Arbain Al-Jiyad Hadits 6: Mencukupkan Al-Quran Sebagai Hujah Bukan Bukti Kauniyah

Submitted by admin on Thu, 08/13/2020 - 10:08
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُ صَلَّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مِنْ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ أُومِنَ أَوْ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنِّي أَكْثَرُهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam: “Tidak seorang Nabipun kecuali ia diberi beberapa mukjizat yang tak serupa dengannya sehingga manusia mengimaninya atau sehingga manusia dijadikan beriman. Namun yang diberikan kepadaku hanya berupa wahyu yang Allah wahyukan kepadaku, maka aku berharap menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat.”

Hadits ini membicarakan beberapa masalah pembahasan yaitu:

 

Masalah 1

مَا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مِنْ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ أُومِنَ أَوْ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ

Tidak seorang Nabipun kecuali ia diberi beberapa mukjizat yang tak serupa dengannya sehingga manusia mengimaninya atau sehingga manusia dijadikan beriman.”

Orang musyrikin Makah menuntut Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam memperlihatkan mukjizat kauniyah seperti yang berlaku pada Nabi-nabi sebelumnya sebagai syarat keimanan mereka. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dituntut untuk memberikan bukti nyata kebenaran risalah dengan tanda-tanda keajaiban yang dapat dilihat oleh panca indera.

Namun Allah ta’ala menyampaikan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa mukjizat kauniyah tidak akan menyebabkan mereka beriman. Permintaan ini juga telah dikatakan oleh kaum terdahulu dan akhirnya mereka tetap kafir, Allah ta’ala berfirman:

وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ

Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu.” (Al-Isra: 59)

Allah ta’ala juga berfirman:

فَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا لَوْلَا أُوتِيَ مِثْلَ مَا أُوتِيَ مُوسَىٰ ۚ أَوَلَمْ يَكْفُرُوا بِمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ قَالُوا سِحْرَانِ تَظَاهَرَا وَقَالُوا إِنَّا بِكُلٍّ كَافِرُونَ

Maka tatkala datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata: ‘Mengapakah tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti yang telah diberikan kepada Musa dahulu?’. Dan bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang telah diberikan kepada Musa dahulu?; mereka dahulu telah berkata: ‘Musa dan Harun adalah dua ahli sihir yang bantu membantu’. Dan mereka (juga) berkata: ‘Sesungguhnya kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu’. (Al-Qashash: 48)

Al-Quran membongkar kedustakaan musyrikin bahwa mereka tidak akan beriman meskipun diperlihatkan mukjizat kauniyah. Mereka hanya ingin membantah dengan kebatilan dan melemahkan kebenaran. Sebab itulah, Allah ta’ala tidak menjadikan bukti kauniyah sebagai mukjizat terbesar Nabi penutup shalallahu ‘alaihi wassalam. Allah mengetahui apabila didatangkan ayat kauniyah juga akan tetap dibantah oleh musyrikin seperti terjadi pada umat Nabi terdahulu. Allah ta’ala berfirman:

وَقَالُوا لَوْلَا يَأْتِينَا بِآيَةٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ أَوَلَمْ تَأْتِهِمْ بَيِّنَةُ مَا فِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ

Dan mereka berkata: ‘Mengapa ia tidak membawa bukti kepada kami dari Rabbnya?’ Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu?” (Thaha: 133)

Ayat ini mengandung pengertian, tanda-tanda kauniyah yang ditampakkan dihadapan musyrikin umat sebelumnya tidak membuat mereka beriman. Karena itu Allah tidak menampakkan bukti-bukti kauniyah tersebut pada Nabi setelahnya seperti firman Allah:

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَىٰ بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat.” (Al-Qashsas: 43)

Dalam ayat ini menunjukkan, kaum terdahulu menerima penghancuran total ketika mereka durhaka. Pemusnahan ini menjadi bukti-bukti kauniyah terbesar. Namun pemusnahan secara masal telah berhenti pada umat setelahnya dan Allah hanya menghancurkan desa atau kota pada sebagian kaum saja seperti firman Allah:

وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (Al-Isra: 58)

 

Masalah 2

وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ

Namun yang diberikan kepadaku hanya berupa wahyu yang Allah wahyukan kepadaku.”

Hujah terbesar bagi Nabi terakhir shalallahu ‘alaihi wassalam adalah Kitabullah ta’ala bukan bukti-bukti kauniyah. Meskipun Nabi juga mendapat mukjizat-mukjizat bukti-bukti kauniyah tetapi itu bukan menjadi mukjizat terbesar. Bahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam tidak menerima bukti-bukti kauniyah dengan dihancurkan suatu kaum.

Al-Quran adalah hujah dia juga hidayah. Para sahabat telah mengaitkan hidayah yang diterima oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam atas sebab mengikuti Al-Quran. Sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakar As-Shidiq radhiyalahu anhu dalam khutbah baiat khilafah: “Ama badu, Allah telah memilih Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wassalam dengan apa ada disisinya juga ada disisi kalian (yaitu Al-Quran). Inilah Kitab yang telah telah memberi petunjuk pada rasul kalian. Ambil dia maka kalian akan tertuntun.”

Al-Quran dan Al-Hadits adalah warisan kita sebagai hujah dan hidayah. Sehingga kita tidak membutuhkan bukti-bukti kauniyah dalam jihad dan dakwah kita untuk meyakinkan pada masyarakat kebenaran hukum-hukum syariat. Allah ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7)

Namun apabila ditemukan karamah kauniyah pada wali-wali-Nya hal tersebut merupakan tambahan rahmat dari Allah agar hatinya menjadi tentram seperti yang telah diminta oleh Ibrahim alaihissalam:

رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

“’Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati’. Allah berfirman: ‘Belum yakinkah kamu?’ Ibrahim menjawab: ‘Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).’” (Al-Baqarah: 260)

Mengenai ayat di atas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

نحن أحقّ بالشّك من إبراهيم

Kita lebih berhak ragu-ragu dari pada Ibrahim.”

Makna hadits yaitu kita memohon ketentraman yang bisa menambah keimanan dan keyakinan. Jadi patokannya adalah pada dalil yang menjadi ukuran al-haq bukan pada bukti kauniyah. Kamu berada di atas al-haq ketika kamu menang selama kamu di atas dalil. Kamu berada di atas al-haq ketika kamu hancur selama kamu di atas dalil. Kamu berada di atas al-haq ketika Allah mengabulkan doamu selama kamu di atas dalil. Kamu berada di atas al-haq ketika Allah menangguhkan doamu selama kamu di atas dalil. Kamu di atas al-haq selama di atas dalil walaupun musuhmu berjalan di atas air atau bahkan terbang.

 

Masalah 3

فَأَرْجُو أَنِّي أَكْثَرُهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Maka aku berharap menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat.”

Istiqamah merupakan karamah yang paling agung sedangkan keteguhan merupakan pertanda kejujuran. Sehingga yang kita minta pada Allah adalah karamah istiqamah bukan karamah kauniyah.

Betapa banyak orang-orang masuk Islam atau bergabung dalam kelompok perjuangan ketika melihat keteguhan para pejuang agama ini. Merupakan keajaiban dalam kehidupan ini ketika keyakinan malahan semakin kuat saat kondisi melemah. Dan inilah yang kita saksikan hari ini pada kelompok kelompok jihad, walhamdulillah atas nikmat dan karamah-Nya.

23 Dzulhijah 1441 H

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.