Arbain Al-Jiyad Hadits 7: Mencerca Muslim Adalah Fasiq dan Memeranginya Adalah Kufur

Submitted by admin on Tue, 08/25/2020 - 03:32
Penulis
Tauhid wal Jihad

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam: “Mencerca orang muslim adalah fasiq dan memeranginya adalah kufur.”

Masalah 1

Menyakiti sesama muslim dengan lisan maupun perbuatan merupakan perkara haram termasuk salah satu kabair (dosa besar). Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menerangkan mengenai hukum mencela sesama muslim dengan lisan. Bisa dengan cara memaki, mencerca, mengata-ngatai atau sejenisnya yang menyebabkan hatinya terluka dan tersakiti. Dalam hadits lainnya Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (Muslim)

Sehingga tidak boleh mencerca harta, darah maupun kehormatannya. Tidak boleh menyakitinya baik dengan perbuatan maupun perkataan.

Masalah 2

Menahan lisan dari mencela harta, darah dan kehormatan saudara muslim merupakan bentuk kebagusan jiwa. Seperti sebuah bangunan, tidak akan bermanfaat bagi manusia kecuali bila struktur bangunan itu kokoh. Demikian pula seorang muslim, bila jiwanya bersih dia akan mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Manusia itu memiliki energi yang harus dihantarkan dan disalurkan. Jika energi tersebut tidak disalurkan pada al-haq dia akan disalurkan pada kebatilan. Tidak ada energi yang kemudian terpendam, pasti mau tidak mau akan dikeluarkan. Seorang muslim apabila dia tidak berkata baik atau diam dia akan mengatakan keburukan.

Masalah 3

Kekuatan umat hanya akan bisa terwujud dengan berjamaah dan bersatu. Tetapi persatuan tersebut tidak mungkin digapai kecuali dengan cinta dan penghormatan pada sesama muslim. Faktor tersebut tergantung pada keimanan. Sehingga tidak ada cara paling afdhal merealisasikan kekuatan umat dari menyempurnakan kekuatan iman mereka agar terjadi persatuan di atas al-haq. Dengan kekuatan iman, seorang muslim akan tercegah untuk mencela sesama muslim lainnya.

Di akhirat, keselamatan seorang mukmin tergantung dengan keimanan pribadi masing-masing. Tetapi di dunia, indikasi kekuatan keimanan adalah dengan cara berkumpul, berjamaah dan bersatu. Semakin kuat iman kaum muslimin mereka akan semakin mengkristal berkumpul dan bersatu di atas al-haq. Dari sinilah dimengerti mengapa menyendiri dari jamaah termasuk dosa besar.

Masalah 4

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam memerintahkan untuk menjauhi tujuh dosa besar diantaranya yang beliau sebut:

التَّعَرُّبِ بَعْدَ الْهِجْرَةِ

“Ta’arub setelah hijrah.” (Thabrani dalam Al-Kabir)

Ta’arub (membadui/menjadi badui) artinya hidup dan berakhlak seperti orang badui tanpa berkelompok dan menjauhi kerumunan orang serta tidak memperdalam agama. Dalam hadist ini bermakna; berkumpul merupakan bagian dari iman sedangkan menyendiri seperti kehidupan badui merupakan dosa besar.

Tempat-tempat pelosok yang sangat jauh dari perkotaan dan desa menjadi basis kebodohan karena jauh dari ilmu dan peradaban. Terlebih apabila kehidupan mereka terpisah-pisah menyendiri satu dengan yang lainnya. Dalam sejarah tercatat, orang badui dimanfaatkan musuh untuk berbenturan dengan Islam dan kaum muslimin. Para ahlul ilmi telah menyebutkan bahwa penyebab kebodohan khawarij akibat kesendirian mereka di tengah padang pasir menjauhi kebudayaan Islam dan kota-kotanya.

Orang-orang yang berasal dari badui ini juga yang telah berperan menggulingkan khilafah bersama Inggris. Sekarang ini merekalah yang bergabung bersama Yahudi di Palestina.

Ta’arub adalah manhaj kehidupan bukan keturunan atau kesukuan. Sedangkan istilah badui yang jamak digunakan hari ini menunjukkan kesukuan yang tinggal di pedalaman. Tetapi ta’arub (membadui) adalah hidup tanpa berkumpul yang membuat aturan-aturan sendiri dalam suatu kelompok. Sebab itu bisa jadi seseorang hidup di kota tapi dia membadui, dia hidup hanya untuk dirinya sendiri, individualistis, dengan aturan-aturannya sendiri tanpa peduli dengan manusia lain dan saudaranya.

Tetapi apabila orang badui dalam arti suku lalu berkumpul dengan suku-suku lain atau orang lain maka akan didapatkan kebaikan yang banyak seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Yasin, pengasas jamaah Al-Murabithun di Maghrib. Ketika mereka mengumpulkan orang-orang dalam pedalaman sehingga berdiri kota berkebudayaan yang terkumpul didalamnya mujahidin dan ulama menjadi benteng Islam dalam waktu lama di Maghrib. Salah satu tokoh yang terkenal adalah Yusuf bin Tasyifin.

