Membangun Generasi Qurani 3

wakaf laptop

 

Penulis

Kita tidak mungkin dapat mencetak manusia-manusia seperti sahabat. Dengan apapun caranya kita tidak bisa mencapai derajat seperti mereka.

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيْفَهُ

"Jika salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud pun maka tidak akan sama (kedudukannya) dengan mereka, bahkan tidak juga setengahnya." (Muttafaq alaih)

Di zaman kita ini, andai seseorang berinfak fisabilillah seberat gunung Uhud tidak mungkin akan sebanding dengan infak setengah tapak tangannya sahabat radhiyallahu anhum. Artinya, kita tidak mungkin dapat menyamai ilmu, ibadah, amalan bahkan ujian mereka. Bahkan 10 persennya pun tidak mungkin!

Terdapat kaidah yang harus kita perhatikan dalam menimbang amalan orang-orang sebelum kita:

المتأخر لا يمكن أن يبلغ شأن المتقدمين

"Generasi setelahnya tidak akan mungkin dapat menyambangi kedudukan generasi sebelumnya."

Syeikh Rifai Surur rahimahullah ketika berjumpa dengan orang-orang dari generasi sebelumnya selalu mengatakan: Kami adalah hasil produksi kalian, kami adalah hasil dari dakwah kalian.

Hak mereka untuk didoakan, dimintakan ampunan pada Allah kesalahan-kesalahan mereka dan membuang ghil (hasad, benci dan dendam) dalam hati kita pada mereka. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (Al-Hasr: 10)

Sebab itu, para wanita salaf bersedia menikah dengan laki-laki yang lebih dahulu lahir dan beramal untuk mencari jalan pintas menaikkan derajat mereka di dunia dan akhirat. Ibunda Shofiyah radhiyallahu anha misalnya, wanita berdarah Yahudi Bani Nadhir ini masuk Islam dan menikah dengan Rasulullah shalallahu 'alaihu wasallam. Padahal saat itu umurnya masih 17 atau 18 tahun, terpaut sangat jauh sekitar 40 tahun dengan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

Atikah radhiyallahu anha juga bersedia menikah dengan Umar bin Khatthab yang umurnya sangat jauh beda. Kisah seperti ini sudah lumrah di zaman dahulu dan bukan menjadi sesuatu yang mengherankan.

Pemikiran dan pertimbangan wanita salaf sangat strategis dan visioner menembus batas-batas waktu. Mereka berpikir bagaimana cepat melesat masuk janah karena mereka tidak mendapatkan amalan jihad seperti laki-laki. Seperti kata Syeikh Sayid Qutb rahimahullah ketika menceritakan Fatimah radhiyallahu anha, kedewasaan wanita tergantung pada pemahaman diennya.

Sahabat, meskipun kita tidak bisa sampai pada derajat mereka, namun ada satu cara untuk mencapainya, yaitu cinta. Amalan hati yang harus kita perhatikan. Seseorang dapat mencintai suatu kaum padahal mereka tidak pernah bertemu. Seseorang dapat mencapai sahabat dengan mencintai mereka.

Rasulullah shalallahu 'alaiahi wasallam bersabda:

يحشر المرء مع من يحب

"Seseorang dibangkitkan dengan yang dia cintai."

Hadits ini dhaif tetapi terdapat hadits shahih lainnya menguatkan makna tersebut.

جاء رجلٌ إِلى رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسولَ الله، كيف ترى في رجلٍ أحبَّ قوماً ولـمـَّا يَلْحَقْ بهم؟ فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم المرءُ مع من أحبَّ

"Seseorang menemui Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu seseorang mencintai kaum padahal dia tidak pernah berjumpa? Beliau menjawab: Seseorang bersama dengan yang dicintai." (Muttafaq alaih)

Dalam hadits lainnya yang lebih jelas dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu:

أَنَّ رَجُلاً مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ أَتَى النَّبِي صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ الله، مَتَى السَّاعَةُ قَائِمَةٌ قَالَ: «وَيْلَكَ، وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا»، قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا إِلاَّ أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ. قَالَ «إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». فَقُلْنَا وَنَحْنُ كَذَلِكَ. قَالَ: «نَعَمْ». فَفَرِحْنَا يَوْمَئِذٍ فَرَحًا شَدِيدًا.

"Seseorang dari pelosok terpencil menemui Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bertanya: Wahai Rasulullah kapankah kiamat tiba? Beliau menjawab: Untuk apa kamu bertanya? Apa yang telah kamu persiapkan? Dia menjawab: Aku tidak mempersiapkan apapun kecuali hanya aku mencintai Allah dan Rasulnya. Beliau bersabda: Kamu bersama dengan yang kamu cintai. Maka para sahabat menyahut: Apakah kami juga demikian? Beliau menjawab: Iya. Maka hari itu kami menjadi sangat bahagia." (Muttafaq alaih)

Hadits-hadits di atas mengajarkan kita keutamaan amalan hati. Kita tidak bisa mencapai sahabat dengan amalan jawarih (anggota badan) tetapi hanya dengan cinta kita bisa menyentuhnya.

Jika kita bisa mencintai Abu Bakar radhiyallahu anhu dengan makna cinta hakiki, saat itu kita bersama dengan yang kita cintai. Begitupun, bila kita dapat mencintai Umar, Utsman, Ali, Saad bin Abi Waqash, Zubair bin Awam, Ibunda Khadijah, Ibunda Aisyah, Ibunda Maimunah, Atikah dan sahabat lainnya radhiyallahu anhum kita akan dibangkitkan dengan orang-orang yang kita cintai. Mereka adalah kaum yang agung yang memenuhi semesta dengan kebaikan dan keimanan, semoga kita mencintai mereka semua.

Tetapi bagaimana kita bisa mencintai mereka padahal jeda lima belas abad memisahkan antara kita? Dengan cara mempelajari sirah kehidupan mereka, akhlak dan amalannya. Kita membenamkan potret kehidupan mereka dalam hati kita supaya tumbuh subur keimanan.

Jangan sampai sedikitpun terdapat cacat dalam hati kita pada mereka, pada Ali radhiyallahu anhu, pada Muawiyah radhiyallahu anhu, pada Abu Hurairah radhiyallahu anhu pada Hatib radhiyallahu anhu, pada Aisyah radhiyallahu anha. Seseorang bila terjangkit penyakit dalam hatinya pada wali-wali Allah ini, telah diharamkan dari kebaikan yang agung.

Jadi, kita tidak mungkin sampai pada derajat mereka. Tetapi yang kita inginkan, "kita hidup menyelami makna", meskipun dengan derajat terendah sahabat. Artinya, andai kita bisa mengamalkan sepuluh amalan sahabat saja, kita sudah menjadi orang paling bahagia di dunia!

Al-Quran ada pada kita, sayangnya terhijab. Kita perlu membuka hijab tersebut dengan membaca sirah sahahat sebagai cermin. Amal perbuatan tidak akan bisa dikerjakan dengan baik kecuali terdapat contoh nyata.

Harus ada gambar yang indah dan cermin yang jernih. Seandainya gambarnya cantik tetapi dihadapkan pada cermin yang buram, gambar yang cantik itu tidak akan terlihat dalam cermin. Justru kita melihatnya sebagai gambar yang buruk. Begitupula sebaliknya, sejernih apapun cermin tetap akan menampilkan gambar yang jelek apabila dari sononya gambar tak patut.

 

Ramadhan 1440 H

Disarikan dari Kalimatu Ramadhaniyah Syeikh Abu Qatadah hafizhahullah.