Submitted by admin on Tue, 03/16/2021 - 02:39
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنّهُ سَمِعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ بَيْنَمَا امْرَأَةٌ تُرْضِعُ ابْنَهَا إِذْ مَرَّ بهَا رَاكِبٌ “ذو شارة” وَهي تُرْضِعُهُ، فَقالتِ اللَّهُمَّ لا تُمِتِ ابْنِي، حتَّى يَكونَ مِثْلَ هذا، فَقالَ اللَّهُمَّ لا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ، ثُمَّ رَجَعَ في الثَّدْيِ، وَمُرَّ بامْرَأَةٍ تُجَرَّرُ وَيُلْعَبُ بهَا، فَقالَتْ اللَّهُمَّ لا تَجْعَلِ ابْنِي مِثْلَهَا، فَقالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا، فَقالَ أَمَّا الرَّاكِبُ فإنَّه كَافِرٌ (جبّار من الجبابرة)، وَأَمَّا المَرْأَةُ فإنَّهُمْ يقولونَ لَهَا تَزْنِي، وَتَقُولُ حَسْبِيَ اللَّهُ، ويقولونَ تَسْرِقُ، وَتَقُولُ حَسْبِيَ اللَّهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Ada seorang wanita yang ketika sedang menyusui bayinya lewat dihadapannya seorang laki-laki tampan dan gagah sambil menunggang kendaraannya. Wanita itu berkata; ‘Ya Allah, janganlah Engkau wafatkan anakku sebelum dia menjadi seperti pemuda itu.’ Maka spontan saja bayinya berkata; ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti dia.’ Lalu dia kembali mengisap puting susu ibunya. Kemudian lewat dihadapannya lagi seorang wanita yang sedang diseret dan dipermainkan/dihinakan. lalu ibu sang bayi berkata: ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti dia.’ Maka sang bayi berkata; ‘Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia.’ Bayinya selanjutnya berkata; ‘Sesungguhnya pemuda penunggang itu adalah orang kafir (penguasa paling diktaktor lagi bengis) sedangkan wanita tadi adalah wanita yang dituduh telah berbuat zina namun dia berkata, ‘Cukuplah bagiku Allah sebagai Pelindung.’ Lalu dia dituduh pencuri dia pun tetap berkata, ‘Cukuplah bagiku Allah sebagai Pelindung).’’” (Al-Bukhari)

Peribahasa mengatakan tidak ada asap tanpa api. Karena asap tanpa api menyelisihi hukum-hukum alam. Kedustaan yang muncul dari lisan dikonotasikan dengan asap karena efek yang berakibat buruk. Menutupi hidung dan membuatnya tersumbat. Seperti asap ketika menyelimuti hakikat sebenarnya dengan kedustaan, kepalsuan dan propaganda.

Tetapi tidak mungkin ada asap tanpa api. Orang berakal tidak seperti kawanan sapi yang mengekor satu sama lainnya. Sedangkan manusia dengan mudahnya mengatakan apapun melalui lisannya serta membeo orang lain dengan mengatakan: “Katanya, katanya….” Mereka ini seperti kayu bakar yang menyulut fitnah. Sumber keburukan dalam tubuh umat Islam. Menyangka melakukan kebaikan dengan dalil pemurnian, pembersihan dan menyingkap fakta.

Jutaan orang di dunia ini menyakini Isa anak Allah, Maha suci Allah atas tuduhan ini. Bukankah mereka mengetahui jika Isa alaihissalam manusia biasa yang makan, minum, bisa mati dan sakit? Jutaan orang pula, sepanjang sejarah yang berabad-abad meyakini sapi perwujudan dewa suci. Bukankah mereka ini mengetahui jika sapi hanya hewan ternak?

Jika kita bertanya bukti kepada mereka yang memiliki keyakinan tersebut, tentu mereka akan menjawab, “Kata masyarakat!” Mereka hanya mengikuti kata orang. Dalam prinsip ikut kata orang inilah mereka hidup, mati dan berperang di atas kedustaan dan kepalsuan.

