Arbain Al-Jiyad Hadits 38: Rihlah Pendakian Ruh

Submitted by admin on Mon, 05/17/2021 - 13:42
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَبِي الأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُ صَلَّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الذي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لا يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam; ‘Permisalan orang yang berzikir pada Rabbnya dan yang tidak berzikir seperti orang hidup dan mayat.’” (Al-Bukhari)

Dzikir adalah kehidupan karena di sanalah rihlah (perjalanan) ruh, rihlah perasaan dan rasa, rihlah air mata yang mengalir karena rasa takut diiringi dengan air mata harapan. Dalam dzikir, seseorang dapat melihat perjalanan kehidupannya semenjak dia masih di alam lain sebagai makhluk terkecil saat Raja yang Agung mengatakan:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini”. (Al-A’raf: 172)

Sehingga dia siap membawa amanah yang berat lagi agung, melakukan pengorbanan membela cahaya yang dipimpin oleh para Nabi dan digerakkan oleh para Hawariyun. Bagi pemegang amanah sebuah obor yang menjadi cahaya memuji pemilik alam semesta ini dengan dzikir.

Rihlah cahaya dengan dzikir ini yang membuat Allah membanggakan hamba-Nya di hadapan malaikat, “Mereka wali-Ku, kecintaan-Ku dan hamba-Ku.” Orang-orang yang selalu berdzikir seperti kafilah rombongan ruh suci nan thayib. Memohon pertolongan dalam membawa beban amanah yang berat dengan membaca perbendaharaan dari bawah Arsy; lahaula wala quwata illa billah.

Juga membaca al-baqiyah ash-shalihat sebagai suplemen kekuatan dan gizi:

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر

Terpautlah ikatan cinta ketika nama yang disebut si hamba balik menyebutnya:

كَلِمَتانِ خَفِيفَتانِ علَى اللِّسانِ، ثَقِيلَتانِ في المِيزانِ، حَبِيبَتانِ إلى الرَّحْمَنِ: سُبْحانَ اللَّهِ العَظِيمِ، سُبْحانَ اللَّهِ وبِحَمْدِهِ

Ada dua kata yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dicintai oleh Ar-Rahman; Subhanallahilazhim, Subhanallahi wa bihamdih. (Al-Bukhari)

Namun di sana terdapat bumi yang kering kerontang, pepohonan tanpa daun menyisakan ranting dan dahan yang terkapar. Tampak keindahan ilusi dengan jeritan memenuhi lingkungan busuk dengan kehidupan lebih rendah dari sayap nyamuk. Mereka mati demi kehidupan itu, bernapas di dalam lumpurnya, berbangga seperti anjing berebut tulang sembari menyangka telah melakukan amalan terbaik:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُونَ إِلَيْكَ ۚ أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ وَلَوْ كَانُوا لَا يَعْقِلُونَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْظُرُ إِلَيْكَ ۚ أَفَأَنْتَ تَهْدِي الْعُمْيَ وَلَوْ كَانُوا لَا يُبْصِرُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu. Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mengerti. Mereka keluar dengan memamerkan segala kekayaannya. Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu, apakah dapat kamu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan.” (Yunus: 42-43)

Mereka keluar dengan memamerkan segala kekayaannya sembari mengatakan keinginannya meraih kekayaan seperti Karun:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia:”Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". (Al-Qashash: 79)

Namun orang alim yang melihatnya dnegan bashirah karena dzikir kepada Allah kemudian membongkar hakikat kepalsuan mereka dengan mengatakan:

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu:”Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar." (Al-Qashash: 80)

Lalu dia berlalu melanjutkan perjalanan kehidupan dan ruh mendaki perbukitan dengan takbir dan menyusuri lembah dengan tasbih. Bersaksi padanya partikel-partikel bumi, angin, pepohonan dan binatang melata. Bershalawat atasnya dan malaikat langit dan bumi memintakan ampun.

