Arbain Al-Jiyad Hadits 25: Membangun Konstruksi Ruhiyah

Submitted by admin on Wed, 12/23/2020 - 03:43
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ عَائِشَةَ رَضَيَ اللهُ عَنْهَا قاَلَتْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam; Ruh-ruh itu seperti prajurit dalam kesatuan formasi, jika saling mengenal mereka akan menyatu tetapi apabila mengingkari mereka akan berselisih.” (Al-Bukhari)

Hadits di atas menjelaskan mengenai buah orang yang menyiapkan tarbiyah bagi dirinya, keluarganya dan jamaah untuk menjadi prajurit yang bersatu dalam sebuah kesatuan formasi atau korps (junudun mujanadah). Karena orang yang tidak melatih dirinya dan keluarganya tidak bisa disebut sebagai junudun mujanadah.

Melalui berbagai latihan penyatuan akan ditemukan sebuah titik temu di atas jalan dan tujuan yang disepakati. Para sahabat telah sukses mencapai tujuan mereka karena dapat memiliki pemahaman detil pada acuan yang dicanangkan pemimpin. Walaupun ditempa oleh berbagai macam ujian dan penderitaan dalam merintis tujuan tersebut, mereka tetap teguh disebabkan kecintaan timbal balik antara pemimpin dan bawahan.

Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu awalnya tidak setuju dengan keputusan Abu Bakar radhiyallahu anhu memerangi gelombang pemurtadan. Namun karena kecintaan pada pemimpin Umar kemudian mengatakan, “Aku menyaksikan bagaimana Allah melapangkan dada Abu Bakar, sehingga aku mengetahui keputusannya di atas kebenaran.”

Jika kita mengamati perkataan Umar tersebut, tidak keluar kecuali karena keterkaitan hati dan ruh mereka. Keterkaitan dan kesatuan yang dihasilkan dari pelatihan yang terus menerus sehingga menjadi jiwa yang terlatih satu sama lain. Persatuan ruh seperti junudun mujanadah.

Jamaah kaum muslimin merupakan jamaah ujian dan cabaran. Mereka dikelilingi oleh konspirasi musuh yang sangat keras:

وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ

“Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (Ibrahim: 46)

Bagian dari sunatullah, ujian menjadi bara yang memisahkan kotoran. Berbagai macam ujian menjadikan keterasingan semakin kuat dan penderitaan semakin berlipat. Apabila seperti ini keadaannya, tidak ada yang bertahan kecuali orang yang terlatih membawa beban berat keimanan dan ketakwaan dengan pelatihan yang tinggi pada tugas-tugas khususnya berkaitan dengan internal jamaah. Jika tidak, bisa terjatuh dalam kesalahan kritis yang mengakibatkan kehancuran.

Para sahabat merasakan tekanan ujian yang hampir menyeret mereka dalam titik kehancuran dalam masalah ilmiah maupun amalan. Namun, kecintaan mereka pada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, keterkaitan hati mereka yang suci untuk menerima kesucian dan kelembutan ruh mereka dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan tertinggi mereka, membuat ujian justru semakin menambah erat kekuatan.

Misalnya dalam ujian amalan. Pada Perang Uhud, saat ujian tercerai berainya formasi pasukan karena maksiat yang dilakukan sebagian sahabat. Para sahabat segera mereorganisasi pasukan dan semakin kuat melindungi Rasulullah shallallahu alaihi wassalam meskipun dengan tim yang sangat kecil. Andai bukan sahabat, mereka hanya menjadi bayangan yang segera menghilang bila ujian menguat.

Dalam ujian ilmiah. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengabarkan kemenangan dan penaklukan Makah dalam perjanjian Hudaibiyah. Para sahabat mengira janji itu akan terealisasi di tahun itu. Namun mereka terkejut melihat item-item perjanjian dengan adanya poin konsesi perwalian sesama muslim dan batalnya niat umrah pada tahun tersebut.

Sahahat keberatan menerima perjanjian tersebut. Hati mereka berat melaksanakan perintah. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam khawatir jika mereka hancur karena maksiat ini. Kemudian beliau keluar menemui mereka, mencukur rambut dan menyelesaikan ihramnya yang diikuti oleh para sahabat. Dalam kondisi menahan amarah, sahabat mencukur rambut temannya sampai hampir terluka. Ujian berat seperti itu tidak akan mampu diterima kecuali mereka saling mencintai saudaranya dan terikat ruh satu sama lain.

Dalam amal jamai harus ada pembangunan kontruksi pada sesuatu yang tak tampak, yaitu ruh. Dengan cara tasbih, istrighfar, qiyamul lail dan doa kepada sauadaranya secara ghaib. Di atasnya kemudian dibangun konstruksi amal dengan ilmu, idad dan hijrah sampai hati saling terkait dan ruh saling mengenal sehingga menjadi junud (pasukan) bukan sampah perjuangan.

Melalui kedua konstruksi tersebut, saudara akan mengenal saudara lainnya sebagaimana anak mengenal ibunya dan ayahnya serta saudara kandungnya. Keterkaitan seperti ini yang membuat ujian akan menambah persatuan dan kekuatan. Sebab ibu tidak akan meninggalkan anaknya walaupun ia melakukan kesalahan, sakit atau lemah. Saudara tidak akan meninggalkan saudaranya yang lain. Inilah yang disebut shibghatullah (celupan Allah) yang tidak akan luntur walaupun berlalu zaman.

Kita menyaksikan kecintaan ahlul hadits pada imamnya yaitu Abu Hurairah, Ibunda Aisyah dan Anas bin Malik radhiyallahu anhum, kecintaan khusus yang spesial yang hanya bisa dirasakan oleh ahlul hadits. Kecintaan ulama fiqih dengan Ibnu Umar dan Ibnu Masud radhiyallahu anhuma, kecintaan mujahid dengan Khalid bin Walid, Abu Ubaidah dan panglima lainnya radhiyallahu anhum dengan kecintaan yang khusus.

Saat mereka tershibghah dalam kecintaan ini, mereka saling mewarisi kecintaan hingga berganti generasi hingga hari kiamat. Cinta yang turun menurun seperti pewarisan nasab bahkan lebih kuat. Shibghah yang mencelup sampai ruh.

8 Jumadil Awal 1442 H / 23 Desember 2020