Arbain Al-Jiyad Hadits 31: Menyesuaikan Tahapan Dakwah, Seni Hidup Berjamaah dan Tamak Mencari Barakah

Submitted by admin on Sat, 02/27/2021 - 06:46
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْحَمُ اللَّهُ لُوطًا لَقَدْ كَانَ يَأْوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ وَلَوْ لَبِثْتُ فِي السِّجْنِ مَا لَبِثَ يُوسُفُ لَأَجَبْتُ الدَّاعِيَ وَنَحْنُ أَحَقُّ مِنْ إِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لَهُ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; ‘Rahmat Allah semoga terlimpah kepada Luth. Sungguh ia telah bersandar pada sandaran yang sangat kuat. Dan seandainya aku di penjara selama Yusuf dalam penjara tentu aku sudah bersegera memenuhi permintaan (orang yang akan membebaskan aku). Dan kita lebih berhak untuk meminta kemantapan dari pada Ibrahim ketika Allah berfirman kepadanya: ‘Apakah kamu tidak beriman?’ Ibrahim berkata; ‘Tentu, akan tetapi agar hatiku lebih mantap.’’” (Al-Bukhari)

رْحَمُ اللَّهُ لُوطًا لَقَدْ كَانَ يَأْوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ

“Rahmat Allah semoga terlimpah kepada Luth. Sungguh ia telah bersandar pada sandaran yang sangat kuat.”

Di saat situasi kritis nan sulit, ketika nampak padanya sistem kebrutalan najis sepakat melahapnya meledak sebuah harapan yang terbit dari jiwa suci. Dia berdebat dengan kata-kata kebenaran namun yang ia dapatkan justru jawaban:

مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ

“Kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu.” (Hud: 79)

Laki-laki itu memalingkan wajahnya yang suci menahan amarah menggelegak, mengangkat tangannya ke atas, bergetar badannya seperti bara. Dia ingin berteriak seantero lembah siapa yang dapat menolongnya tapi yang ia temukan hanya kehampaan. Mengerang dengan tangisan memilukan, sedih bercampur marah hingga keluarlah kata-kata kelelahan dari lisannya:

قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَىٰ رُكْنٍ شَدِيدٍ

Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)”. (Hud: 80)

Al-Quran mengisahkan kelemahan dan kepedihan Luth alahissalam namun tidak mencelanya. Bagaimana mungkin orang yang ingin menyucikan dirinya yang lemah lagi tertindas oleh suatu kekuatan sistem mapan akan dicela?

Kalimat dalam hadits ini soal keluh kesah Nabi Luth alaihissalam merupakan pelajaran penting sarat makna. Pelajaran bagaimana menghadapi tahapan dakwah. Nabi Luth tidak memiliki kekuatan menahan tekanan sistem yang berlaku, maka ia bersandar pada sandaran yang sangat kuat yaitu Allah yang Maha Kuat lagi Perkasa.

Hadits mulia ini menjadi pegangan. Petunjuk menapaki jalan para Nabi dalam dakwah kepada Allah dan Jihad di jalan Allah. Yakni, jika jalanmu sempit, tapak kakimu terhimpit, dan kabut gelap menyelimuti arahmu ingatlah pada sandaran yang sangat kuat. Bersandarlah padanya berdoa dengan menangis, mengeluh, meratap kelemahan:

اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيَ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

“Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepadaMu, aku menyerahkan urusanku kepadaMu, aku menghadapkan wajahku kepadaMu, aku menyandarkan punggungku kepadaMu, karena senang (mendapatkan rahmatMu) dan takut pada (siksaanMu, bila melakukan kesalahan). Tidak ada tempat perlindungan dan penyelamatan dari (ancaman)Mu, kecuali kepadaMu. Aku beriman pada kitab yang telah Engkau turunkan, dan (kebenaran) NabiMu yang telah Engkau utus.” (Al-Bukhari Muslim)

Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَلَوْ لَبِثْتُ فِي السِّجْنِ مَا لَبِثَ يُوسُفُ لَأَجَبْتُ الدَّاعِيَ

“Dan seandainya aku dipenjara selama Yusuf dalam penjara tentu aku sudah bersegera memenuhi permintaan (orang yang akan membebaskan aku).”

Yusuf alaihissalam manusia paling mulia, beliau adalah karim (mulia) bin karim bin karim. Dijebloskan dalam penjara dalam beberapa tahun terzhalimi dan dimusuhi tanpa kesalahan kecuali hanya karena dia tampan. Memperoleh setengah ketampanan Nabi Adam alaihissalam.

Nabi Yusuf mengingkari kerusakan istri-istri pejabat istana Mesir, hasilnya adalah penjara dengan tuntutan: Karena ketampananmu dan kesucianmu. Seakan-akan mereka mengatakan; kami mengetahui kerusakan istri-istri pejabat istana namun kesucianmu membongkar fakta tersebut sebab itu kami penjarakan ketampanan dan kesucianmu.

Ketika Yusuf alaihissalam menyusuri hari-harinya dalam penjara dengan penuh kesabaran, datanglah utusan petinggi kerajaan menyampaikan undangan; “Raja mengundangmu ke istana ingin bertemu dan berbincang denganmu.” Keputusan bebas tanpa syarat untuk Yusuf yang diteken langsung oleh kepala pemerintahan.

