Qiraah Diniyah; Membaca Hadits Nabawi

Submitted by admin on Tue, 07/12/2022 - 23:02
Penulis

Membaca Hadits Nabi shallallahu alaihi wassalam merupakan bentuk qiraah diniyah kedua setelah qiraah Al-Quran. Membaca hadits terbagi menjadi dua ilmu, sebagaimana disampaikan oleh Syeikh kami Samir bin Yusuf Al-Hanbali Al-Hakali hafizhahullah yaitu:

  1. Riwayah (periwayatan).
  2. Dirayah (pemahaman kandungan hadits).

Kemudian Ayahanda Syeikh Umar Mahmud hafizhahullah menerangkan dalam Kitab Fanul Qiraah; ilmu riwayah tertuang dalam bab khusus di kitab-kitab Musthalah Hadits yang disebut Bab Mentransfer Hadits Nabawi (تحمل الحديث النبوي) yang memiliki metode periwayatan yang ditetapkan ulama di antaranya dengan: Sama’ dan ijazah (mendengar hadits dari alim dan menerima ijazah sanad periwayatan hadits).

Periwayatan hadits biasa dilakukan dengan menggelar majelis periwayatan yang disebut Majalis Sama’ dan ini sangat masyhur dalam sejarah Islam. Para ulama hadits sangat bersemangat mengadakan majalis sama’ sampai misalnya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah pernah mengadakan seribu kali majalis sama’ sepanjang hidupnya. 

Di zaman dahulu, majalis sama’ dihadiri oleh ribuan orang dari thalibul hadits, thalibul ilmi, khalifah dan amir daulah, panglima dan komandan sampai masyarakat umum. Bahkan para ayah mengajak anak-anak mengikutinya untuk mengenal syeikhul hadits, mencintai hadits dan majelis ilmu.

Majelis sama’ memiliki pengaruh dan kewibawaan syeikh serta majelis yang sangat kuat. Para murid merasakan keindahan pembacaan hadits yang luar biasa. Zaman dahulu ketika belum ada teknologi pengeras suara, panitia menugaskan sejumlah orang untuk meneruskan apa yang dia dengar dari syeikh kepada ribuan pendengar, mereka disebut “nidaul musma’.”

Murid sering kali bertanya kepada nidaul musma’ ketika suaranya tidak jelas terdengar “Apa yang kamu katakan? Semoga Allah merahmatimu.” Kemudian nidaul musma’ mengulang kembali ucapannya. Al-Mulhab bin Abi Shafrah seorang mujahid mengungkapkan, kalimat permintaan jamaah pada nidaul musma’ agar mengulangi ucapannya itu lebih indah dari perkataan komandan perang sepanjang hidupnya.

Kewibaan syeikhul hadits bahkan melebihi kewibawaan khalifah. Bahwa Yazid bin Harun putra khalifah Harun Ar-Rasyid adalah seorang ahlul hadits memiliki kewibawaan yang ajaib dan menakjubkan. Sampai Zubaidah istri Harun Ar-Rasyid mengatakan, “Khalifah sesungguhnya itu Yazid bin Harun, bukan anda!” Saking wibawanya Yazid, Khalifah Al-Mamun menahan menampakkan pendapat sesatnya tentang khuluqul Quran selama Yazid hidup.

Imam Syubah bin Hajaj dijuluki amirul mukminin dalam hadits. Beliau adalah ulama yang pertama kali menggelar majelis khusus membahas jarh wa tadil perawi. Ilmu ini telah ada sejak awal Islam dan berkembang pesat di tangan ahlul hadits.

Imam Malik memiliki majelis pembacaan hadits yang sangat disegani melebihi majelisnya para khilafah. Demikian pula Imam Ahmad serta para imam hadits lainnya. Karena saking tingginya kewibawaan majalis sama’ hadits, para jamaah beradab dengan akhlak yang sangat tinggi ketika mendengar hadits hingga kemudian muncul kitab-kitab yang menulis tema adab majelis, adab menerima ilmu hadits serta adab perijazahan seperti kitab Makhudzul Ilmi Ibnu Faris.

