Arbain Al-Jiyad Hadits 4: Barometer Ikhlas atau Riya dalam Beramal

Submitted by admin on Thu, 07/23/2020 - 01:31
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَشْعَثَ رَأْسُهُ مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ إِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ إِنْ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam beliau bersabda: “Binasalah hamba dinar, dirham, beludru dan hamba (pakaian) khamishah. Jika diberi maka ia ridha jika tidak diberi maka ia mencela. Binasalah dan merugilah ia, jika tertusuk duri maka ia tidak akan terlepas darinya. Beruntunglah hamba yang mengambil tali kendali kuda fi sabilillah, rambutnya kusut dan kakinya berdebu. Jika ia ditugaskan berjaga maka ia tetap dalam penjagaan, jika ia ditugaskan dibarisan belakang maka ia tetap berada di barisan belakang. Jika ia meminta izin maka ia tidak akan diberi izin, dan jika bertindak sebagai pemberi syafa’at (penjamin) maka tidak diterima syafaatnya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan kebinasaan dan kecelakaan pada orang-orang yang menghamba pada dunia. Beliau doakan:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ

“Binasalah hamba dinar, dirham, beludru dan hamba (pakaian) khamishah.”

Maksud hamba dalam hadits ini adalah orang yang mencurahkan segala cinta dan takutnya disertai rasa tunduk dan taat pada perkara dunia seperti harta, pangkat, jabatan atau kekuasaan. Disebut dia beribadah pada perkara itu.

Orang yang melakukan ibadah disebut abdun atau hamba. Secara bahasa ibadah berarti al-khudu (ketundukan) dan ath-thoah (ketaatan). Dikatakan:

عَبَّدتُ الطريق

Maksudnya aku membuat jalan itu supaya mudah dilewati, yaitu dengan berusaha keras menyingkirkan berbagai macam halangan di jalan tersebut.

Setiap yang mengikuti atau berusaha atas sesuatu dengan adanya cinta dan takut dia disebut beribadah padanya. Terdapat timbangan indikator untuk membedakan antara orang yang beribadah pada Allah atau beribadah pada dinar, dirham dan pakaian yaitu seperti sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Jika diberi maka ia ridha jika tidak diberi maka ia mencela.”

Itu terjadi karena niatnya dan tujuannya mendapatkan dunia yang dia inginkan. Siapa yang menegakkan shalat dan ibadah lainnya seperti jihad, mengajar ilmu demi dirham lalu dia bahagia bila memperolehnya atau bersedih bila tidak memperolehnya menjadi indikasi peribadatan manusia ketika mengerjakan amalnya tersebut.

Kalimat hadits ini menjadi barometer antara ikhlas dan riya yang mengimplementasikan makna ibadah secara bahasa karena ibadah secara bahasa adalah tunduk dan ketaatan, yaitu makna ketundukan hati dan ketaatan batin. Siapa yang tunduk pada sesuatu dengan mencintainya sampai menjadi tujuan dan cita-citanya maka disebut dia mengibadahinya.

Kalimat:

تَعِسَ وَانْتَكَسَ

“Binasalah dan merugilah ia.”

Yaitu keadaan orang yang beramal tidak ikhlas dia tidak akan istiqamah dan tidak akan bersabar. Bahkan dia akan berbalik ketika dia tidak mendapatkan dunianya. Sabda ini merupakan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa siapa yang beramal bukan karena wajah Allah akan merugi. Allah ta’ala berfirman mengenai keadaan orang tersebut:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Al-Haj: 11)

Kalimat:

طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Beruntunglah hamba yang mengambil tali kendali kuda fi sabilillah.”

Kalimat hadits ini sampai akhir hadits merupakan ketentuan hakikat jihad fisabilillah, murni jihad ikhlas di jalan Allah dan menyingkirkan dari semua niat lain. Salah satu tanda keikhlasan mujahid yaitu tidak menginginkan perkara dunia lainnya baik pada penampilan, pekerjaan atau keadaan.

Kalimat:

أَشْعَثَ رَأْسُهُ مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ

“Rambutnya kusut dan kakinya berdebu.”

Salah satu indikator keikhlasan seseorang adalah pada penampilan yaitu dia tidak menginginkan penampilan yang dipandang manusia, termasuk jabatan atau kedudukan di mata manusia. Rambutnya kusut dan kakinya berdebu dikarenakan dia melakukan inghimas dalam jihad; menenggelamkan dirinya dalam jihad secara total tidak memedulikan manusia, jabatan dihadapan manusia dan penghargaan ucapan manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan gambaran orang yang total menyibukkan diri pada amalan jihad dengan ikhlas. Tetapi tidak diartikan bahwa mesti harus keadaannya berlumpur seperti itu, tetapi hanya sebagai contoh bahwa dia total dengan amalannya karena Allah ta’ala.

Kalimat:

إِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ

“Jika ia ditugaskan berjaga maka ia tetap dalam penjagaan, jika ia ditugaskan di barisan belakang maka ia tetap berada di barisan belakang.”

