Arbain Al-Jiyad Hadits 20: Menyerahkan Kepemimpinan Kepada Ahlinya

Submitted by admin on Mon, 11/16/2020 - 02:39
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam: “Apabila amanah diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.”

Masalah 1

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ditanya mengenai amanah, beliau menjawab

إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ

“Apabila amanah diserahkan bukan kepada ahlinya.”

Jawaban beliau shallallahu ‘alaihi wassalam tersebut menunjukkan makna al-amru (urusan) adalah amanah. Yaitu amanah Allah untuk mengelola dunia ini, maka amanah berarti al-qiyadah (kepemimpinan).

Kehidupan masyarakat berdiri kuat di atas keberagaman sosial yang bersatu dan saling melengkapi, sebab itu diperlukan pemimpin untuk mengatur sosial ini dan merekatkan kekuatannya. Kepemimpinan yang kuat juga dihasilkan dari kesolidan para anggota masyarakat yang bersatu padu mendukung kepemimpinan tersebut. Sehingga pentadbiran (pengorganisasian) kepemimpinan membuat masyarakat dan jamaah menjadi kuat.

Ketika kepemimpinan diberikan pada orang yang bukan ahlinya terjadilah kehancuran. Ilmu, akal dan kemampuan umat atau jamaah menjadi mandul tidak bermanfaat. Sebab ibrah itu diketahui dari pentadbiran bukan lainnya.

Keindahan alam semesta ini bisa dirasakan apabila segala sesuatu diletakkan pada posisinya. Demikian pula perkara-perkara di dunia ini akan menjadi mudah dan berkembang apabila dikelola oleh manajer yang piawai. Sebaliknya jika diserahkan pada orang bodoh, umat yang agung ini dan juga jamaah yang kuat akan menjadi lemah dan hancur. Maka kunci kesuksesan umat ini pada perkara al-qiyadah.

Seribu singa tidak berguna apabila dipimpin oleh orang yang ceroboh atau pengecut. Pemimpin ceroboh akan membuka jalan kerusakan pada singa-singa yang dia pimpin dan juga akan merusak sekelilingnya. Sedangkan pemimpin pengecut akan membuat semua kekuatan yang dimiliki tidak bermanfaat. Karena bernilainya segala sesuatu itu bukan hanya wujud keberadaannya tapi harus ada pengaruh yang bisa dirasakan manfaatnya.

Masalah 2

Tanpa kepemimpinan yang amanah, kekuatan akan tercerai berai dan saling berbenturan. Jika kepemimpinan ini diserahkan pada orang yang bodoh mengindikasikan kebodohan orang-orang berpengaruh yang mengangkat pemimpin tersebut. Juga mengindikasikan kerusakan pemikiran masyarakat atau jamaah.

Hakikat suatu masyarakat dan jamaah dapat dilihat dari cara mereka memilih dan melantik pemimpin. Sebagaimana pemimpin itu menggambarkan hakikat masyarakat atau jamaah. Dalam hal ini Allah ta’ala berfirman:

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi wali (teman, penolong) bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Al-An’am: 129)

Ayat di atas menjelaskan ayat sebelumnya:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ

“Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman):”Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia“, lalu berkatalah perwalian-perwalian (teman, penolong) meraka dari golongan manusia:”Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebagian (yang lain)." (Al-An’am: 128)

Yaitu manusia dan jin tersebut telah mendapatkan manfaat dan kesenangan dari perwalian mereka. Inilah hakikat kehidupan antara orang-orang yang berkuasa dengan orang-orang yang mau merendahkan diri.

Tidak ada orang yang mau menerima kehinaan kecuali orang yang menikmati kehinaan tersebut dengan membiarkan dirinya terluka mengekor pada kejahilan. Maka masyarakat dan jamaah pengekor kejahilan adalah yang menerima dipimpin oleh orang jahil. Berkuasanya pemimpin jahil atas mereka mengindikasikan kelemahan jamaah dan pengecutannya.

Masalah 3

Orang-orang yang menuntut umat ini bangkit sementara para penguasa rusak dan tokoh bodoh telah menguasai umat mereka ini ingin tulang agar hidup kembali, abu menjadi bara api.

Umat dan jamaah tidak akan menjadi kuat yang mampu melakukan perubahan dan menggoreskan sejarah kecuali dari pemimpin yang cerdas, beramal dan kuat. Kebutuhan prioritas umat ini adalah pemimpin sosial yang mengatur persoalan umum masyarakat. Prioritas utama bukan perbaikan ekonomi, keluarga atau lainnya.

Sebab apakah masyarakat dapat mencari makanan yang halal dengan mudah di tengah masyarakat yang menyepakati kejahiliyahan? Apakah dapat seseorang membina keluarga di tengah-tengah sosial yang aturannya jahiliyah?

Masalah 4

Jika kita kompromikan hadits ini dengan hadits:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُقَالَ فِى الأَرْضِ اللَّهُ اللَّهُ

"Tidak akan terjadi kiamat hingga di bumi tidak ada yang mengucapkan Allah Allah (Muslim)

Dipahami bahwa tegaknya tauhid di dunia ini karena tegaknya kepemimpinan ahlut tauhid. Sedangkan menyebarnya kesyirikan dan berkuasanya di bumi ini dari kepemimpinan syirik.

Sehingga benturan mujahidin dengan kekuasaan-kekuasaan Firaun di dan melantik kepemimpinan kembali pada ahlinya merupakan ibadah yang paling agung karena dua alasan:

  1. Karena menjalankan perintah Allah untuk berjihad yang didalamnya mengandung ujian keimanan dan besarnya ganjaran.
  2. Karena dengan lengsernya kekuasaan pemimpin yang rusak menjadi kebaikan bagi ahlut tauhid dan pengikutnya bahkan menjadi kebaikan bagi seluruh dunia yang dirasakan pula oleh orang-orang kafir.

1 Rabiul Akhir 1442 H / 16 November 2020

Tags

Artikel Terkait