Arbain Al-Jiyad Hadits 41: Berharap Janah

Submitted by admin on Thu, 05/20/2021 - 23:41
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ إِقْرَؤُوْا إِنْ شِئْتُمْ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah tabaraka wa ta’ala berfirman: “Aku telah menyiapkan bagi hamba-hambaku yang shalih sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas dibenak manusia.” Abu Hurairah berkata: “Bacalah (firman Allah): ‘Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang disembunyikan bagi mereka, yang indah dipandang.’” (Al-Bukhari)

Di atas hidangan mulia ini berakhir perjalanan penuh debu beronak duri. Di meja tersebut akhir dari perjalanan kafilah yang kenyang serangan makar musuh. Banyak di antara mereka terluka bahkan terbunuh akibat serbuan bertubi-tubi dari seluruh arah mata angin.

Kafilah ini melangkah dengan perut kosong, sedangkan singa predator dan anjing-anjing mengelilingi mereka ingin melahapnya menjerumuskan pada dunia. Mereka tetap melangkah sabar terengah-engah, dalam hati mereka menggumam: “Waktu istirahat saat bertemu Ar-Rahman.”

Sekarang waktunya mereka menerima balasan dari Allah ta’ala dan merasakan kenikmatan abadi. Rombongan tersebut telah bersungguh-sungguh seteguh gunung, ruh mereka naik meninggi dengan doa:

رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam janah dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (At-Tahrim: 11)

Apakah terdapat sebuah buku yang tidak diharumkan isinya tanpa menyebut mengenai janah? Majelis yang dimuliakan tanpa menyebut janah? Bukankah janah yang membuat musafir sibuk hatinya memikirkan segala kenikmatan sehingga dia bisa melupakan segala penatnya? Bukankah mengingat janah yang membuat ia melupakan luka-luka cambukan algojo, luka borgol penjara dan injakan sepatu pasukan bersenjata?

Bukankah janah yang membuat seseorang bangkit dari tidur kemudian berdiri bermunajat pada Maula yang ia cintai? Bukankah janah yang memotivasi seseorang menerjang barisan musuh menerobos kengerian? Bukankah janah yang meringankan rasa sakit karena hijrah meninggalkan anak-anak dan negeri? Bukankah janah yang membuat mata ini menangis menahan rindu? Bukankah janah kenikmatan indah yang membuat hati tidak tamak pada hidangan dunia memilih berpuasa dengan sabar?

Di janah tempat berkumpulnya orang-orang yang saling mencintai bersama Allah ta’ala Rabb yang mereka cintai. Rabb yang selalu mereka sebut dalam dzikir sepanjang perjalanan di dunia padahal mereka hanya melihat ayat-ayat-Nya saja. Sekarang waktunya disingkap tabir agar perindu dapat mendapat kenikmatan melihat Rabb yang mereka cintai.

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnya mereka melihat.” (Al-Qiyamah: 22-23)

Inilah janah yang memisahkan antara ruh buruk dengan ruh yang baik. Ruh buruk tercampakkan karena ridha dengan kerendahan dan menerima kesenangannya disegerakan serta lalai dari janji-janji kesenangan nan abadi. Tetapi ruh yang baik ialah yang bersabar dengan perkara-perkara yang dibenci. Berlalu dengan kesabaran di atas kesabaran.

Yakinilah, segala kenikmatan janah sedang menunggu. Tugas kita hanyalah bersungguh-sungguh mencari perbekalan. Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك.

(ربّنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا ربّنا ولا تحمل علينا إصراً كما حملته على الذين من قبلنا ربّنا ولا تحمّلنا ما لا طاقة لنا به واعف عنّا واغفر لنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين).

SELESAI

8 Syawal 1442 H / 19 Mei 2021