Arbain Al-Jiyad Hadits 21: Konsep Al-Afwu dalam Pembinaan Masyarakat

Submitted by admin on Thu, 11/26/2020 - 04:25
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْر رَضَيَ اللهُ عَنْهَما قَالَ أَمَرَ اللَّهُ نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَأْخُذَ الْعَفْوَ مِنْ أَخْلَاقِ النَّاسِ

Dari ‘Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma; Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wassalam agar memaafkan akhlak manusia. (Al-Bukhari)

’al-afwu (memaafkan) maknanya bersikap terpuji pada manusia lebih dari yang dia inginkan atau memberikan sesuatu melebihi yang dia butuhkan. Melakukan perbuatan baik kepada manusia dengan kebaikan berlapis-lapis seperti seseorang menuangkan air ke gelas hingga meluber. Firman Allah:

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ

“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: al-’afwu.” (Al-Baqarah: 219)

Yaitu memberikan sedekah lebih dari yang mereka butuhkan yaitu tidak menghitung-hitung pemberian tetapi justru malah meluapkannya.

Demikianlah Allah ta’ala memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dalam berinteraksi dengan masyarakat. Tuntunan ini juga merupakan konsep pemerintahan Islam atau jamaah Islam dalam membina dan memimpin masyarakat, yaitu konsep al-’afwu.

Masyarakat tidak akan membuka penerimaan kecuali mereka mendapat keluasan kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang tidak terbina siap menerima penderitaan. Jika terdapat sedikit kehimpitan, mereka akan segera lari dan menjauh.

Sifat jamaah mujahidah dengan kesadaran beban berat yang dibawa melalui persiapan-persiapan tarbiyah yang panjang tidak akan mampu diangkut oleh masyarakat umum. Jika dipaksakan justru masyarakat akan berbalik melawan mereka.

Allah ta’ala memberikan pahala bagi manusia, bahkan Allah menambah kebaikannya dengan melipatgandakan pahala amal shalih hamba. Allah hanya memerintahkan untuk beriman dan bertakwa. Allah tidak akan mengambil harta hamba-hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ () إِنْ يَسْأَلْكُمُوهَا فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوا وَيُخْرِجْ أَضْغَانَكُمْ

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. () Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu. (Muhammad: 36-37)

Allah ta’ala adalah Rabb semua makhluk dan Dia memiliki hak diibadahi oleh semua lapisan masyarakat. Sebab itu Allah memerintahkan untuk memberikan al-’afwu pada masyarakat yaitu memberikan lebih dari yang ia butuhkan.

Kita berikan pada masyarakat waktu kita, harta, kemampuan dll lebih dari yang mereka butuhkan. Tidak mungkin suatu jamaah meskipun berada di atas al-haq mendapatkan kemenangan kecuali jika mereka berhasil berebut hati masyarakat. Dan masyarakat tidak akan memberikan hatinya kecuali setelah yakin bahwa jamaah tersebut tidak berbenturan dengan pekerjaan dan dunia mereka.

Masyarakat akan berpaling apabila melihat apa yang dilakukan oleh jamaah menyeret mereka menuju kebinasaan, kemiskinan dan ketakutan. Tentu saja mereka akan menolak jika dijanjikan dengan kematian, pembunuhan dan kesempitan hidup.

Jamaah yang mengajak pada seruan seperti ini tidak bisa memahami ujian-ujian masyarakat atas tekanan thaghut yang menguasai harta dan keluasan kehidupan mereka seperti firman Allah:

دُولَةًۢ بَيْنَ ٱلْأَغْنِيَآءِ مِنكُمْ

“(Harta itu) beredar hanya di antara orang-orang kaya saja di antara kalian.” (Al-Hasyr: 7)

Masyarakat tidak menginginkan keluar dari sebuah tekanan kemudian masuk di bawah tekanan lain meskipun yang mengajak membawa bendera al-haq. Pemahaman ini membuka pengertian penting yaitu jihad tidak diarahkan kecuali kepada thaghut. Jihad tidak bisa ditembakkan pada masyarakat muslim yang lemah.

Menyikapi kesalahan-kesalahan masyarakat lemah adalah dengan hisbah yang maksudnya mengangkat kezhaliman yang dilakukan thaghut pada orang-orang lemah. Sedangkan jamaah jihad yang menyibukkan dirinya pada hisbah dengan cara-cara penghakiman seperti qadhi maka keliru dan salah, apalagi dilakukan sebelum tamkin (memiliki kedaulatan).

Penguasa yang adil akan dibenci oleh sebagian rakyat, lalu bagaimana dengan penguasa diktator yang hanya menuntut ketaatan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan kita untuk menjaga dan memuliakan harta masyarakat dengan sabdanya:

فإيَّاك وكرائمَ أموالِ النَّاسِ

“Berhati-hatilah terhadap harta yang mereka sayangi.” (Muttafaq alaih)

Hadits dari Abdullah bin Zubair radhiyallahu ’anhu menjadi wasiat berharga bagi para pemimpin, mujahid, ulama dan dai dalam melakukan tarbiyah bagi masyarakat. Karena perjalanan yang akan ditempuh sangat jauh. Tekanan pada masyarakat yang dilakukan oleh orang-orang shalih justru akan membuat mereka berbalik, marah dan memberontak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (Al-Bukhari)

Sebaik-baik amalan yang dikerjakan secara konsisten meskipun sedikit. Sedangkan orang-orang yang membuat susah manusia, Allah akan balik membuat susah mereka. Cukuplah kesusahan bagi mereka ketika mereka mendapat permusuhan dari masyarakat dan umat mereka sendiri.

Kehidupan dakwah dan jihad bukanlah kisah hierarkis perintah atasan yang harus dilaksanakan oleh bawahan tanpa boleh membantah. Namun harus menjadi suatu tatanan konstruktif yang seimbang dalam semua dimensi untuk menghindari simpul kritis pada ujungnya. Amal Islami itu bukan suatu pekerjaan yang berakhir dengan keruwetan dan kebuntuan. Jika seperti ini dibolehkan, kita bisa seenaknya melemparkan beban kita pada simpul kritis ini supaya bisa beristirahat. Tetapi tanggung jawab tidak seperti itu.

Amal ini merupakan serangkaian pekerjaan yang dibangun melalui dekade zaman dan harus berterusan. Halaqah yang diteruskan dengan halaqah selanjutnya seperti lari estafet.

Sikap rahmah pada masyarakat dan hanya memberikan pembebanan sesuai dengan kemampuan akan membuka pintu rahmah dan kenyamanan. Masyarakat akan mencintai kita dan dengan sebab tersebut Allah pun akan mencintai kita. Sebab orang-orang yang rahim akan disayangi oleh Ar-Rahman:

الرَّاحِمونَ يرحَمُهم الرَّحمنُ تبارَك وتعالى؛ ارحَموا مَن في الأرضِ يرحَمْكم مَن في السَّماءِ

“Para penyayang itu akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian..” (Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad)

Berjamaah artinya menyeru dengan paradigma rahmah dan keluasan dalam berinteraksi dengan manusia. Memimpin manusia dengan mempertimbangkan kemampuan orang yang paling lemah sebagaimana shalat berjamaah sebisa mungkin imam meringankan bacaan. Silahkan memperpanjang bacaan sesukanya jika shalat sendirian. Perkara ini harus diperhatikan terlebih kualitas manusia zaman sekarang tidak seperti dahulu.

11 Rabiul Akhir 1442 H / 26 November 2020 M