Pengantar Faidah dari Kitab Arbain Al-Jiyad Liahlit Tauhid wal Jihad

Penulis

Kitab Arbaun Al-Jiyad Liahlit Tauhid wal Jihad karya Syeikh Abu Qatadah Al-Falestini hafizhahullah lahir dari hasil hasil perenungan panjang lebih dua tahun bersama Shahih Bukhari kitab paling agung setelah Kitabullah dalam sebuah sel kecil berjeruji besi pada tahun 1426 H (2005 M). Sebagai upaya syeikh hafizhahullah membaca perkataan Nabi yang mengajarkan, menasihati dan memberi arahan. Membaca sirah Nabi yang turun padanya wahyu dari langit melalui hadist. Mencoba menyelami apa yang ada dalam pikiran serta hati Rasululullah shallallahu 'alaihi wassalam.

Pada hadits-hadits Shahih Bukhari, Syeikh Abu Qatadah Umar Mahmud Abu Umar hafizhahullah ingin menyingkap siapa Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam melalui perkataan-perkataannya. Karena pernyataan itu adalah ekspresi lisan dari seseorang. Pahami perkataannya engkau akan mengerti siapa yang mengatakannya.

Seseorang akan melakukan pencarian sesuatu yang dapat meneguhkan dirinya sesuai dengan ujian yang sedang dia hadapi. Bila dia dalam ujian tauhid dan jihad, ia akan menyelami perkataan-perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wassalam berkaitan dengan perkara tersebut. 

Hakikatnya kita semua dalam pencarian orang-orang yang bisa membuat kita teguh, orang-orang yang mewarisi petunjuk (al-insan al-muhtadi). Ketika beliau mengamati dalam Shahih Bukhari, beliau menemukan mereka adalah ahlu tauhid dan jihad. Mereka adalah orang-orang yang menyusuri firman Allah dan hadits-hadits (perkataan dan perbuatan) dalam kehidupan nyata di zaman kita ini.

Ahlu tauhid dan jihad adalah orang-orang yang melakukan apa yang diperbuat Ibrahim ‘alaihissalam menghancurkan berhala dan menghadapi seluruh kekuatan internasional dengan jiwa besar. Orang-orang yang mirip Ashabul Kahfi, lari berhijrah menyelamatkan tauhid tanpa batas waktu membawa segala kepedihan dan derita. Atau seperti Bara’ bin Malik, saudara Anas bin Malik yang inghimas menceburkan dirinya kedalam benteng si murtad Musailamah Al-Kazhab. Dan pula kita melihat pemimpin seperti Mullah Umar rahimahullah melepaskan kerajaannya demi tamak pada ridha Ar-Rahman.
 
Kita hari ini hidup dizaman digital berhias khayalan. Potret tidak seindah aslinya. Dengan sebuah aplikasi, semuanya bisa kita buat colorfull nan cantik memukau. Menjadi menara-menara tinggi yang menghalangi setiap sudut pandang ketika kita berjalan mencari al-haq. Keindahan itu ternyata tidak benar-benar elok, tapi malah menipu membuat kita tersesat seperti orang kehilangan rute di Segoro Gunung.

Di zaman seperti sekarang ini, kita benar-benar berhajat menyingkap segala sesuatu agar tidak tertipu dengan nama-nama palsu, judul-judul bertinta embos yang dipoles emas serta cover hasil ilustrasi software.

Dihadapan antum, catatan dari faidah Kitab Arbaun Al-Jiyad Liahlit Tauhid wal Jihad yang kami tulis secara bertahap -dengan memohon pertolongan dan taufiq Allah-. Sebagai kewajiban menuntut ilmu syari dan menggali warisan para ulama rabbani lalu mendakwahkannya. Karya ini kami kerjakan setelah menyelesaikan – atas fadhilah Allah semata - terjemahan matannya dengan judul: Matan Hadits Arbain Mutiara Ahlu Tauhid dan Jihad dari Shahih Bukhari.

Metode kami yaitu bagaimana menggali faidah-faidah dalam kitab tersebut secara ringkas dan menyusunnya secara terstruktural fokus pada topik agar memudahkan pembaca. Sebab, sebagaimana gaya tulisan syeikh Abu Qatadah, pembahasannya seringkali meluas keluar dari topik dengan pola melompat-lompat. Saya melihatnya bukan sebagai kekurangan justru malahan menjadi keistimewaan keilmuan beliau hafizhahullah ta’ala.

Syeikh Abul Hasan Rasyid Al-Bulaidi rahimahullah, ulama yang menghabiskan umurnya dalam jihad di Al-Jazair hingga terbunuh pada 2015 lalu telah memuji dan merekomendasikan kaum muslimin menelaah kitab ini melalui wasiatnya:

“Tak lupa saya menyarankan padamu, sungguh dalam Kitab Arbain Al-Jiyad terkandung mutiara dan kunci-kunci kekuatan azam bagi orang yang berakal. Kitab ini adalah mutiara seperti penamaannya itulah tidak bosan membacanya. Dengan membacanya saja saya bisa menyentuh getaran perasaan penulisnya dari dalam sel penjara, perasaan cinta pada ahlut tauhid wal jihad yang mengaduk-aduk hatinya. Jazahullah khairan atas kesungguhan yang baik yang menghasilkan karya yang baik.”

Membaca kitab ini berarti kita berusaha menyingkap sirah Rasul shallallahu 'alaihi wassalam dalam tauhid dan jihad, menyingkap sahabat generasi terbaik yang mengorbankan apapun untuk Allah dan Rasul, menyingkap sirah Imam Bukhari yang basah pipinya jari jemarinya bergetar ketika menulisnya selama 16 tahun dan menyingkap kesabaran penulis buku ini, semoga Allah senantiasa meneguhkannya.

Tulisan ini tentu saja tidak sempurna dan tidak bisa men-display secara utuh semua buah pikiran syeikh hafizhahullah. Tapi paling tidak, saya berharap usaha kecil ini menjadi nilai dihadapan Allah ta’ala sebagai bentuk kecintaanku dengan syeikh dan ahlut tauhid wal jihad. Lalu Allah memberkahinya dan menjadikannya bermanfaat bagi kaum muslimin.

Seluruh kebenaran merupakan taufiq Allah ta’ala dan saya memuji atasnya, sedangkan bila terdapat kesalahan-kesalahan maka saya rujuk pada kebenaran. Saya memohon kepada Allah untuk mengampuni dosa-dosaku. Walhamdulillah...

Zen Ibrahim

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.