Arbain Al-Jiyad Hadits 37: Rakyat Palestina dan Permisalan Ranting

Submitted by admin on Wed, 05/12/2021 - 03:37
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِ صَلَّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَالْخَامَةِ مِنْ الزَّرْعِ تُفَيِّئُهَا الرِّيحُ مَرَّةً وَتَعْدِلُهَا مَرَّةً وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ كَالْأَرْزَةِ لَا تَزَالُ حَتَّى يَكُونَ انْجِعَافُهَا مَرَّةً وَاحِدَةً

Dari Ka’ab radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Permisalan seorang mukmin seperti ranting di suatu pohon, angin mengayun-ayunnya kadang bengkok kadang lurus. Sedangkan permisalan orang munafik seperti tanaman padi yang senantiasa tegak, tapi saat tertiup angin dia langsung roboh (tidak bisa berdiri kembali).” (Al-Bukhari)

Meskipun angin yang sangat kencang menerpa, gelombang pasukan yang tak ada habisnya memukulnya bergantian, ranting kecil itu tetap menempel kuat pada dahan tidak patah. Seperti itulah permisalan mukmin. Betapa ajaibnya ruh iman dan al-haq pada dirinya.

Ranting pohon sangatlah kecil, tempat dedaunan menggantung. Namun sangat kokoh nan kuat walaupun tampak lemah dalam pandangan mata. Angin kencang menggoyang-goyangnya setiap waktu berusaha mematahkannya tetapi ranting tetap tegak menjulur menggenggam dedaunan hijau. Permisalan substansi kecil lagi kokoh ini seperti firman Allah:

إِذْ تُصْعِدُونَ وَلَا تَلْوُونَ عَلَىٰ أَحَدٍ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ فَأَثَابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ لِكَيْلَا تَحْزَنُوا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَا أَصَابَكُمْ ۗ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali-Imran: 153)

Ranting kecil tersebut kemudian memunculkan bakal buah yang kemudian menjadi buah masak siap dipetik seperti firman Allah ta’ala:

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Ali-Imran: 140)

Orang mukmin seperti ranting, harus terguncang saat tertiup angin karena itulah sunatullah sirkulasi kehidupan. Sudah menjadi sunatullah seorang mukmin kadang harus bengkok namun dia akan lurus kembali seperti sedia kala. Tapi bagi munafik, langsung patah dan jatuh saat angin menerpanya tak mampu tegak kembali.

Sebab itu, agar ranting dapat tetap kuat dia harus menempel pada dahan yang kuat pula. Dahan ini merupakan ruh dan hatinya yang mencengkeram ranting dengan teramat kokoh ketika angin meniupnya. Jika dahan patah, semua ranting juga akan turut jatuh dalam sekali waktu. Dzikir seorang mukmin merupakan permisalan dahan, ia pokok kekuatan mukmin menghadapi sunatulah di kehidupan ini.

Substansi kecil yang memiliki keunggulan ini terus akan hidup dalam ujian dan ujian, cabaran dan cobaan dan mereka senantiasa terus bertahan karena akarnya bersambung pada seluruh Nabi dan ruhnya dari ruh Allah. Esensi kehidupan mereka berasal dari hakikat tujuan penciptaan makhluk. Ranting yang akan menghentikan tirani antagonis.

Ranting, dalam jiwanya menyala semangat membara meskipun dia diremehkan karena kecil bahkan patah bila kaki menginjaknya. Dalam jiwanya selalu menggema firman Allah:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali-Imran: 139)

Allah mentakdirkan Palestina menjadi tumbuhan yang memiliki ranting teramat kokoh. Palestina sebidang tanah bagi semua yang tersisa dari al-haq agama-agama langit yang lampau, negeri yang diberkati dalam Al-Quran dan ditakdirkan selalu dalam hati setiap orang apapun itu kelompoknya. Palestina, ranting yang selalu bergoyang ditiup angin kencang tanpa henti dan ujian yang bergelombang tanpa henti sampai turunnya Isa alaihissalam. Sedangkan orang-orang munafik mengatakan: Palestina hanyalah barakah ilusi, kemuliaan palsu bahkan secangkir kopi lebih baik dari seluruh bumi ini.

Allah telah mentakdirkan tanaman ini memiliki ranting-ranting yang mulia yang dilindungi oleh dedaunan rakyat dan semangat ruhnya. Sedangkan orang-orang munafik mengatakan: Tidak ada kemuliaan kecuali dengan tidur nyenyak dan dompet tebal.

Kotoran-kotoran munafikin tersebut akan lenyap tidak mampu berdiri kembali. Namun substansi kecil sebuah ranting, mereka adalah kaum mukminin yang memiliki daya kenyal dan terus akan tegak. Sedangkan angin kekufuran yang mengguncang ranting seperti Amerika di zaman kita, kekuatan angin mereka tidak lebih hebat dari Tartar di zaman lampau. Kesaliban mereka tidak lebih kuat dari kesaliban pasukan salib zaman dahulu. Dan Tartar beserta imperium salib kuno telah lenyap berhadapan dengan keteguhan kaum mukminin:

أَكُفَّارُكُمْ خَيْرٌ مِنْ أُولَٰئِكُمْ أَمْ لَكُمْ بَرَاءَةٌ فِي الزُّبُرِ

“Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-kitab yang dahulu.” (Al-Qomar: 43)

Ranting ini akan selalu condong dan bergoyang namun tidak akan patah dan mati. Dia akan semakin kuat dan tinggi. Kemenangan dan kesudahan yang baik bagi siapapun yang menjadi ranting walaupun bagaimana pedih dan sakit ketika terguncang tertiup angin.

28 Ramadhan 1442 H / 11 Mei 2021