Arbain Al-Jiyad Hadits 34: Tiga Rumus Kualitas Kebaikan

Submitted by admin on Sat, 03/13/2021 - 00:23
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَجِدُونَ النَّاسَ مَعادِنَ، خِيارُهُمْ في الجاهِلِيَّةِ خِيارُهُمْ في الإسْلامِ، إذا فقِهُوا، وتَجِدُونَ خَيْرَ النَّاسِ في هذا الشَّأْنِ أشَدَّهُمْ له كَراهيةً. وتَجِدُونَ شَرَّ النَّاسِ ذا الوَجْهَيْنِ الذي يَأْتي هَؤُلاءِ بوَجْهٍ، ويَأْتي هَؤُلاءِ بوَجْهٍ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam: “Kalian akan mendapati manusia itu seperti barang tambang. Orang terbaik dalam jahiliyyah akan menjadi yang terbaik dalam Islam apabila mereka faqih agama. Dan kalian akan mendapati manusia yang paling baik dalam hal ini adalah (yang asalnya) manusia yang paling benci terhadap Islam. Dan kalian akan mendapati manusia yang terburuk yang memiliki dua wajah. Dia datang pada suatu kelompok dengan sebuah wajah lalu mendatangi kelompok lainnya dengan rupa lain.” (Al-Bukhari)

Dinul Islam tidak akan bermanfaat kecuali dengan akal yang lurus yang memimpinnya dengan kebijaksanaan. Akal tersebut hanya muncul dari pemikiran yang mendalam yang menghasilkan kebaikan. Sehingga kebaikan tidak akan muncul dari kepala orang-orang bodoh, demikian pula tidak muncul dari orang yang tidak mengerti halal dan haram.

Dalam kehidupan jahiliyah ditemukan orang-orang yang memiliki akal sehat. Ditempa melalui berbagai macam hikmah kehidupan, melewati ujian-ujian bertahun-tahun dan pengalaman panjang. Apa yang mereka miliki ini seperti bahan tambang (mineral) yang berharga dan baik apabila diolah dengan baik, yaitu Islam.

Mereka akan menjadi orang terbaik pada umat ini jika mereka masuk Islam dan memahami Islam. Din yang haq ini tidak akan bermanfaat kecuali bila diletakkan pada wadah yang baik. Wadah yang memiliki akal kebijaksanaan dan lurus. Sedangkan jika wadahnya tidak baik, din ini hanya akan bermanfaat bagi dirinya sendiri tapi tidak bermanfaat bagi orang lain. Tidak diperbolehkan pula dilibatkan menjadi kebaikan bagi umat Islam dan jamaah al-haq. Sebab jika dalam diri seseorang terkumpul kebatilan dan kebodohan, hanya ada perkataan-perkataan dan hafalan tanpa landasan ilmu akan menghasilkan kerusakan.

Din ini tidak akan tegak berdiri kecuali oleh orang-orang yang menyikapi seluruh persoalan kehidupan ini dengan interaksi yang serius dan nyata. Sedangkan orang-orang yang menginginkan diterima oleh semua pihak, berpura-pura pada setiap orang yang dia selisihi, tidak memiliki sebuah prinsip yang jelas dan selalu berubah-ubah…. Mereka tidak bermanfaat untuk din ini.

Din adalah hidayah, namun tidak akan bekerja dengan komponen mesin yang rusak. Din ini seperti cahaya matahari, tetapi cahaya matahari tidak akan bermanfaat bagi orang buta. Supaya orang bisa melihat dibutuhkan cahaya pada kornea dan cahaya matahari. Demikian pula hidayah syariat ini tidak bermanfaat tanpa kelurusan dan kebijaksanaan akal.

Orang yang memiliki akal yang lurus dan bijak akan membimbingnya ke jalan kebaikan dan akan menjadi orang yang diakui ketokohan atau kebaikannya ketika ia berada di lingkungan jahiliyah. Dan saat dia berpindah ke lingkungan kaum muslimin, mereka juga akan menjadi orang terbaik. Inilah fungsi akal sehat yang disebut sebagai tambang.

وتَجِدُونَ خَيْرَ النَّاسِ في هذا الشَّأْنِ أشَدَّهُمْ له كَراهيةً

Dan kalian akan mendapati manusia yang paling baik dalam hal ini adalah (yang asalnya) manusia yang paling benci terhadap Islam.

Mereka adalah kaum yang tidak menyukai basa-basi, mengorbankan semua yang mereka miliki untuk mempertahankan prinsipnya. Mereka akan marah pada siapapun yang menginjak prinsipnya tersebut. Iradah mereka tidak bisa dilemahkan dengan tawaran tetapi mereka siap mengorbankan prinsipnya sampai titik penghabisan.

Maka tatkala mereka tunduk pada Islam, merekapun serupa itu. Totalitas dalam memegang prinsip din ini bersama jamaah al-haq. Mereka akan mengusung al-haq dengan segala risikonya, mempersembahkan diri mereka memerangi musuh-musuh din hingga tetes darah terakhir.

Mereka adalah kaum yang membenci musuh dengan kebencian yang hebat namun mencintai para sahabatnya dengan kecintaan yang sangat hangat. Mereka bukan kaum yang senang berdiri di atas dua kaki. Sedangkan orang yang gamang dan plin-plan dalam memegang al-haq, kita melihat banyak yang justru merusak dinullah ini dan kehidupan manusia.

Seburuk-buruk manusia adalah dzul wajhain (dua muka) yaitu menggunakan akal untuk membenarkan setiap perbuatan dan perkataan orang untuk mendapatkan penerimaan dan ridha. Bentuk kemunafikan. Padahal al-haq itu satu tidak berbilang. Allah telah membedakan antara kebaikan dengan keburukan, adil dengan kezhaliman dan islam dengan kekafiran.

Jika kita tengok perjalanan sejarah umat, tidak akan ditemukan kemuliaan yang dipersembahkan oleh orang-orang yang gamang dan tidak pula dai moderat. Tetapi seluruh kemuliaan dipersembahkan oleh orang-orang yang memiliki prinsip jelas. Mengorbankan dirinya demi kemuliaan umat.

Pada peristiwan fitnah khalqul Quran (Al-Quran adalah makhluk), banyak orang takut pada ancaman pedang, penjara dan siksaan yang membuat fitnah tersebut semakin luas. Tetapi kemudian peperangan ini terhenti di tangan seorang yang menampakkan prinsip dan menghadapinya. Memang pada akhirnya dia menerima reaksi dari aksinya tetapi inilah jalannya; ujian, gangguan kemudian kemenangan dan tamkin (kedaulatan).

Apabila orang yang mengambil rukhshoh seperti dalam peristiwa fitnah khalqul Quran, maka bagaimana dengan orang-orang yang gamang yang ingin mencapai keridhaan setiap orang tanpa timbangan syariat dan din. Tentu saja hanya akan menjadi dosa yang akibatnya menimpa dinullah dan umat Islam.

Terdapat faidah rumusan kualitas kebaikan dalam hadits ini. Siapa yang menginginkan keutamaan hendaknya mengejar tiga poin berikut:

  1. Akal lurus yang penuh kebijaksanaan (عقل رشيد حكيم)
  2. Fikih yang matang dan mendalam (فقه مكين عميق)
  3. Kokoh berpegang pada al-haq dan kuat pada prinsip (صلابة في الحق ومواقف ثابتة)

Keagungan dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menamakan manusia yang memiliki kebaikan dengan bahan tambang. Sedangkan manusia yang penuh kepalsuan disebut dengan dzul wajhain (dua muka).

29 Rajab 1442 H / 13 Maret 2021