Begitu pula yang dilakukan oleh orang-orang Sanusi ketika datang di Al-Jazair mereka membangun kelompok di tengah padang sahara. Jadilah sebuah kota bernama Az-Zawiya yang berubah menjadi basis peradaban ilmu dan jihad.

Masalah 5

وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Memeranginya adalah kekufuran.”

Terdapat hadits lainnya yang menyebutkan membunuh muslim merupakan sebuah perbuatan kekufuran:

لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

“Jangan kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku, dengan saling baku bunuh”. (Al Bukhari)

Seorang muslim yang melakukan pembunuhan pada saudaranya pasti dalam keadaan lalai dari iman, disinilah disebut kekufuran. Namun kafir disini merupakan kafir ashghar (kafir kecil) yang tidak menyebabkannya keluar dari Islam. Allah ta’ala menegaskannya tetap sebagai orang beriman dalam firman-Nya:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

"Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya.” (Al-Hujurat: 9)

Kufur ashghar tidak mengeluarkannya dari iman tetapi tidak mencegah terhapusnya amal. Karena dosa besar saja dapat menghapus amal sebagaimana perbuatan baik juga bisa menghapus kesalahan. Karena itulah Imam Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab: Bab Kekhawatiran Seorang Mukmin dari Penyebab Terhapusnya Amal Tanpa Sadar.

Akibat terbesar dari celaan melalui lisan adalah perang, sebab peperangan seringnya dimulai dari perang mulut. orang terlaknat adalah orang yang mengacungkan senjata pada saudaranya, karena itu yang membunuh dan terbunuh masuk neraka.

Kewajiban muslim adalah menjauhi penyebab kefasikan dan kekufuran diantaranya hasad yang dapat merusak din. Menjauhi hasad dapat mencegahnya dari kezhaliman, melontarkan celaan, pembunuhan dan peperangan.

Masalah 6

Celaan pada muslim akan berujung pada kefasikan. Dan dosa ini makin bertambah besar apabila celaan ditujukan pada kesalahan ijtihad suatu jamaah atau celaan pada seseorang agar orang lain menjauhinya. Biasanya ini akibat fanatisme pada selain al-haq. Padahal kemenangan tidak akan bisa diraih tanpa al-haq. Kemenangan tidak tergantung dengan personal, mazhab dan kelompok.

Termasuk juga apa yang menimpa sebagian penuntut ilmu dengan mencela mazhab ulama dengan menyebut perkataan-perkataan dhaif baik itu ijtihadiyah atau khilafiyah sampai menjatuhkannya padahal seharusnya tetap menjaga kehormatan pada mazhab dan ulama. Mereka menjadikan metode seperti ini untuk merekrut orang-orang pada mazhab, pemikiran, syeikh, jamaah atau majlis mereka. Ini semua muncul akibat rendahnya kualitas agama dan sedikitnya waro.

Suatu keajaiban hari ini, ada kelompok muslimin bergerak dibawah menumpang kesyirikan dan ini juga menimpa sebagian ahlul jihad kemudian mereka berbalik dan ditimpa hasad pada orang-orang selain mereka yang mendapatkan keutamaan ilahiy dengan kemenangan dan tamkin (kekuasaan). Keadaan mereka seperti yang menimpa Yahudi:

بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.” (Al-Baqarah: 90)

Sampai ada orang yang tidak bertakwa pada Allah mengatakan bahwa Taliban menjadi aib bagi Islam. Seruan ini dilontarkan saat kelompok kafir bersatu memerangi mereka. Perkataan mereka akhirnya menjadi penguat kafirin untuk memberangus Islam. Celaan seperti ini menyebabkan sesoerag menjadi fasik dan tidak menghalanginya nanti terjerumus dalam kekafiran, wal iyazhubillah.

Masalah 7

Tidak ada penyebab apapun di dunia yang membolehkan muslim mengarahkan senjatanya pada muslim yang lainnya yang muncul awalnya dari sebab celaan. Mengarahkan senjata pada sesama muslim tidak bisa disebut dafush shoil (membela diri dari agresi). Tidak diperkenankan hal tersebut menjadi dalih untuk perang sebagai alasan pertahanan diri dari kehormatan, jiwa maupun agama. Perang yang dipicu oleh setan dilarang agama karena berasal dari kemarahan, syahwat dan menolong kebatilan.

Maka hendaklah siapapun yang memegang senjata untuk berhati-hati agar tidak melampuai batas. Demikian pula siapapun yang Allah beri kemampuan keahlian pada lisannya untuk berhati-hati berkata agar tidak melampaui batas. Maka dengan kekuatan senjata dan lisan yang istiqamah akan tersempurnakan kebahagiaan dan terlapangkannya kebaikan yang dikehendaki Allah pada hamba-Nya. Sedangkan kerusakan salah satunya menjadi kehancuran.

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.