Dia tidak pilih-pilih amalan yang memiliki prestise dihadapan manusia. Tetapi melakukan amalan yang dipandang cocok oleh amirnya atau yang sesuai dengan kemampuan dirinya. Amalan itu menjadi “amalan tersembunyi” karena diremehkan manusia oleh sebab kurangnya persaingan dan perebutan. Amalan-amalan yang kurang reputasi dan rendah jabatannya di dunia.

Meskipun kecil di mata manusia, jihad tidak bisa berdiri kecuali dengan amalan itu. Tetapi manusia menganggapnya hanya sebagai amalan khidmat yang tampak remeh yang malahan melalaikan mereka dari jihad yang mereka sukai. Betapa jauh perbedaan antara beramal untuk dunia dan upah dengan beramal untuk fisabililah.

Kalimat:

إِنْ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ

“Jika ia meminta izin maka ia tidak akan diberi izin, dan jika bertindak sebagai pemberi syafa’at (penjamin) maka tidak diterima syafaatnya.”

Konsekuensi tersebut didapat karena dia menyibukkan diri pada amalan batin sehingga manusia tidak mengenalnya. Tidak terkenal nama, nasab dan pula amalannya. Namun pada hakikatnya, ahlul iman pasti akan mengenal mereka dan akan mencari mereka.

Umar bin Khathtahb pernah berkata mengenai Salim budak Huzhaifah: “Jika Salim budak Huzaifah masih hidup akan aku angkat dia menjadi amir.”

Umar adalah seorang sahabat yang sangat jeli mengenal potensi manusia walaupun mereka bersembunyi. Soal ini beliau belajar dari Abu Bakar, kata Umar, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar, dia lebih ahli mengenal potensi manusia dariku.”

Sebagian dari mereka meninggalkan jabatan karena lebih menyukai bersembunyi dari manusia. Omongan negatif manusia pada mereka tidak merubah keikhlasannya. Sebab manusia apabila beramal dimaksudkan untuk selain Allah akan marah ketika dipandang negatif oleh orang lain, seperti firman Allah:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (At-Taubah: 58)

Tanda tidak ikhlas amal seseorang ketika dia terus menerus menceritakan jasa-jasanya untuk menunjukkan pada orang lain bahwa dia memiliki peran yang tidak mampu dilakukan oleh orang lain. Lalu saat manusia mencibirnya dia akan marah akhirnya meninggalkan amal shalih. Contoh kalimat yang terdengar:

“Aku telah mengatakan perkataan kebenaran dan aku mendapatkan risiko di jalannya. Ketika itu tidak ada seorangpun menolongku dan tidak ada yang peduli. Jadi mereka tidak berhak mendapat kedudukan apapun.”

Orang yang mengatakan perkataan seperti ini mengakibatkan amalnya terhapus. Kalau kita perhatikan pada sejarah orang-orang yang beramal pada agama Allah kita akan paham, kasus seperti ini terus terulang membongkar niat dalam hati manusia pada amal dan jihadnya.

Kaum anshar mempersembahkan segalanya, harta, ruh, dan anak. Mereka tidak mendapatkan dunia apapun. Bahkan rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan pada mereka mengenai risiko yang akan diterima, maka diperintahkan untuk sabar dan mereka bersabar. Dengan kesabaran tersebut Allah meridhai mereka dan mereka ridha pada Allah.

Mereka melihat di hadapan mata harta berlimpah dibagi-bagi pada orang yang dahulu mereka perangi atas Islam, seperti terjadi pada perang Hunain. Lantas di antara mereka ada yang mengeluh. Maka Rasul bersabda: * “Apakah kalian rela manusia pulang membawa kambing dan unta sedang kalian pulang bersama Rasulullah ke rumah kalian?”* Para anshar Rasulullah akhirnya menangis bahagia atas apa yang mereka bawa pulang ke rumah sembari mengucapkan: “Kami ridha.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak meminta secuil dunia pada umatnya kecuali hanya permintaan umatnya mencintai keluarganya seperti firman Allah:

قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ

“Katakanlah: ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.’” (Asy-Syura: 23)

Lihatlah sahabat agung seperti Saad bin Abi Waqash malahan sibuk membuat tempat minum unta saat manusia berebut kursi khalifah. Padahal mereka yang berebut kekuasaan itu adalah orang-orang yang masuk Islam melalui dirinya dan sahabat lainnya.

Khilafah telah berpindah tangan pada orang-orang yang dahulu diperangi atas Islam seperti yang dilihat oleh Ibnu Umar dan dia bersabar. Tenanglah hatinya saat mengingat janji Allah pada kenikmatan janah.

Jadi dari pelajaran ini terdapat dua keadaan orang yang beramal: 1. Keadaan orang yang marah ketika keinginannya tidak terpenuhi. 2. Keadaan orang yang beramal untuk akhirat dan itu menjadi kepentingannya, keinginannya tanpa menginginkan kompensasi apapun. Dia tidak peduli apabila dia tidak mendapatkan kedudukan.

2 Dzulhijjah 1441H