Setiap malam dan siang, konspirasi dan makar ditujukan pada umat Islam dan jamaah al-haq. Musuh-musuh Islam memiliki pengalaman yang detil dalam memproduksi konspirasi, memunculkan fitnah, kedustaan dan kepalsuan. Makar mereka ini tidak bisa disanggah kecuali hanya dengan dalil yang Allah turunkan yang cahayanya mampu menyingkap hakikat.

Seperti dalam sejarah masa kenabian, musuh Allah menyalakan fitnah al-ifki al-kubra (kedustaan besar) yang menghantam rumah mulia lagi terjaga kesuciannya. Orang-orang besar bahkan terhasung oleh penyakit nifak karena dahsyatnya fitnah tersebut sehingga mereka mengeluarkan perkataan melalui lisan mereka karena digelincirkan setan.

Saat itu sahabat terpecah menjadi dua kelompok; pertama yang menyarankan agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menceraikan Aisyah radhiyallahu anha seperti saran Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam: “Wahai Rasulullah, Allah tidak menyempitkanmu untuk menikahi wanita, selainnya (yaitu Aisyah) masih banyak wanita lainnya.”

Kelompok kedua yang membela kesucian Aisyah radhiyallahu anha dan mengetahui cinta Rasulullah padanya. Kelompok ini diwakili oleh Usamah bin Zaid bin Haritsah.

Andai fitnah tersebut terjadi pasca terputusnya wahyu tentu saja akan meledak perkataan-perkataan lain yang lebih hebat. Maha suci Allah betapa merusaknya isu dan betapa banyak al-haq dan pemeluknya terzhalimi.

Hingga kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang sangat mengetahui kesucian Aisyah pun berkata:

يَا عَائِشَةُ فَإِنَّهُ بَلَغَنِي عَنْكِ كَذَا وَكَذَا فَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ اللَّهُ وَإِنْ كُنْتِ أَلْمَمْتِ بِذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرِي اللَّهَ وَتُوبِي إِلَيْهِ فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ

“Wahai ’Aisyah, sungguh telah sampai kepadaku berita tentang dirimu begini begini. Jika kamu bersih tidak bersalah pasti nanti Allah akan membersihkanmu. Namun jika kamu jatuh pada perbuatan dosa maka mohonlah ampun kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya karena seorang hamba bila dia mengakui telah berbuat dosa lalu bertaubat maka Allah pasti akan menerima taubatnya”. (Al-Bukhari)

Sabda beliau seperti ini karena sangat dahsyatnya desas-desus yang tersebar pada saat itu. Isu yang terjadi pada haditsul ifki yang menimpa rumah suci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sangat keji. Lalu bagaimana dengan zaman kita hari ini yang kedustaan menjadi sebuah bidang seni ilmu yang dipelajari dan dikembangkan? Kemudian didistribusikan melalui beragam teknologi yang masuk ke dalam rumah-rumah kita seperti radio, tv, komputer dan gadget. Setiap hari kedustaan itu diulang-ulang mempengaruhi telinga, akal dan hati sampai seseorang mendengarnya lebih banyak dari namanya sendiri atau nama ayahnya.

Apa yang hari ini disebarkan mengenai jihad dan pengusungnya? Apa yang dituduhkan pada dai penyeru kebenaran dan din? Apa yang dikatakan pada orang-orang yang berpegang teguh pada sunah dan syariat? Bagaimana wanita berniqab digambarkan? Film yang diproduksi, ejekan yang menyakitkan, dan surat kabar berdasarkan penulis bayaran.

وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ

“Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (Ibrahim: 46)

Waktu kejadian ifki tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengatakan pada Aisyah:

فَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ اللَّهُ

" Jika kamu bersih tidak bersalah pasti nanti Allah akan membersihkanmu."

Turunlah ayat membersihkan nama ibunda Aisyah radhiyallahu anha. Namun sekarang siapa yang bisa mengatakan hal tersebut setelah wahyu putus dari langit? Hasbunallah wa ni’mal wakil.

Allahuma kami memohon rahmat-Mu. Pergolakan marakah hari ini adalah marakah yang memedihkan dan dampak kerugian yang menimpa kita sangat tampak jelas. Hanya hati yang memohon semoga kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.

1 Syaban 1442 H / 14 Maret 2021