Arbain Al-Jiyad Hadits 27 : Komprehensifitas Pemahaman Jihad

Submitted by admin on Fri, 01/15/2021 - 07:46
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ زَيْدٍ بْنِ خَالِدٍ الجُهْنِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ جهَّزَ غَازِيًا في سبيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا، ومنْ خَلَفَ غَازيًا في أَهْلِهِ بخَيْر فَقَدْ غزَا

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhni radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam: “Barangsiapa menyiapkan perlengkapan untuk prajurit yang akan berperang di jalan Allah, berarti dia telah berperang. Barangsiapa mengurus keluarga prajurit yang ditinggalkan berperang dengan baik, berarti dia telah berperang.” (Al-Bukhari)

Seluruh penumpang dalam sebuah kendaraan tempur disebut mujahid, sama saja dia pembawa senjata, asisten atau observer. Bila terjadi kompetensi dalam pembagian tugas tersebut, kompetensinya tentang pahala dan derajat yang pembagiannya rata.

Kemudian penumpang tersebut tidak akan bisa melanjutkan perjalanan dengan tenang tanpa tersedianya logistik dan pelayan yang mengurusi keluarganya, anak serta harta bendanya. Sehingga posisi penumpang dan pelayan yang mengurus keluarga di kampung halaman sama penting. Tidak ada perbedaan antara keduanya kecuali hanya pada jenis dan sifat pekerjaan.

Paradigma soal kesamaan posisi ini tidak ditolak oleh akal siapapun. Keutamaan itu bukan pada jenis pekerjaan tapi pada kesempurnaan pekerjaan, keikhlasan dan takwa dalam hati.

Orang yang melantangkan keberanian tetapi tidak mengenal seninya dia orang aneh. Orang yang menerobos kerumunan musuh dengan kudanya tidak bisa dikatakan lebih bernyali dari orang yang berjaga di tempat ribath sendirian. Memasang telinganya awas menyisir suara-suara lembut khawatir ancaman datang dari belakangnya.

Abu Bakar radhiyallahu anhu sahabat paling utama justru tidak banyak disebut kepahlawanannya dalam berbagai peperangan termasuk perang Badar. Tidak seperti Hamzah, Khalid, Abu Ubaidah, Abu Thalhah serta sahabat lainnya radhiyallahu anhum yang memiliki berbagai kisah keberanian di medan tempur.

Dalam banyak peristiwa peperangan, posisi Abu Bakar hanya sebagai pengawal pribadi Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Sebagaimana yang dilakukan ketika mengawal hijrah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tapi demikian memiliki keutamaan daripada sahabat lainnya.

Bahkan hari ini kita menyaksikan orang yang mempersembahkan hartanya fisabilillah dengan duduk di rumah kadang mendapat ujian yang lebih dahsyat dari orang yang berada di front terdepan.

Menyempitkan jihad hanya pada sebuah posisi saja merupakan kebodohan. Sedangkan memosisikannya melihat pada situasi, kebutuhan, kehidupan serta keluasan berbagai segmen kehidupan merupakan keadilan dan akal.

Orang besar ialah orang yang berada pada tsughur (benteng) jalan yang luas ini. Mujahid muqatil (petempur) tidak akan pernah bisa menjadi muqatil tanpa imam masjid. Dia tidak akan bisa berada di perbatasan jika tidka ada orang yang mendidik anak-anaknya surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlas. Dia tidak akan mampu tetap di perbatasan jika tidak ada orang yang jauh dibelakang menguatkannya dengan kalimat. Setiap posisi terdapat pemerannya.

Inilah negara-negara setan mendonorkan jutaan harta untuk memalingkan manusia dari Islam bukan hanya dengan peperangan. Tetapi juga menjauhkan dengan kata-kata serta gambar.

Orang yang bertugas dalam posisi ini kadang lebih memiliki risiko daripada orang yang membidik panah di garis depan. Malaikat juga turun menguatkan orang-orang yang berada digaris belakang sebagaimana dalam hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam kepada Hasan bin Tsabit.

Ketika itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam meminta Hasan membalas syair kaum Qurays yang menghinakan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, beliau bersabda:

اهْجُهُمْ أَوْ هَاجِهِمْ وَجِبْرِيلُ مَعَكَ

“Seranglah mereka, atau hancurkanlah mereka, karena jibril selalu bersamamu.” (Al-Bukhari)

Jibril turun menguatkan Hasan bin Tsabit padahal hanya beramal duduk di meja dengan membuat syair. Maka seorang mujahid yang berada di front harus mengetahui maqam serta keutamaan manusia dalam posisi dan perannya masing-masing. Misalnya, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menyebut orang yang membantu para janda dan orang-orang miskin sebagai mujahid.

عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ كَالَّذِي يَصُومُ النَّهَارَ وَيَقُومُ اللَّيْلَ

“Dari Shafwan bin Sulaim yang merafa’kan (menyandarkannya) kepada Nabi shallallahu ’alaihi wasallam beliau bersabda:”Orang yang membantu para janda dan orang-orang miskin seperti orang yang berjihad dijalan Allah atau seperti orang yang selalu berpuasa siang harinya dan selalu shalat malam pada malam harinya." (Al-Bukhari)

Seni perang mengatakan front tempur itu tidak untuk semua orang. Bahkan apabila terlalu banyak orang malahan menjadi beban. Hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Manusia diposisikan sesuai kemampuan yang Allah anugerahkan. Jika dia dalam amal kebaikan maka orang lain juga dalam kebaikan. Seperti itulah fadhilah Allah diberikan kepada yang Dia kehendaki.

Pemahaman mengenai keutamaan amal ini tidak akan dipahami oleh bocah kecil. Sifat kekanak-kanan yang terpesona oleh kilatan warna dan terpukau dengan suara keras. Mereka menyangka air keluar dari keran saja tanpa mengetahui di baliknya tersambung pipa yang mengalirkan air dari sumur.

2 Jumadil Akhir 1442 H / 15 Januari 2021