Pengaruh Pemikiran Sukulerisme pada Model Lembaga Dakwah dan Pendidikan

Submitted by admin on Sat, 05/14/2022 - 09:27
Penulis

Pokok pikiran sekularisme memisahkan din dan dunia. Urusan din diserahkan pada pribadi masing2 sedang urusan dunia menjadi pekerjaan kolektif (baca: keumatan).

Karena kehidupan kita di bawah bayang-bayang sekularisme sejak lama yang mengatur seluruh sendi kehidupan dan hukum, tanpa sadar dan tanpa sengaja dakwah terpengaruh. Contoh: taklim, mengajar, membina adalah agenda yayasan dan lembaga (baca: keumatan). Apapun yg dibutuhkan selama itu agenda umat akan diusahakan dipenuhi. Sedang urusan asap dapur rumah tangga itu urusan individu masing-masing (beras habis pikir sendiri).

Contoh lain: Panitia pembangunan pondok, kebutuhan material apapun dan berapa milyar dana yg dibutuhkan untuk pembangunan akan diusahakan dipenuhi yayasan, bagaimanapun caranya. Karena itu agenda keumatan. Sedang jika ustad mau membangun rumah tangga, apalagi rumah tangga kedua maka itu urusan pribadi. Dari mahar, biaya menikah sampai kontrak rumah.

Pokok pikirannya adalah memisahkan antara urusan umat dan urusan pribadi. Seolah-olah pribadi ustad dan dai itu bukan bagian dari umat. SDM seakan tidak dianggap sebagai umat. Tetapi bangunan, tanah, program, pemasukan dana, fundraising, masjid, kamera, handycam, studio itu bagian umat. Sekularisme memandang semua hal sebagai materi. Padahal ruh bangunan dan gedung-gedung itu ustad. Tanpa ruh ustad, gedung hanyalah bangunan kosong tak berguna. Tapi karena ruh bukan materi, posisinya bukan prioritas, nomor sekianlah.

Betapa banyak yayasan hanya menjaga materi. Mati-matian bagaimana dia mempertahankan materi. Tapi mereka tidak pusing kehilangan ruh, ustad. Karena gampang mencari ustad zaman sekarang. Tinggal open recruitment, banyak ustad butuh kerjaan. Apalagi anak pengabdian atau anak baru lulusan yg minim rewel dan bisa digaji murah tanpa perlu repot dengan beban keluarganya karena masing bujang. Setelah itu media sosial dan mesin propagandanya dikuatkan. Bisa bayar fb ads dsb.

Yayasan butuh sarana, mereka meminta donasi ke umat karena itu sah disebut agenda keumatan. Anak ustad masuk pondok, itu urusan pribadi silahkan pikir sendiri cara bayar pendidikannya karena bukan program yayasan artinya bukan agenda keumatan. Bahkan kadang, anak ustad sendiri ditolak masuk ke lembaga tempat dia bekerja.

Tahukah antum, bibit ide memisahkan urusan umat dengan pribadi sudah muncul ribuan tahun lalu di zaman nabi Ibrahim as. Perhatikan dialog berikut:

قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ
Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang bocah yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim".

Kaum Nabi Ibrahim menyebut Ibrahim dengan seorang atau satu orang bocah (anak ingusan). Mereka menganggap urusan ubudiyah pada berhala adalah urusan umat. Ketika Ibrahim mempermasalahkan peribadatan mereka pada berhala, kaum menganggap Ibrahim melawan umat. Ibrahim dikeluarkan dari bagian umat. Dakwah Ibrahim pada tauhid hanyalah dakwah atas nama individu bukan sebagai bagian umat. Mereka tidak mengakui itu, dianggap ilegal sehingga disebutlah Ibrahim hanyalah fata (cah cilik kemelinti).

Lain halnya dengan pandangan Allah taala. Meskipun di zaman kekaisaran Babilonia yang kekuasaannya meliputi Iraq, Persia dan Mesir, yang beriman pada Allah di muka bumi hanya dua orang saja yaitu Ibrahim dan Sarah sebagaimana riwayat Bukhari. Allah menyebut Ibrahim sebagai umat, padahal hanya seorang. Dianugerahi gelar Al-Kahlil oleh Allah, padahal cuma seorang.

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً
Allah berfiman: sesungguhnya Ibrahim adalah umat.

Umat=banyak orang, kaum, bangsa

Ajaib wallahi. Manusia menyebutnya bocah sedang Allah menyebutnya umat.
Terpenting ialah, siapa kamu dihadapan Allah dan bukan siapa kamu dihadapan manusia. Terpenting adalah siapa kamu dihadapan Allah bukan siapa kamu dihadapan yayasan.

Syeikh Umar Mahmud hafizhahullah dalam Al-Qawaid Al-Awal fi Shana'atil Insan wad Daul berkata:

 ولقد تماهى أهل عصرنا من المفكرين المسلمين في فهمهم للحياة وسننها وشروط بقاء الأمم فيها على فهم الكافرين، فلم يعد هناك خصوصية لبناء الاسلام للحياة والانسان والدول والمجتمعات

Para pemikir Muslim di zaman kita telah mengidentifikasi diri mereka tentang kehidupan, cara-caranya dan syarat untuk kelangsungan hidup umat di dalamnya melalui pemahaman orang-orang kafir. Tidak ada lagi rumus keunggulan syariat untuk membangun Islam bagi kehidupan, umat, negara dan masyarakat.

Zen Ibrahim
13 Syawal 1443 H / 14 Mei 2022