Menjadi Manusia Langit

wakaf laptop

 

Penulis

Seluruh perbincangan mengenai sahabat berpuncak pada Al-Quran Al-Karim yang telah membentuk syakhsiyah (pribadi) sahabat. Al-Quran yang telah menggerakkan mereka untuk berkhidmat pada dien dan hanya memandang lurus pada akhirat.

Muslim yang berusaha meniru karakter sahabat menjadi manusia langit. Dia campakkan semua kepentingan dunia hidup al-amal lilakhirat faqhat (beramal hanya untuk kepentingan akhirat saja).

إِنَّا أَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ

”Sesungguhnya kami telah mengeklusifkan mereka (para sahabat) hanya untuk mengingat negeri akhirat.” (Shad: 46)

Jika seorang muslim memiliki sifat tersebut dia menyandang kehormatan sebagai muslim shahaby (muslim generasi sahabat) yang Allah akan gabungkan dengan kafilah sahabat. Allah ta’ala berfirman:

وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ

”Dan kaum lainnya dari mereka yang belum pernah bertemu dengan mereka.” (Al-Jumuah: 3)

Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ

”Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan.” (At-Taubah: 100)

Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَٰئِكَ مِنْكُمْ

”Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga).” (Al-Anfal: 75)

Kerusakan terbesar dalam barisan kaum muslimin pada mindset memahami dien, yaitu anggapan dien untuk memperoleh kebahagiaan dunia mereka. Jika kita ingin bahagia di dunia hendaknya melazimi zikir. Jika kita ingin tambah rezekinya hendaknya bersedekah. Jika kita ingin umur bertambah hendaknya silaturahmi. Jika kita ingin mendapat pasangan yang shalih kita juga harus menjadi pribadi shalih.

Anggapan tersebut merupakan beberapa contoh mindset yang keliru. Menempatkan dunia sebagai tujuan primer. Padahal sifat kebahagiaan kehidupan dunia merupakan perkara yang mengikut, sekunder dan rendah.

وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا ۖ نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ

”Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya)”. (Ash-Shaf: 13)

Kemenangan dan tersebarnya dien disebut Allah sebagai karunia sekunder karena persoalan duniawi. Jadi bila kita berzikir, jadikan tujuan akhirat sebagai primer maka kebahagiaan dunia yang sekunder akan mengikut. Jika kita bersedekah jadikan 100% demi akhirat, bukan untuk agar rizki kita bertambah banyak. Jadilah shalih hanya untuk Allah semata, keinginan jodoh yang shalih di dunia menjadi sekunder. Bila Allah tidak mentakdirkan memberinya di dunia, Dia akan menggantinya di akhirat.

Asal dunia yang hina ini milik orang kafir seperti firman Allah:

وَلَوْلَا أَنْ يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَجَعَلْنَا لِمَنْ يَكْفُرُ بِالرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِنْ فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ

”Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Ar-Rahman loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (Az-Zukhruf: 33)

Ketentuan asal, seorang muslim tidak mendapat jatah apapun dari dunia. Atas rahmat Allah ta’ala, Dia memberikan beberapa bagian dunia bagi wali-waliNya. Bila tidak demikian, niscaya seluruh manusia di dunia ini akan mengkristal menjadi satu umat; yaitu umat yang meninggalkan dien masuk dalam kekafiran seluruhnya.

Agar seorang muslim menjadi generasi sahabat, wajib baginya menjadi hamba yang beribadah pada Allah, melihat pada ridha Allah azza wajalla dan merintis kebahagiaan akhirat. Ini adalah asal, selain itu hanya dijadikan sebagai sarana atau cabang saja.

Kaidah mengatakan; apabila asal dan cabang bertentangan wajib membatalkan cabang supaya yang cabang itu tidak membatalkan asal. Maksudnya apabila akhirat dan dunia bertentangan, wajib membatalkan dunia supaya dunia tidak merusak akhirat.

Sebab itu seorang muslim mempertahankan hartanya demi tujuan janah (surga), mengorbankan ruhnya demi janah, mengorbankan waktunya demi janah, mengorbankan cinta nisbi dan memilih menikah demi janah, mencampakkan kehormatan pangkat dan jabatan dihadapan manusia lalu memilih menjadi ghuraba demi janah. Tidak memposting amal shalih tapi sekuat tenaga menyimpan rapat demi janah. Menjaga kesucian diri demi janah…

Saat itulah dia menjadi manusia langit.

 

Ramadhan 1440H

Disarikan dari Kalimatu Ramadhaniyah Syeikh Abu Qatadah Al-Falestini hafizhahullah.