Saking karismatiknya majalis sama’ hadits, disebutkan beberapa ulama hadits menutup majelisnya jika ditemukan seorang murid yang duduk bermain pena ketika mendengar hadits. Tidak ditemukan kesibukan lain kecuali mendengar hadits seakan-akan di atas kepala mereka bertengger burung. Mereka khusyu menulis hadits.

Dari majalis sama’ ini orang-orang zaman dahulu mengadakan rihlah untuk mengikuti majalis sama’ hadits nabawi. Rihlah yang di dalamnya dijumpai kelaparan, kehausan, ketakutan ditengah perjalanan, kepayahan, kesulitan dan rintangan lainnya. Sebagian pencari hadits menginfakkan seluruh warisan hartanya untuk mencari hadits dan meminta ijazah. Disitulah ditemukan keutamaan ahlul hadits. Ayahanda Syeikh Umar Mahmud hafizhahullah berkata:

و لا يحصل للمحدث الفضل الا بالرحلة ولا يعرف عن عالم الا و ارتحل

Pencari hadits tidak akan memperoleh kemuliaan kecuali dengan rihlah dan tidak diketahui kealiman seseorang kecuali dengan mengadakan rihlah ke kota lain. (Fanul Qiraah 83)

Kemudian ilmu dirayah yaitu syarah hadits yang juga berkembang lebih pesat karena berkaitan dengan pemahaman hadits. Seperti Fathul Bary Syarah Shahih Al-Bukhari oleh Imam Ibnu Hajar, Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi dan lain sebagainya. Ayahanda Syeikh Umar Mahmud juga mensyarah 41 hadits dari Shahih Al-Bukhari yang diberi judul Arbaun Al-Jiyad liahlit Tauhid wal JIhad yang telah kami terjemahkan matan dan juga kami bukukan faidahnya atas fadhilah Allah.

Salah satu bentuk pengembangan ilmu dirayah yaitu diadakan majelis mudzakarah hadits antar ulama. Majelis ini sangat sering dilakukan oleh Imam Al-Bukhari karena menguatkan hafalan dan memacu pengembangan ilmu hadits. Imam Ahmad jika mengunjungi Abu Hatim Ar-Razy meninggalkan ibadah-ibadah nafilah dan memaksimalkannya untuk mudzakarah hadits dan fiqih.

Jika Majalis Sama’ dan Majelis Mudzakarah diselenggarakan oleh ahlul hadits, terdapat majelis yang dilaksanakan oleh thalibul ilmi yaitu majelis murajaah hadits antar murid. Yaitu dengan membenarkan hafalan riwayah atau redaksi hadits ataupun keduanya. 

Demikianlah, para ahli hadits dan thalibul hadits tenggelam dalam kenikmatan yang sangat indah ketika membaca hadits. Dan ulama hadits memiliki waktu khusus bagi mereka sendiri untuk mudzakarah, meneliti, mengamati dan memahami hadits. Ulama yang pertama kali diketahui memiliki waktui khusus untuk hadits adalah Abu Hurairah radhiyallahu anhu, kibar ulama sahabat. Abu Hurairah berkata sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Darimi: “Sepertiga malam untuk tidur, sepertiga malam untuk shalat dan sepertiga malam terakhir aku mudzkarah sendiri hadits Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

Syeikh Abdullah Azzam rahimahullah, saat menjadi dosen mengajar Syeikh Umar Mahmud di Universitas Yordan selalu mengajarkan mahasiswa untuk menjadikan pembacaan hadits sebagai wirid harian sebagaimana menjadikan Al-Quran sebagai wiridan. 

Syeikh Samir Al-Hakali juga menekankan kami untuk rutin membiasakan membaca kitab-kitab musnad dari awal sampai akhir walaupun tidak paham seluruhnya. Karena tujuannya bukan untuk paham semuanya tetapi memahami sunah secara umum, mengikuti sunah ulama dan mencari barakah. Kami juga pernah mendengar Syeikh Al-Muhadits Abdullah Saad mengatakan bahwa menghafal Kitab Bulughul Maram merupakan pintu membuka barakah pemahaman ilmu-ilmu lainnya untuk mencapai kedudukan ahli ilmu. Wallahu alam.

 

Zen Ibrahim

14 Dzulhijah 1443 H