Membaca Al-Quran dalam Shalat Amalan Teragung Ramadhan

wakaf laptop

 

Penulis

Keagungan suatu amalan bisa dari jenis amalan tersebut. Dari sononya memang ditetapkan sebagai amalan yang agung, misalnya puasa. Allah telah menetapkan puasa sebagai ibadah yang agung dalam hadits Qudsi:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ ، فَإِنَّهُ لِي ، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي

”Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh anak Adam akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman: Kecuali amalan puasa. Amalan tersebut untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalas puasanya." (Muslim)

Ulama mengatakan, ibadah puasa menjadi satu-satunya ibadah yang tidak bisa terbelokkan kecuali pasti lurus untuk Allah. Agama-agama lain juga memiliki puasa tapi hanya menjadi sekedar ritual atau untuk alasan kesehatan dll. Mereka tidak menemukan pahala atas kelelahan mereka melakukan puasa.

Orang Budha, Hindu, Kristen dll juga melakukan puasa, tapi mereka tidak menempatkannya sebagai bentuk ibadah. Hanya dalam dien para Nabi yang menempatkan puasa sebagai bentuk peribadatan.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

”Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” (Al-Baqarah: 183)

Umat sebelum kita juga diwajibkan untuk puasa sebagai bentuk peribadatan taqarub kepada Allah.

Pengetahuan ini penting sebagai pengantar, bahwa puasa merupakan ibadah yang secara asal dicintai Allah azza wa jalla. Kedudukannya sama dengan tilawah Al-Quran, secara asal juga dicintai oleh Allah.

Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah mengatakan: ”Ibadah paling agung di sisi Allah adalah tilawah Al-Quran dalam shalat.”

Sebagian ahlul ilmi berpendapat: ”Para ulama sepakat, membaca Al-Quran dalam shalat adalah ibadah yang teragung.”

Jadi dapat disimpulkan, level ibadah tertinggi adalah tilawah Al-Quran dalam shalat, level kedua adalah tilawah Al-Quran diluar shalat, level ketiga puasa sedangkan level keempat adalah zikir.

Lalu bagaimana bila seseorang melakukan tilawah dalam shalat saat dia puasa? Tentu saja dia mendapatkan kenikmatan yang sangat-sangat agung karena mengumpulkan berbagai macam ibadah teragung dalam satu waktu di bulan Al-Quran.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

”Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran.” (Al-Baqarah: 185)

Para sahabat sangat mengenal bulan ramadhan sebagai bulan Al-Quran. Mereka membersamai Rasulullah shalalallahu alaihi wassalam yang melakukan setoran hafalan kepada Jibril alaihissalam ketika i'tikaf. Bahkan saat ramadhan terakhir sebelum beliau shalalallahu alaihi wassalam wafat, Jibril memeriksa bacaan Nabi sebanyak dua kali.

Kebiasaan para sahabat, mereka mengkhatamkan Al-Quran selama sepekan. Inilah martabat sahabat. Selain mereka, martabat seseorang mengkhatamkan Al-Quran berbeda-beda. Ada yang khatam selama sepuluh hari sekali, sebulan dua kali khatam dan sebulan sekali.

Para ulama membenci mengkhatamkan Al-Quran lebih dari empat puluh hari. Diantara mereka yang memiliki pendapat tersebut adalah Ishaq bin Rahawiyah dan Imam Ahmad. Bahkan Imam Ahmad mengatakan, sesorang yang selama empat puluh hari tidak bisa khatam, dia akan lupa pada hafalannya.

Menurut kebanyakan ulama, lupa ayat merupakan salah satu kabair (dosa besar). Disebut dalam kitab Al-Kabair dan Az-Zawajir an Iqtiraf Al-Kabair karya Ibnu Hajar Al-Haitamy.

Maka amalan paling agung di bulan suci ini adalah membaca Al-Quran dan keadaan yang paling agung ketika membacanya dalam shalat. Keadaan teragung dan yang paling agung saat qiyamullail seperti dalam hadits:

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang berpuasa (di Bulan) Ramadhan (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu”. (Muttafaq alaih)

Menurut Imam Asy-Syafii rahimahullah, waktu paling afdhal qiyamullail setelah bangun tidur. Setelah shalat isya, pulang ke rumah tidak ikut shalat terawih berjamaah untuk tidur. Di malam hari dia bangun untuk shalat malam, namanya tahajud.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ

”Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.” (Al-Isra: 79)

Tahajud merupakan ibadah qiyamullail yang paling agung. Qiyamullail inipun bertingkat-tingkat martabatnya sesuai dengan waktu. Martabat paling tinggi adalah qiyamullail Nabi Dawud:

كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ

”Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam malam terakhir.”

Selain itu ada waktu lain, yaitu qiyamullail di akhir sepertiga malam dan tidak tidur supaya tidak terlewat sahur. Martabat qiyamullail paling rendah adalah shalat malam antara waktu maghrib dan isya. Setelah shalat maghrib dia mengerjakan qiyamullail. Sebagian ulama memperbolehkan hal ini dengan hujah, setelah maghrib sudah masuk waktu malam.

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

”Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (Al-Baqarah: 187)

Maksudnya, sempurnakan puasa sampai malam. Al-Quran menyebut waktu maghrib berbuka sudah masuk waktu malam dan bila telah masuk malam shalatlah termasuk qiyamullail. Dalil yang lainnya:

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

”Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.” (Az-Zariyat: 17)

Sebagian salaf menafsirkan dengan shalat malam antara maghrib dan isya. Dari sini bisa dipahami, waktu qiyamullail sangatlah panjang. Mulai dari bada shalat maghrib hingga azan subuh. Sebab itu janganlah seseorang tertinggal dari shalat malam meskipun hanya membaca empat puluh ayat, seperti yang dilakukan oleh Imam Syafii.

Beberapa ahlul ilmi saat ditanya tentang orang yang tidak shalat malam menjawab: Orang tersebut tidak akan bisa menghafal Al-Quran.

Jadi, banyak dilalaikan orang-orang. Mayoritas mereka membaca Al-Quran sambil duduk di luar shalat. Terbaik yaitu, duduklah di atas kursi jika susah berdiri lalu shalatlah. Baca Al-Fatihah sambil berdiri kemudian duduk baca Al-Quran terserah mau berapa hizb, sesuai dengan waktu kita. Berarti kita membaca Al-Quran dalam shalat bukan di luar shalat.

Ramadhan 1440 H

Disarikan dari Kalimatu Ramadhaniyah Syeikh Abu Qatadah hafizhahullah.