Arbain Al-Jiyad Hadits 22: Beradaptasi dengan Fase Perputaran Sejarah

Submitted by admin on Thu, 12/03/2020 - 09:49
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَسْمَاء رَضَيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ النَّبِيُ صَلَّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

Dari Asma’ radhiyallahu ‘anha berkata, bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam: “Orang yang menampak-nampakkan kepuasan dengan sesuatu yang sebenarnya tidak diberikan kepadanya, seperti halnya seorang yang memakai dua helai pakaian kepalsuan.” (Al-Bukhari)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud hadits yaitu: Orang yang melebihkan-lebihkan sesuatu yang tidak ia miliki dengan menampilkan seolah-olah dia memilikinya kemudian memamerkannya di hadapan manusia dan menghiasinya dengan kebatilan. Merupakan perbuatan tercela sebagaimana tercelanya orang yang memakai dua helai pakaian kepalsuan.

Makna memakai dua helai pakaian kepalsuan yaitu orang yang memakai pakaian zuhud, ibadah dan wara di muka manusia agar disangka memiliki sifat mulia tersebut. Dia menampakkan khusyuk dan kezuhudan melebihi yang dimiliki dalam hatinya. Disebut pakaian kepalsuan dan riya. Ada juga yang memaknai; orang yang meminjam dua baju milik orang lain dan mengklaim miliknya. Ada pula yang mengartikan; orang yang mengenakan sebuah baju lalu dia merangkap dengan baju orang lain dan mengaku kedua bajunya itu miliknya.

Kalimat terindah yang bersesuaian dengan fakta, apa adanya. Tetapi apabila dilebih-lebihkan, kalimat itu menjadi game dan kebatilan. Seribu kata kepalsuan dan potret pencitraan tidak akan bisa mengenyangkan orang kelaparan, menutupi aurat orang yang kekurangan pakaian dan tidak bisa menolong pejuang di medan.

Permasalahan bukan pada adanya kejadian tetapi pada ungkapan kalimat yang dinyatakan dengan melebih-lebihkan tidak sesuai dengan aslinya. Saat itulah disebut omong kosong, kedustaan dan propaganda picisan. Rihlah perjalanan aktivis dinullah adalah rihlah penyempurnaan, yaitu rihlah kejujuran dan kesesuaian dengan fakta apa adanya.

Syiar dan slogan yang tampak besar dan hebat tidak bisa mewujudkan kemenangan dan pula tidak bisa memasukkan seseorang ke dalam janah. Seandainya orang musyrik mengaku sebagai muwahid (bertauhid), dia tidak mungkin masuk janah kecuali pengakuannya sesuai dengan realitas sebagai seorang muwahid.

Timbangan akhirat adalah timbangan hakikat, kesesuaian fakta, realitas bukan kepalsuan. Demikian pula timbangan dunia mengikuti timbangan akhirat. Keduanya saling berdampingan. Maka siapa memecah batu bata dia tidak akan mampu membangun rumah. Siapa yang tidak lurus tidak akan mampu melanggengkan jamaah. Siapa saja yang mencari slogan-slogan indah atau rilisan media tanpa memperhatikan kesesuaian dengan hakikat akan segera terbongkar.

Perjalanan jamaah didasarkan pada kejujuran, yang menjadi indikasi kejujuran berinteraksi dengan dinullah. Kejujuran akan mewujudkan kehormatan bagi dirinya dan penghormatan orang lain padanya. Dengan perkataan yang jujur merealisasikan kekuatan. Kejujuran nilai yang tidak bisa ditawar. Jamaah tidak boleh berdusta pada umat dan ikhwan dengan menutupi realitas sebenarnya. Prinsip ini merupakan rukun kehidupan dan persaksian di hadapan makhluk.

Harakah Islamiyah memiliki kewajiban selalu memelihara waqi’ (realitas) dan mengenali sejarah di mana dia berputar. Sebab pengetahuan dan kesadaran di mana kakinya sedang berpijak dalam roda perputaran sejarah merupakan syarat-syarat kemenangan saat melalui fase-fasenya.

Sejarah adalah halaqah. Sebuah halaqah pendakian, berada di atas puncak atau menuruni pegunungan. Ketika halaqah sedang mendaki, jaga ritme langkah kaki supaya tidak kelelahan. Ketika berada di atas puncak gunung, jaga kesimbangan supaya tidak cepat terjatuh. Dan ketika melakukan penurunan, berhati-hatilah dan banyak istirahat agar tidak terperosok dalam jurang sehingga tidak mampu bangkit kembali.

Sebuah kebodohan orang mengatakan tentang futuhat (jihad ofensif) padahal dia berada dalam halaqah penurunan dan kehancuran. Seperti orang yang memakai dua pakaian kepalsuan.

Kemampuan adaptasi dengan fase-fase halaqah sejarah yang sedang dilalui merupakan kemenangan. Seperti Khalid bin Walid dalam perang Mu’tah ketika beliau berpihak pada pasukannya demi menjaga agar mereka tidak hancur. Sesungguhnya beliau sedang mewujudkan kemenangan sesuai dengan waqi’.

Beliau mampu melakukannya karena memahami halaqah tarikh yang sedang berlangsung. Inilah bahasa hakikat, realitas, kejujuran bukan bahasa zur (kepalsuan). Menghadapi realitas sesuai dengan realita akan bermanfaat walaupun situasinya sulit pada jiwa dan cita-cita.

Dalam perjalanan jihad dan dakwah kita mewaspadai slogan besar yaitu kepalsuan media serta pencitraan. Slogan itu akan runtuh hanya dengan tiupan angin sepoi. Sebuah keindahan palsu yang justru memberatkan jamaah dan umat.

Batu kecil tapi sesuai realita lebih baik daripada teriakan keras. Jaring laba-laba lebih baik dari pakaian kepalsuan. Biarlah manusia datang kepada kita dan mengenal apa adanya. Biarkan mereka sadar resiko yang akan mereka jumpai dan apa yang akan mereka persembahkan. Sehingga tidak ada yang disembunyikan, gambarkan apa adanya sesuai fakta. Perjalanan harakah yang ditetapkan dengan kejujuran dan amanah.

18 Rabiul Akhir 1442 H / 3 Desember 2020 M