Arbain Al-Jiyad Hadits 3: Frame Kebaikan Setiap Muslim, Jihad atau Uzlah

Submitted by admin on Thu, 07/09/2020 - 02:07
Penulis
Tauhid wal Jihad

قَالَ أَبُوْ سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ قَالُوا ثُمَّ مَنْ قَالَ مُؤْمِنٌ فِي شِعْبٍ مِنْ الشِّعَابِ يَتَّقِي اللَّهَ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ

Berkata Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu: “Ditanyakan pada beliau, ‘Wahai Rasulullah siapakah manusia yang paling utama?’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Seorang mukmin yang berjihad fisabilillah dengan jiwa dan hartanya.’ Mereka bertanya: ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Seorang mukmin yang tinggal disuatu lembah, dia bertakwa kepada Allah dan meninggalkan manusia dari keburukannya.’” (Shahih Al-Bukhari)

 

Masalah 1

Hadits Abu Sa'di Al-Khudry ini merupakan frame setiap muslim untuk mencapai puncak kebaikan. Siapapun yang seksama mengamati hadits ini dengan penuh ketakwaan dan dengan pemahaman tujuan penciptaan manusia, dia akan mengetahui bahwa perkataan tersebut tidak keluar kecuali melalui lisan nabi.

Tetapi siapa yang berpaling pada ijtihad manusia hari ini pada perkara frame kebaikan yang telah digariskan nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, akan mengetahui mayoritas perkataan mereka keluar dari kerangka kebaikan dan keadilan tersebut.

Hadit ini merupakan rumus bagi orang yang menginginkan keterjagaan pada agamanya, mencari keutamaan, ketinggian derajat serta menggapai ketakwaan. Hanya ada dua pilihan al-haq sebagaimana Allah ta'ala perintahkan; yaitu jihad melawan kebatilan atau i'tizal dari kebatilan. Apabila tidak mampu i'tizal maka hijrah.

Jalan tersebut merupakan jalan yang paling selamat bagi agama seseorang di dunia dan akhirat. Sedangkan orang-orang yang merasa mampu untuk berenang didalam lumpur dan menyangka memiliki ketakwaan yang mampu melindungi hatinya, kemudian mereka justru tenggelam dan meminum lumpurnya hingga kenyang, maka Allah Maha Melihat pada hati dan apa yang terdetik, dan Dia Maha Mengetahui hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

 

Masalah 2

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memberi petunjuk dua frame amalan bagi kaum muslimin. Amalan pertama adalah jihad fi sabilillah bagi siapa yang memiliki kemampuan mengamalkannya. Sedang siapa yang tidak mampu melaksanakannya karena suatu udzur maka dia memilih amalan kedua yaitu i'tizal. Siapa saja dari kaum muslimin yang tidak mampu berjihad maka dia memilih i'tizal, itu jika dia menginginkan kebaikan pada agamanya.

 

Masalah 3

Sedangkan orang yang menyerukan keburukan merupakan satu-satunya pilihan maka mereka berdusta pada takdir Allah dan syariatnya secara bersamaan. Sebab keburukan tidak pernah selamanya menjadi pilihan bagi kaum mukminin dalam kehidupannya. Allah menciptakan kebaikan dan takdir kebaikan lebih banyak dari keburukan. Dan Allah tidak pernah memerintahkan hamba-Nya melakukan keburukan, tidak ridha dan tidak pula mencintai keburukan itu. Bahkan mengaitkannya dengan hawa nafsu dan syahwat manusia.

Ijtihad manusia yang menyimpang dari frame ini, ketika tidak memiliki kemampuan untuk berjihad mereka menyerukan untuk melakukan keburukan dan maksiat. Lalu terbitlah fatwa-fatwa yang muncul dari hawa nafsu hasil dari bisikan setan jin dan manusia. Dia berfatwa untuk melakukan keburukan dan maksiat padahal tidak ada kedaruratan dan kebutuhan mendesak. Tetapi menganggap ada kedaruratan sehingga membolehkan melakukan keburukan dan maksiat. Inilah asas kesesatan kebanyakan dari fatwa-fatwa yang terbit hari ini. Mereka mengambil hukum-hukum darurat dan mengajukannya sebagai perbuatan yang baik dan syahwat.