Inilah kehidupan, kehidupan jiwa dan ruh. Sedangkan sisa-sisanya adalah terlaknat dan tertolak. Dunia ini dilaknat kecuali dzikir pada Allah.

وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al-Kahfi: 46)

رَكْعَتَا الفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat shalat fajar (qabliyah shubuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.” (Muslim)

Inilah hakikat dan perbendaharaan harta yang selalu dilisankan oleh orang berakal dalam diamnya. Hidup ruhnya karena keberadaan bukan karena adanya saja tetapi pencapaiannya meraih tujuan. Sedangkan tujuan teragung adalah ibadah. Saat bisa meraih tujuan, hiduplah ruh. Sehingga dzikir kepada Allah adalah ruh menyusuri kehidupan ini.

Ketika terhenti kalimat tauhid yang diucapkan makhluk, berdirilah kiamat dan selesailah kehidupan. Saat itu tidak ada satupun manusia yang di bumi yang mengucapkan “Allah.” Hari itu tidak ada yang tersisa kecuali mayat dan bahan bakar jahanam.

Dalam perjalanan, dai, mujahid, ulama dan ahli ibadah mereka meninggalkan dunia di belakang mereka. Apabila lalai, segera mereka berdzikir untuk segera meluruskan kembali rute.

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (Al-A’raf: 201)

Bersamanya ketenangan hati:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Radu: 28)

Bersama mereka perdagangan yang penuh keuntungan; apabila menerima kebaikan bersyukur dan apabila mendapat kesusahan mereka bersabar. Semua perkara yang menimpa mereka kebaikan bagi mereka bahkan jika terbunuh itu menjadi rahmat dan bila wafat itu juga rahmat:

وَلَئِنْ قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.” (Ali-Imran: 157)

Bersama mereka membersamai malaikat, maka janganlah mata ini jauh dari memandang mereka seperti firman Allah ketika mengisahkan ashabul kahfi :

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

Mereka adalah pemuda ghuraba yang berhijrah dan melarikan diri membawa din. Tirani dunia dibuat sibuk, mengirim segala pasukan dan membelanjakan dana untuk menangkap mereka. Sejarah yang agung ini telah berlalu berabad-abad lampau tanpa membuka nama-nama pelaku hanya disebut sebagai fityah (pemuda). Allah mengabadikan kisahnya dalam kitab-Nya yang agung kepada seluruh semesta padahal mereka bukan raja, ulama atau pasukan komando. Mereka hanyalah para pemuda yang lemah bersembunyi dalam gua tanpa harta, lampu penerang. Seperti merekalah kita harus mencontoh.

Sejarah para pemuda tanpa istana, harta, pasukan bahkan tidak memiliki apapun dari dunia ini. Bila kita ingin menjadi pemuda kahfi, palingkan wajah pada mereka.

Tetapi jika memilih bersama orang-orang yang lalai dari dzikir Allah. Kan ditemukan semua yang diinginkan dari perhiasan kehidupan dunia, kedudukan mulia di sisi Firaun, harta bergelimang di sisi Qarun, ditemukan apapun yang kita inginkan namun kita akan menjadi seperti anjing menanti belulang sedang azab akhirat menanti kita, waliyadzubillah.

Bersama para pemuda kahfi, bersama orang-orang yang berdzikir pada Allah akan ditulis sejarah lain. Sejarah Badar, Uhud, Khandak. Sejarah yang ditoreh dengan darah dan syuhada, mewarnai hari-hari dengan pemuda muhajir, pemuda yang tertawan dibalik sel, pemuda yang berperang dan terbunuh. Ada hari dimana kita menyusuri jalan perjuangan dan ada hari waktu kita membangun generasi bersama istri. Suatu ketika kita meminum bersama dan suatu waktu yang lain kita bersama kelaparan.

Inilah sejarah orang-orang yang hidup bersama shalihin dengan dzikir. Sedangkan disana terdapat sejarah orang-orang mati yang gersang dari catatan sejarah.

1 Syawal 1442 H / 13 Mei 2021