadi gempa bumi, maka manusia mencari puncak hakikat dari gempa bumi tersebut, siapa yang pertama kali menciptakannya. Bukan hanya penciptaan bumi itu saja tetapi siapa yang menciptakan segala sesuatu ini dari tidak adanya. Siapa awal.

Maka semua atom dan sel di bumi ini merupakan penciptaan baru yang harus ada yang pertama kali yang menciptakannya dari ketiadaan yang menunjukkan tangan Allah ta’ala. Kemudian berjalan ciptaan-Nya tersebut dengan aturan sunatullah yang telah Allah tetapkan.

Inilah hakikat kauniyah yang memesona dan agung yang perjalanannya sesuai dengan cinta Allah dan kemurkaannya pada hamba. Cinta yang muncul dari pengaruh ketaatan hamba dan kemurkaan yang muncul dari pengaruh maksiat musuh-musuh-Nya.

Kecintaan pada Allah itu membuahkan cinta, pemberian dan ihsan Allah pada hamba. Serta ada pula ujian untuk menambah kedekatan dan mencapai kesucian dan pemaafan. Sedangkan maksiat berakibat permusuhan, kemurkaan dan kebencian Allah disertai dengan ujian yang menambah ketertipuan, kesombongan agar terwujud makar Allah padanya dan rasa sakit.

Jika kita ingin keterikatan dengan Allah maka sambung siapa yang diperintahkan Allah menyambungnya. Jika kita ingin cinta Allah maka cintai siapa yang diperintahkan untuk mencintainya. Jika kita memberi orang fakir kita akan menemukan kebaikan-kebaikan di tangan Allah:

لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى

"Sungguh kamu akan mendapatkan itu disisi-Ku (At-Tirmidzi)

Jika kamu menjenguk orang sakit berarti kamu menemukan kakimu di depan pintu Allah:

لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى

"Sungguh kamu akan mendapatkan itu disisi-Ku (At-Tirmidzi)

Persoalan ini menjadi kabar gembira bagi kaum mukminin yang hidup dengan sunah-sunah penciptaan dan pembentukan yang beramal dengan panduan al-haq dan syariatnya. Ghaib menurut mereka sesuatu yang hadir mengikuti dan kembali segala sesuatu pada-Nya:

قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ

“Katakanlah: ‘’Semuanya (datang) dari sisi Allah.’” (An-Nisa: 78)

Masalah 4

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَنْفِقِي وَلَا تُحْصِي

"Berinfaklah dan jangan kamu menghitung-hitung.

Sesuatu yang diberikan pada Allah maka Allah akan menerimanya dan Dia akan memelihara serta mengembangkannya.

كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ

"(Sedekah yang diberikan itu) Seperti Allah memelihara dan menumbuhkan anak kuda kalian sampai membesar seperti gunung. (Muslim)

Sedangkan kekikiran hamba berarti kesempitan bagi dirinya sendiri bukan pada tangan Allah ta’ala. Aturan ini merupakan kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat jika kita melaksanakannya. Maka apabila melakukan berbuat baik jangan dihitung-hitung tetapi buka penutupnya dan biarkan meluap.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyemangati para sahabat berinfak, maka sahabat bertanya apa yang kami infakkan?

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ

“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘’al-’afwa.’” (Al-Baqarah: 219)

Makna al-’afwa yaitu memberikan sedekah lebih dari yang mereka butuhkan yaitu tidak menghitung-hitung pemberian tetapi justru malah meluapkannya.

21 Robiul Awal 1442 H / 7 November 2020