Faktor Kesuksesan Pendidikan Menurut Syeikh Umar Mahmud

Submitted by admin on Sat, 05/28/2022 - 03:13
Penulis

Berkata Syeikh Umar Mahmud Abu Umar hafizhahullah dalam Fanul Qiraah:

ان مرحلة التعليم الأولى للطالب هي التي تغرس فيه القيم الأولي و تنمي فيه الغرائز النافعة و منها حب القراءة و الحرف و النهم في الطالب من العلم و المعرفة

Sesungguhnya tahap awal pendidikan bagi siswa adalah faktor dasar yang menentukan minat dia pada ilmu dan mengembangkan naluri yang bermanfaat diantaranya cinta membaca dan mencintai ilmu. - selesai perkataan hafizhullah hal 39.

Pendidikan usia dini menjadi dasar terpenting pembentukan syaksiyah anak pada ilmu dan membaca. Kegagalan pada pendidikan dini ini akan mempengaruhi cara pandang belajar hingga dewasa. 

Kita bersyukur bahwa pendidikan Islam usia dini telah marak dan tersebar mulai dari pra TK, TK, TKIT, PAUD atau pra Kuttab dan Kuttab hingga SD/MI. Disetiap sudut kota hingga pelosok desa, kita dapat mudah menemukan.

Namun syeikh mengkritisi pola pendidikan yang menyebabkan kegagalan pendidikan usia dini pada minat ilmu dan membaca anak. Dua hal catatan beliau yaitu:

Pertama: Manhaj kurikulum yang mandul tidak memberikan pengaruh pada tarbiyah. Manhaj dirosi mandul ini menjadi sebab terparah menjauhkan anak dari cinta ilmu dan membaca. Bahkan para siswa membenci kurikulum dan buku buku pelajaran yang disodorkan. Sehingga mereka mempelajarinya hanya untuk mengerjakan ujian.

Kedua: Rendahnya pelayanan lembaga pendidikan pada guru salah satu contohnya soal penggajian yang minim. Bahkan siswapun mengetahui jika gaji ustadnya sangat kecil tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Siswa mengetahui persoalan ini dari gelagat guru yang ingin segera selesai mengajar dan lanjut nyambi pekerjaan lain seperti dagang.

Syeikh menceritakan kisahnya ketika sekolah di Yordania sebagai pengungsi Palestina. Guru mengajar dengan resah selalu melirik jam. Ketika bel berbunyi, pak guru segera menutup kelas dan pulang. Para guru lanjut bekerja sebagai supir taksi atau jualan keliling dan di pasar. 

Kondisi tersebut membuat kewibaan guru jatuh dihadapan muridnya. Mempengaruhi minat serta daya tarik siswa untuk belajar dan membaca. Toh buat apa pintar kalau hanya jadi guru yang digaji rendah. Problem ini sejatinya masalah pengelola lembaga pendidikan seperti yayasan yang kurang perhatian pada SDM guru dan hanya mementingkan bangunan fisik. 

Problematika kurikulum dan guru saling terkait. Jika guru tidak fokus mengajar tidak akan mampu melaksanakan kurikulum dengan baik. Itu jika kurikulumnya efektif. Apabila kurikulumnya mandul maka menjadi musibah besar dalam dunia pendidikan. Demikian pula yayasan atau pengelola lembaga pendidikan wajib memberikan pelayanan yang layak pada guru dan ustad jika jujur ingin membangun peradaban ilmu.

Sabtu 27 Syawal 1443 H / 28 Mei 2022

 

Tags