Membangun Generasi Qurani 2

wakaf laptop

 

Penulis

Tidak seperti para sahabat, kita bila ingin menceburkan diri memahami makna-makna Al-Quran harus melalui perantara. Alternatif lainnya kita hidup dalam suasana keilmuan yang sangat luas serta ideal dengan seluruh perangkat-perangkatnya termasuk perangkat marakah jihad dan ini sulit ditemukan hari ini. Sedangkan para sahabat, mereka menimba Al-Quran secara langsung tanpa perantara.

Sahabat langsung meminum air dari sumber mata air yang paling jernih. Wahyu turun pada mereka, sehingga mereka langsung memahaminya. Al-Haq bagi mereka seterang matahari, sedangkan al-haq bagi kita diselimuti kabut.

Kita berada disekitar manusia yang terkumpul pada mereka kebaikan dan keburukan, al-haq dan kebatilan seperti kata Ali radhiyallahu anhu

العلم نكتة صغيرة كثرها أهل الجهل

Ilmu menjadi sebuah titik kecil dikelilingi orang-orang bodoh yang banyak.

Meskipun diperselisihkan penyandaran perkataan ini pada Ali radhiyallahu anhu, tetapi dalam kalimat ini banyak kebenarannya. Hari ini bila kita ingin mencapi hakikat kebenaran harus menerobos berbagai macam belukar pemahaman batil untuk melewatinya. Berusaha keras memilah-milah mana yang benar dan salah. Kadang yang kita lihat seindah mawar ternyata justru duri yang menyakitkan.

Allah telah menjamin Al-Quran tidak akan berubah, yakni perubahan lafzhiyah. Ayat-ayat dan huruf-hurufnya terjaga sampai akhir zaman. Tetapi Allah telah mengabarkan, akan ada orang yang merubah dan melencengkan makna.

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

"Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya.”

Kita dilarang hidup bersama Al-Quran dengan tujuan melakukan fitnah takwil dan fitnah penyesatan.Persoalannya, banyak manusia hari ini hidup bersama Al-Quran untuk meyakinkan prinsip egonya. Dia mencari pembenaran-pembenaran dalam Al-Quran sehingga dia memaksa ayat-ayat demi meneguhkan prinsipnya yang sebenarnya salah. Bukan hati yang harusnya ditundukkan pada Al-Quran tapi sebaliknya ia ingin mendudukkan Al-Quran pada hawa nafsunya.

Hendaknya kita hidup dengan Al-Quran untuk menyelami mutiara aqidah di dalam samudera maknanya yang sangat luas. Kita tidak hanya membutuhkan Al-Quran sebagai wujud peribadatan seperti tilawah. Kita membutuhkan Al-Quran untuk mentadaburinya di atas makna peribadatan. Bukan hanya tadabur untuk menggali persoalan ilmiah saja tetapi juga untuk beribadah kepada Allah. Sehingga kita bisa mengenali pada diri Rabb makna-makna yang banyak.

Abu Dzar radhiyallahu anhu pernah mendengar Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dadanya bergemuruh menahan isak tangis. Beliau membaca sebuah ayat dalam shalat malam yang terus beliau ulang sampai subuh, yaitu:

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Jika Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Tetapi jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Al-Aziz Al-Hakim.”

Inilah tadabur di atas makna peribadatan untuk mengurai makna-makna Al-Quran dan menyelaminya sedalam-dalamnya. Tadabur dengan memanjatkan doa kepada Allah sebagai inti ibadah, karena doa merupakan inti ibadah. Tadabur mengenali dzat Allah bahwa dia mengazab, memberi ampunan dan penetapan Al-Aziz lagi Al-Hakim, asmaul husna yang memiliki makna yang sangat agung dan luas.

Inilah para sahabat yang mengambil Al-Quran langsung dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, mereka tundukkan dada mereka untuk menerima Al-Quran. Mentadaburinya bukan hanya untuk mengambil kajian-kajian keilmiahan tapi lebih dari itu untuk menyelami makna-makna peribadatan.

Tamim Ad-Dari radhiyallahu anhu, sahabat yang bertemu Dajjal pernah menangis hingga subuh hari membaca surat Al-Jasiyah: 21. Al-Jasiyah artinya berlutut:

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

"Apakah orang-orang yang melakukan perbuatan keji itu menyangka bahwa Kami (Allah) akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka tetapkan itu."

Ayat ini turun pada mereka ketika orang-orang kafir mengatakan, "Jika saja dakwah kalian benar kami tetap akan menjadi golongan yang utama di akhirat seperti kami telah menjadi utama di dunia."

"Apakah orang-orang yang melakukan perbuatan keji," yaitu apakah mereka yang melakukan perbuatan buruk di dunia, mendustakan Rasulullah, menyelisihi perintahnya dan mengibadahi selain-Nya, kami akan jadikan di akhirat seperti orang-orang yang beriman pada Allah dan memurnikan peribadatan pada-Nya dengan menjauhi andad (hukum-hukum tandingan) dan ilah-ilah yang merampas hak Allah.

Mengapa sahabat bisa menangis ketika membaca Al-Quran? Karena mereka tidak menjadikan Al-Quran hanya untuk qiraat, hafalan, mencari sanad dan bukan hanya untuk tadabur ilmiah tetapi lebih dari itu menggalinya di atas makna peribadatan pada Allah dan itu letaknya dalam hati.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

"Maka apakah mereka tidak mentadaburi Al-Quran ataukah hati mereka tersegel?" (Muhammad: 24)

Saat hati terkunci kita tidak akan mungkin dapat mentadaburi Al-Quran, meskipun hafal Al-Quran, dalam makna tadabur untuk menyelami indahnya makna-makna peribadatan dan mengenal dzat Allah subhanahu wa ta'ala.

Ramadhan 1440 H

Disarikan dari Kalimatu Ramadhaniyah Syeikh Abu Qatadah hafizhahullah.