 

Masalah 4

أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ"

“’Wahai Rasulullah siapakah manusia yang paling utama?’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Seorang mukmin yang berjihad fisabilillah dengan jiwa dan hartanya.’”

Jihad adalah puncak ketinggian Islam, orang yang melakukan ibadah jihad berdiri di atas puncak keutamaan. Mereka merupakan ahlul iman yang paling mulia. Dan jihad berkaitan dengan keutamaan ini merupakan amalan yang dia ridhai untuk dirinya sendiri. Dia habiskan waktunya dengannya, didalamnya pintu rizkinya dan nafkah keluarganya.

Ibadah jihad merupakan amalan yang diridhai Allah bagi manusia utama sepeninggal nabi shalallahu ‘alaihi wassalam yaitu para sahabat radhiyallahu anhum; bahwa jihad menjadi menjadi nafas seluruh hidupnya. Mereka tidak merasakan kehidupan yang lebih nikmat dari menghabiskan kehidupan bersama jihad. Sebab itu Allah memberi nama jihad sebagai hayah (kehidupan). Allah berfirman:

اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (Al-Anfal: 24)

Derajat jihad paling tinggi, seseorang berjihad dengan diri dan hartanya. Dia mempersembahkan jiwanya dengan turun ke medan bersama hartanya. Tetapi jika dia berjihad dengan biaya orang lain maka itu baik tetapi tingkatannya dibawah yang pertama. Jika dia membiayai jihad tapi tidak turun langsung maka derajatnya dibawah yang kedua.

Maka jihad yang paling agung saat seseorang keluar dengan jiwa dan hartanya sendiri lalu pulang perang tanpa memperoleh ghanimah apapun. Apabila dia terbunuh, menjadi syahadah. Inilah kedudukan yang paling mulia dan tertinggi. Dan Allah ta'ala menganugerahkan fadhilahnya kepada siapa yang Dia kehendaki.

 

Masalah 5

مُؤْمِنٌ فِي شِعْبٍ مِنْ الشِّعَابِ يَتَّقِي اللَّهَ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ

Seorang mukmin yang tinggal disuatu lembah, dia bertakwa kepada Allah dan meninggalkan manusia dari keburukannya.”

Mukmin yang tidak mampu untuk berjihad lalu beramal dengan amalan lain seperti thalabul ilmi, dakwah dan amar maruf nahi mungkar maka amalan yang paling afdhal yaitu itizal menjauh sejauh-jauhnya dari keburukan manusia.

Uzlah merupakan pilihan iman yang dilalaikan oleh manusia dan pemikiran ini juga banyak diremehkan. Sepinya pilihan tersebut mengakibatkan banyak kaum muslimin terjebak pada kebatilan dan dosa. Uzlah memiliki hukum umum: Pilihan bagi siapa yang tidak mampu berjihad baik karena faktor diri sendiri atau faktor kondisi.

Kalau kita melihat orang-orang salaf dahulu, mereka melakukan itizal pada akhir hayat mereka untuk memfokuskan diri beribadah. Seperti dilakukan oleh ahli madinah mereka fokus pada ibadah setelah memasuki umur 40 tahun kecuali mereka yang memiliki amanah tertentu yang mengharuskan mereka berbaur dengan kaum muslimin.