Tetapi Jawab Yusuf menolak:

ارْجِعْ إِلَىٰ رَبِّكَ

“Kembalilah kepada tuanmu.” (Yusuf: 50)

Jika raja bertanya mengapa Yusuf menolak bertemu, katakan padanya:

فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ

“Tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya.” (Yusuf: 50)

Yusuf alaihissalam menolak panggilan Raja, menolak dibebaskan. Tetapi dalam hadits ini Rasulullah mengatakan andai beliau dalam posisi Yusuf, beliau akan memenuhi permintaan sang raja.

Mengapa? Karena perbedaan posisi sehingga keputusannya pun berbeda. Apa yang menjadi pilihannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan menjadi syariat, petunjuk dan tauladan. Rasulullah mengetahui apa yang dilakukannya akan menjadi syariat bagi umatnya sedangkan beliau adalah Nabi yang penyayang pada umat. Keputusan yang beliau pilih harus bisa diemban oleh orang yang lemah bukan hanya orang yang kuat.

Pilihan Yusuf alaihissalam adalah keputusan untuk dirinya sendiri. Siapapun yang memiliki kemampuan seperti Yusuf dipersilahkan mengikuti penolakan Yusuf. Sedangkan pilihan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pilihan untuk umatnya. Beliau tidak memilihkan kecuali yang mudah dan lapang.

Jika kamu harus memutuskan untuk dirimu sendiri, jadilah sepeti sahabat Abu Bashir jika kamu mau. Nyalakan peperangan semaumu, potong jalan-jalan melawan orang kafir, mengumpulkan orang-orang mukmin pilihan untuk hidup beratap langit dan bintang beralas gurun atau hutan. Tetapi ini bukan pilihan jamaah, bukan pilihan pemimpin umat

Pilihan jamaah ialah; memenuhi tuntutan orang-orang kafir selama itu bukan maksiat pada Allah, mengadakan kesepakatan dan mengikat perjanjian. Keputusan pemimpin jamaah keluar setelah menimbang berbagai hal secara komprehensif agar pilihan keputusan tersebut maslahat bagi seluruh orang.

Pilihan Yusuf tidak menyepakati tuntutan penguasa sampai masalah tersebut terbuka secara publik, jika tidak, Yusuf tetap memilih mendekam dalam penjara. Tetapi pilihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengadakan perjanjian Hudaibiyah. Pilihannya adalah pilihan imamah, kepemimpinan bukan pilihan pribadi yang bebas melakukan keputusan.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَنَحْنُ أَحَقُّ مِنْ إِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لَهُ  أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي 

“Dan kita lebih berhak untuk meminta kemantapan dari pada Ibrahim ketika Allah berfirman kepadanya: ‘Apakah kamu tidak beriman?’ Ibrahim berkata; ‘Tentu, akan tetapi agar hatiku lebih mantap.’’”

Untuk memahami faidah dalam kalimat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini, kita tengok kisah Nabi Ayub alaihissalam yang diuji dengan penyakit judzam (kusta atau lepra). Hingga menjadi sangat kurus tanpa daging hingga urat dan tulangnya terlihat. Musibah itu membuatnya kehilangan harta, anak-anaknya serta kasih sayang istrinya.

Dengan kesabaran atas ujian penyakit yang dideritanya itu, Allah kemudian menurunkan obat berupa mata air sebagaimana dalam Al-Quran:

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ (41) ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هَذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ (42)

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabb-nya: “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.” (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (Shad: 41-42)

Ketika Nabi Ayub mandi air tersebut dengan menanggalkan pakaian, jatuhlah di depannya belalang tercipta dari emas dari atas langit. Nabi Ayub segera menangkap dan menyembunyikan dalam kantong bajunya. Sejurus kemudian berseru Rabbnya, “Wahai Ayub, bukankah Aku telah menkayakan dirimu saat ini sebagaimana kamu lihat?”

Maksudnya, bukankah Allah ta’ala telah mengaruniakan kesembuhan yang lebih berharga dari emas. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan penuh kecintaan dan kasih sayang. Dialog yang akan menyingkap apa yang ada di dalam hati Nabi Ayub yang Allah dicintai, yang ditanyakan saat hamb-Nya dalam keadaan telanjang dan malu. Maka kemudian Nabi Ayub menjawab dengan jawaban penuh kecintaan yang menunjukkan pujian pada Allah:

بَلَى وَعِزَّتِكَ وَلَكِنْ لاَ غِنى بِي عن بَرَكَتِكَ

“Benar, demi keagunganMu, tetapi saya sama sekali tidak dapat merasa kaya masih amat membutuhkan pada keberkahanMu.” (Al-Bukhari)

Maksudnya; dalam hatiku tidak pernah terbetik rasa kaya atas apa yang Engkau berikan. Apa yang datang darimu adalah barakah yang tidak aku temukan dari selain Engkau. Sebab semua pemberianmu merupakan barakah rabaniyah sebanyak apapun yang aku temukan aku akan pungut.

Sifat tamak pada barakah Allah juga dicontohkan oleh para Hawariyun pengikut setia Nabi Isa alaihissalam ketika meminta hidangan langit:

إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ ۖ قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ قَالُوا نُرِيدُ أَنْ نَأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَنْ قَدْ صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ

(Ingatlah), ketika Hawariyun berkata: “Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman”. Mereka berkata: “Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu”. (Al-Maidah: 112-113)

Dalam kalimat hadits ini maknanya, Nabi Ibrahim alahissalam menyatakan keimanannya dan teguh dalam jalan iman tetapi beliau selalu merasa kurang pada barakah Allah. Demikianlah seharusnya siapapun yang menapaki jalan iman, dakwah dan jihad ini terus merasa kurang dan mencari barakah Allah sepanjang perjuangannya.

15 Rajab 1442 H / 27 Februari 2021