Jangan Turut Menyalakan Api dalam Konflik Sesama Muslim!

Submitted by admin on Mon, 10/07/2019 - 04:22
Penulis

Imam Nawawi pernah menukil suatu perkataan indah dari ahli hikmah mengenai tercelanya permusuhan antar saudara muslim. Katanya:

"Tidak aku lihat perkataan yang memusnahkan dien, menjatuhkan kewibawaan, menghilangkan kelezatan, dan membuat hati menjadi berat kecuali akibat permusuhan."

Saat terjadi salah paham antara muslim, setan menyiramnya dengan bara supaya apinya semakin membesar dan berkobar. Sehingga, yang semula hanya konflik kecil antara satu muslim dengan seorang muslim menjadi melebar. Menyeret menjadi konflik berjamaah terus ditiupkan angin oleh setan agar melibatkan sebanyak-banyaknya orang, entah siapa saja.

Akhirnya grup-grup WA, facebook dan media sosial lainnya ramai oleh suuzhan, ghibah, hasad, fitnah yang dilakukan oleh mereka yang melazimi Al-Quran, kajian keislaman, shalat berjamaah di masjid, niqab dan hijab. Menganggapnya sebagai bentuk pembelaan pada ilmu dan sunah bahkan mungkin perjuangan.

Kadang inginnya melakukan pembelaan, tapi sesungguhnya turut menebar fitnah dengan menjatuhkan harga diri muslim lainnya. Bahkan kadang, kitapun sejujurnya tidak mengenal orangnya. Satu share yang kita bagikan ternyata menyulut api di kubur kita. Satu kata balasan dalam kolom komentar, sungguh telah menjatuhkan kehormatan saudara muslim. Satu klik ikon ejekan sungguh telah menghancurkan amal shalih untuk kita sedekahkan pada orang lain.

Kita cela kelompok lain karena tidak sepaham dengan manhaj kita. Kita sindir mereka. Kita labeli mereka dengan julukan murjiah, khawarij, "salapis", ikhwani, bid'i dan lain-lain saling baku balas. Masing-masing dengan serangan produk istilah yang shahih tapi dimaksudkan untuk menjatuhkan.

Inilah hakikat ghibah seperti yang dijelaskan oleh Nabi shalallahu alaihi wassalam:

ذكرك اخاك بما يكره

“Menyebut-nyebut saudaramu sesuatu yang tidak ia sukai.”

Ternyata dengan kalimat singkat ini, sahabat belum memahami makna ghibah hingga beliau ditanya kembali:

أفرأيت إن كان في أخي ما أقول

“Bagaimana bila yang aku sebut pada saudaraku itu benar adanya?”

Beliau shalallahu alaihi wassalam menjawab:

إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته،وإن لم يكن فيه فقد بهته

Beliau menjawab: “Bila itu fakta seperti yang kamu sebut kamu telah ghibah. Jika tidak benar kamu telah memfitnah.”

Betapa bahaya ghibah dalam menghancurkan sendi-sendi persatuan umat Islam. Gejala paling parah menganggap ghibah bagian dari suatu penyampaian ilmu atau kebenaran. Padahal mengikuti syahwat diri, ghurur (ketertipuan) dan menonjolkan diri.

Ketika pihak ketiga melihat peluang ini, masuklah mereka ke arena mendidihkan permusuhan sehingga bertambah sengit. Seperti pertarungan sabung ayam. Dua ayam saling patuk, saling injak hingga berdarah-darah. Sedang penyabung dan penonton mengelilingi ayam sampai dien keduanya rusak.

Tidak ada lagi kenikmatan berzikir, tilawah, tadabur bermajlis ilmu yang menghasilkan adab yang mulia. Rusaklah kholwat bersama Allah. Hati kita menjadi gelap semuanya tersita oleh konflik pribadi.

Betapa banyak orang alim lagi cerdas, aktivis muslim, aktivis dakwah, ahli ibadah dan agamanya baik, tetapi ketika jatuh kedalam permusuhan dia terseret-seret seperti dahan di arung jeram yang deras.

Jangan kamu masuk ke dalam konflik sesama muslim kecuali untuk mendamaikan. Jika kamu nekat hancurlah agamamu dan akhlakmu karena tersita hatimu dari Allah dan akhirat.

Hajat kita sebagai hamba Allah ialah, husnuzhon pada sesama muslim. Tugas kita adalah husnuzhon pada kaum muslimin yang merupakan keimanan dan senjata pertahanan seseorang dari kejatahan setan.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa”. (Al-Hujurat: 12)

Sebab setan bekerja tanpa lelah menciptakan suatu situasi supaya menyala permusuhan, kedengkian, caci maki diantara masyarakat muslim. Agar kita menyangka yang paling tsiqah pada dien ini.

Persaingan antar jamaah dan sesama muslim mewariskan suuzhon, kemudian muncul kedustaan dan melebar menjadi penggalangan. Semua ini karena keinginan untuk menjadi paling unggul dan menjatuhkan kelompok lain. Balas berbalas pada akhirnya sama-sama menjadi rusak diennya. Terbunuh oleh hasad dan prasangka.

Allah subhanahu berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain.” (Al-Hujurat: 11)

Berhusnuzhom pada kaum muslimin merupakan cara paling ampuh dari mencela kaum muslimin. Dengan husnuzhon, pemusuhan dalam hati kita segera redup dan terhalang untuk melakukan kejahatan pada mereka. Jika tidak, terjadilah pengafiran pada sesama, pembidaahan, penyesatan, pertumpahan darah dan peperangan.

Bentuk husnuzhan pada kaum muslimin dia tidak akan bahagia dengan keburukan yang menimpa mereka, justru dia akan bersedih. Bentuk husnuzhan pada kaum muslimin tidak memberikan kesempatan musuh untuk memecah belah antara mereka, tidak menyebarkan keburukan yang ada pada mereka dan tidak menghancurkan timbangan al-wala dan al-bara antara mereka.

-Zen Ibrahim https://pustakaqolbunsalim.com

Bila berkenan silahkan baca nasihat dari Syeikh kami Abu Qotadah Al-Falestini hafizhahullah berkaitan dengan tema ini:

Wabah Ghibah Dikalangan Penuntut Ilmu dan Aktivis

https://pustakaqolbunsalim.com/terjemahan/wabah-ghibah-dikalangan-penuntut-ilmu-dan-aktivis

Belajar Menunaikan Hak Ukhuwah Bersama Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah

https://pustakaqolbunsalim.com/terjemahan/belajar-menunaikan-hak-ukhuwah-bersama-imam-ahmad-bin-hanbal-rahimahullah

Beda Pendapat Nihil Permusuhan

https://pustakaqolbunsalim.com/terjemahan/beda-pendapat-nihil-permusuhan

Adil Memusuhi Kawan

https://pustakaqolbunsalim.com/terjemahan/adil-memusuhi-kawan

Husnuzhan pada Kaum Muslimin Asas Keimanan dan Benteng Pertahanan Umat

https://pustakaqolbunsalim.com/terjemahan/husnuzhan-pada-kaum-muslimin-asas-keimanan-dan-benteng-pertahanan-umat

Tags

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.