Membangun Generasi Qurani 1

wakaf laptop

 

Penulis
Membangun Generasi Qurani

Pertanyaan penting hari ini; “Mengapa Al-Quran mampu merubah sahabat?” Al-Quran yang dibaca sahabat persis yang dibaca manusia hari ini, tetapi mengapa manusia sekarang tidak bisa berubah seperti mereka?

Sesuatu yang hilang pada diri manusia hari ini yaitu:

كَانَ خُلُقُهُ القُرآنُ

”Akhlaknya adalah Al-Quran.”

Manusia telah kehilangan berakhlak Al-Quran. Maksud akhlak disini bukan definisi ishtilahi berupa kejujuran, amanat, sopan santun atau keshalihan. Tapi definisi akhlak yang dimaksudkan oleh Al-Quran itu sendiri yaitu Akhlak Al-Quran.

Bila kita mau menggali definisi akhlak Al-Quran, lihat akhlak Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dalam surat Muhammad. Surat yang diberi nama dengan nama Nabi shalallahu 'alaihi wasallam itu sendiri. Di dalamnya menyebut beberapa akhlak Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau seorang mujahid muqatil (pakar militer). Artinya; menjadi mujahid dan muqatil bukan sebuah profesi, tugas jamaah, beban taklif (pembebanan syariat), emosi, tapi ia akhlak.

Di dalam surat Muhammad disebutkan tentang kesabaran, kesiap-siagaan, mujahidin dan baiat para sahabat kepada Allah, maknanya menyebut tentang akhlak Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Semua itu adalah bagian dari akhlak seperti firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ

”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka.” (At-Taubah: 111)

Kisah perjuangan para sahabat dalam surat Muhammad adalah kisah mentauladani akhlak Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Sebab itu Al-Quran menjadi akhlak para sahabat, inilah maksud istilah Jail Qurani (Generani Qurani) yang biasa disebut oleh beberapa penulis seperti Syeikh Sayid Qutb rahimahullah.

Al-Quran kita adalah Al-Quran mereka. Tetapi Al-Quran turun pada sahabat yang membuat setiap tarikan nafas dan gejolak darah mereka sangat memahami makna agung Al-Quran. Satu makna dalam Al-Quran sangat mudah dipahami sahabat menjadi sesuatu yang sangat sulit dipahami generasi setelahnya.

Misalnya, ketika kaum muslimin menyerang pusat kekaisaran Romawi di Konstantin (Istambul) terdapat beberapa sahabat yang masih hidup. Tetapi mayoritas pasukan generasi tabi'in turut serta Yazid bin Muawiyah. Tiba-tiba saja seseorang loss command keluar dari pasukan dan terjun menyerang pasukan salib seorang diri.

Orang-orang mengkritik aksi tersebut dengan menceburkan diri dalam kebinasaan mengutip firman Allah :

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

”dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (Al-Baqarah: 195)

Sahabat Abu Ayub Al-Anshary radhiyallahu anhu langsung menegur kekeliruan tabi'in dengan penjelasan; ayat tersebut turun pada kaumnya anshar pasca Allah memenangkan dien ini. Karena telah menang mereka beranggapan sekarang waktu mengurus pertanian dan pekerjaan kita masing-masing lalu turunlah ayat tersebut di atas yang maknanya; kehancuran yaitu meninggalkan jihad dan kembali pada dunia.

Sahabat tidak perlu menguras energinya mencari ilmu untuk memahami ayat tersebut, sebab Al-Quran turun pada mereka. Tabi'in juga tidak perlu terlalu lama mencari makna yang tidak mereka ketahui, cukup bertanya pada sahabat.

Perbedaan antara kita dan sahabat; kita harus mujahadah (bersungguh-sungguh) mencari ilmu untuk memahami suatu ayat. Sedangkan sahabat terkuras energinya dan banjir darah serta air mata hidup bersama Al-Quran, sebab itu akhlak Al-Quran melekat erat dalam jiwa raga.

Kita, bila ingin membangun generasi Qurani wajib meniru sahabat dengan membayar mahal mempertaruhkan segala sesuatu meraih Al-Quran. Karena sumber ilmu adalah Al-Quran. Ilmu yang paling agung adalah yang kita raih dengan segala pengorbanan dan kesungguhan.

Seseorang yang ingin meraih akhlak Al-Quran dia harus mengorbankan ibu, ayah dan sanak saudaranya dengan berkelana. Meninggalkan kampung halamannya, merambah hutan, mendaki pegunungan dan menyeberang lautan. Sampaipun dia harus terpotong kakinya dia kan tetap terus melangkah mencari ilmu.

Atau sebaliknya, dia harus bersabar dengan penentangan keluarga yang mindsetnya masih ijazah dan materi. Dia harus menguras energi dan emosinya agar bisa sabar menyikapi dengan perbuatan yang lebih baik. Sangat berharap hidayah turun pada mereka. Pada hakikatnya dia sedang belajar akhlak Al-Quran.

Orang tua yang ingin anaknya berilmu dengan Al-Quran juga harus mengorbankan segala sesuatunya, bukan hanya harta tapi perasaan. Menyimpan rasa kasian, kedekatan, dan apapun lalu bertawakal pada Allah.

Siapapun yang menempuh ilmu dengan pengorbanan, memiliki bekas kuat yang tidak mungkin luntur oleh zaman. Ilmu yang akan terus terpatri dalam hatinya. Beda dengan orang-orang yang belajar ilmu dengan cara duduk manis dan dilayani dengan segala fasilitas instan.

Ramadhan 1440 H

Disarikan dari Kalimatu Ramadhaniyah Syeikh Abu Qatadah hafizhahullah.