 

Masalah 6

Terdapat hadits yang menunjukkan membaur dengan manusia dan bersabar atas keburukan dari mereka merupakan amalan yang utama. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

المؤمنُ الذي يخالطُ الناسَ ويَصبرُ على أذاهم خيرٌ منَ الذي لا يُخالطُ الناسَ ولا يصبرُ على أذاهمْ

Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (At-Tirmidzi, Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ahmad)

Melaksanakan hadits di atas perkara yang utama; membaur tanpa melebur. Tetapi pertimbangkan pula dengan sifat dasar manusia yang sesak ketika pertama kali melihat keburukan. Dia akan mengingkarinya dan membenci keburukan itu di awal dan khawatir pada agama dan imannya meskipun dia memberikan peringatan. Tetapi terkadang dengan perbuatan tersebut, hatinya menjadi menghitam walaupun dia mengingkarinya dan membenci perbuatan buruk itu, sebab dia membaur. Maka jika seseorang dalam kondisi seperti ini, lari dari manusia lebih baik dan lebih selamat baginya. Allah ta'ala berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (An-Nisa: 140)

 

Masalah 7

Kita sering mendengar, alasan orang-orang memilih jalan batil dengan hujah apabila tidak diisi oleh orang shalih maka akan terjadi kekosongan pada posisi tersebut lalu diisi oleh ahlul maksiat atau non muslimin dari musyrikin dan murtadin. Ketika ditanyakan mengapa mendekati jalan tersebut dan duduk dalam majlis itu selalu jawabannya adalah; jika orang Islam tidak mengisinya akan diisi oleh ahlul batil. Bahwa amal tersebut merupakan bab meminimalisir keburukan sebisa mungkin.

Pendapat ini menyalahi dalil karena yang wajib adalah i'tizal dari kebatilan. Kita tidak dibebani dengan urusan orang lain, maslahat orang lain, rizki orang lain atau pengelolaan pada orang lain seperti firman Allah:

وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ

Dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka.” (Al-An'am: 107)

Maka tuntutannya pertama dan utama adalah menerapkan hukum Allah yaitu menjauhi kebatilan seperti perintah Allah:

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ

Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji.” (Asy-Syura: 37)

Terdapat sebuah perumpamaan yang mengiris: Mereka ini seperti orang yang melihat wanita ingin berzina. Lalu dia berzina dengannya dengan dalih menutupi aibnya sebagai jalan meminimalkan keburukan daripada dia berzina dengan orang fajir yang kemudian orang fajir ini memviralkannya.

Sesungguhnya orang mukmin yang bertakwa pada Rabbnya dan menginginkan keselamatan agamanya tetapi tidak mampu diatas al-haq sebagaimana yang Allah perintahkan maka dia harus lari dari kebatilan dan tidak mendatanginya. Demikianlah para salaf mencontohkan persoalan ini dan memerintahkannya dengan kuat. Bahkan Imam Sufyan Ats-Tsauri menyebut mendatangi kebatilan dengan dalil memotong jalan kerusakan dan perkara mendesak merupakan tipuan iblis.

 

Masalah 8

Bahwa meminimalisir kejahatan adalah benar tetapi dalam perkara ini terdapat catatan penting:

  1. Fatwa-fatwa yang terbit hari ini kebanyakannya karena hawa nafsu dan minimnya takwa serta wara. Keluar tanpa kajian fiqih yang mendalam dan mumpuni. Hasil dari fatwa-fatwa tersebut malahan menguatkan kebatilan seakan-akan merupakan kedaruratan kaum muslimin untuk membenarkan dan mendatanginya. Sehingga mufti dan pengikut terjatuh kedalam keharaman yang jelas dan gamblang dengan alasan kaidah at-taisir (syariat kemudahan) dan adanya ikhtilaf (perbedaan pendapat). Kita menyaksikan, pengikut mufti ini lebih banyak daripada pengikut dalil karena manusia lebih cenderung pada syahwat dan hawa nafsunya.

  2. Kebanyakan maslahat duniawi ini berbenturan dengan hak Allah ta'ala khususnya berkaitan dengan mentauhidkan Allah pada syariat dan perintah-Nya. Ahlul ilmi sepakat bahwa hak Allah merupakan maslahat paling agung dari maslahat lainnya. Kebutuhan agama lebih didahulukan dari kebutuhan lainnya dari jiwa, harta, kehormatan dan akal. Tetapi kita melihat mereka membolehkan amalan syirik dan kekafiran yang bersesuaian maslahat dunia yang tidak sampai tingkatan darurat.

18 Dzulqodah 1441

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.