Arbain Al-Jiyad Hadits 39: Dzikir dan Berpikir

Submitted by admin on Mon, 05/17/2021 - 14:03
Penulis
Tauhid wal Jihad

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ ، فَقُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَطُرِحَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِسَادَةٌ ، فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طُولِهَا ، فَجَعَلَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ ، ثُمَّ قَرَأَ الآيَاتِ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ آلِ عِمْرَانَ ، حَتَّى خَتَمَ ثُمَّ أَتَى سِقاَءً مُعَلَّقًا ، فَأَخَذَهُ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي

Berkata Ibnu ’Abbas radhiyallahu ‘anhu: “Suatu hari aku menginap di rumah bibiku Maimunah, lalu aku berkata padanya; ‘Sungguh aku ingin melihat shalat (malam) Rasulullah.’ Maka (bibiku) menyiapkan bantal bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam setelah itu beliau tidur di pembaringan bagian sisi panjangnya. Ketika bangun (malam) mengusap kantuk dari wajahnya lalu beliau membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali Imran hingga selesai. Kemudian beliau menuju ke geriba air minum yang tergantung, beliau berwudhu darinya lalu beliau shalat.’” (Al-Bukhari)

Dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan kesempurnaan seorang mukmin; dzikir dan berpikir.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan batil, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran: 191)

Dzikir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tatkala bangun malam bersiap qiyamullail dengan membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali Imran. Dzikir mengingat Allah Rabb semesta, dzikir mengingat negeri akhirat, dzikir membaca Kitabullah yang semua itu menguatkan ruh.

Dzikir harus diimbangi dengan berpikir; maknanya mengerahkan potensi akal untuk menimbang dan menganalisis. Berpikir agar dapat memahami sunah kauniyah dan qadariyah kehidupan ini dan memahami bagaimana Allah menundukkan mahkluk yang telah Ia ciptakan bagi manusia.

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (Al-Jasiyah: 13)

Menundukkan sesuatu tidak bisa dilakukan kecuali dengan itqan (ketelitian, kesungguhan serta penguasaan). Yaitu dengan mengenal sunatullah didalamnya. Semakin manusia memahami sunatullah maka semakin dia dapat menundukkan apa yang ada di langit dan bumi. Sehingga dia mengatakan:

مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا

“Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan batil.”

Sebaliknya orang-orang yang menolak untuk memahami sunatullah akan mengatakan:

هَٰذَا بَاطِلًا

“Penciptaan ini batil.”

Batil adalah sesuatu yang tidak berfaedah; perkataan yang menunjukkan kebodohannya pada hikmah Allah dan kesucian-Nya. Sebab tidaklah Allah menciptakan sesuatu di langit dan bumi kecuali ada manfaatnya bagi manusia.

Supaya kita dapat memahami sunatullah dengan baik, maka perlu memasukinya melalui pintunya terlebih dahulu. Pintu memerlukan kunci untuk membukanya yaitu ilmu mengenai takdir penciptaan sampai mencapai pemahaman yang akan membimbingnya.

Sedang ayat-ayat kauniyah (kosmos) merupakan tanda-tanda untuk memahami sunatullah. Ayat juga berarti alaqah (hubungan atau keterkaitan) yang memiliki banyak makna. Di antara maknanya adalah petunjuk siapa yang menciptakan-Nya, keagungan-Nya, dan hikmah-Nya. Orang yang memiliki akal sehat akan menemukan makna tersebut.

Dzikir tidak akan membuahkan ketenangan hati kecuali jika dibarengi dengan cara berpikir yang sehat (al-fikru as-salim) dengannya ia bisa memahami sunatullah. Sedangkan orang-orang yang menggunakan cara berpikirnya dengan cara khurafat dan menolak sunatullah dia tidak akan mencapai janji ilahi dari pertolongan, kemenangan sempurna (tamkin) dan izah. Inilah makna firman Allah ta’ala:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ ………. وَيَتَفَكَّرُونَ

“Orang-orang yang berdzikir…….. dan berfikir.”

Yang menghasilkan pengakuan:

مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا

Inilah yang disebut seseorang faqih; mendapatkan bashirah pengetahuan alam syahadah dan juga alam ghaib. Dia memantau pergerakan alam ghaib untuk memelihara pergerakan alam nyata.

Rasa pengangungan Allah dalam hati bisa terwujud dengan mengenal qudrah-Nya (kekuasaan-Nya). Mengenal qudrah Allah tidak bisa kecuali dengan mengerti makhluk-Nya; caranya dengan tafakur, pengamatan, menganalisis, pengembaraan dan studi. Mereka inilah yang disebut ulil albab.

Mengapa kekafiran walaupun memiliki kekuatan yang melebihi kaum mukminin dapat dikalahkan? Karena mereka kaum yang la yafqahun (tidak faqih, tidak memahami). Mereka bukan golongan ulil albab seperti firman Allah:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak faqih.” (Al-Anfal: 65)

Maka, hakikat pergulatan adalah antara kaum yang faqih pada al-haq dari syariat dan sunatullah versus kaum yang sesat tidak faqih syariat dan sunatullah. Permusuhan antara ulil albab versus ad-dhalin (orang-orang sesat).

2 Syawal 1442 H / 14 Mei 2021