Qiraah Diniyah; Membaca Sirah Sahabat

Submitted by admin on Mon, 07/25/2022 - 12:49
Penulis

Membaca sirah perjalanan kehidupan sahabat bisa dengan membaca buku-buku sirah sahabat karya ulama atau dengan membaca hadits melalui kitab musnad. Membaca sirah sahabat artinya membaca berbagai peristiwa yang dilalui oleh para sahabat.

Membaca sirah sahabat melalui kitab hadits atau musnad lebih utama dan lebih indah. Sebab dengan membaca langsung sirah sahabat melalui hadits atau atsar lebih dekat pada makna dan peristiwa yang diriwayatkan. Mereka mengalami kehidupan era jahiliyah kemudian turun hidayah ilahiyah melalui Al-Quran dan hadits Nabawi. Melalui kedua wahyu mulia, keilmuan dan pengetahuan mereka tumbuh, terasah dan berkembang. Memahami kedua wahyu secara langsung dihadapan mereka, merasakan dan hidup mengalaminya. 

Sahabat hidup di dalam wahyu bukan hanya sekedar membaca nash-nash. Hidup bersama wahyu baik ruh maupun pergerakan. Ayahanda Syeikh Umar Mahmud berkata:

فقد تعلموا هذا الدين من خلال المعاناة و الصبر و البلاء

“Sungguh mereka telah mempelajari din ini melalui penderitaan, kesabaran dan ujian.” (Fanul Qiraah 85)

Rasulullah saw menjelaskan persoalan ini dalam hadits:

إنَّ هذا القرآنَ نزلَ بحُزْنٍ فإذا قرأتموهُ فابكوا فإن لم تبكوا فتباكَوا

“Sesungguhnya Al-Quran turun dengan kesedihan maka jika kalian membacanya menangislah. Jika kalian tidak bisa menangis berusahalah menangis.” 

Hadits ini dhaif dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dari Saad bin Abi Waqash. Tetapi diamalkan oleh salaf dengan banyak menangis ketika membaca Al-Quran. Hadits menggambarkan berbagai macam peristiwa ujian dan kesabaran para sahabat ketika hidup bersama wahyu.

Sebuah riwayat yang menggambarkan bagaimana sahabat hidup bersama wahyu misalnya, hadits dari Aslam bin Abi Imran dia berkata: 

Kami menyerang satu kota yang menjadi benteng Konstantinopel. Bersama kami Abdurrahman bin Khalid bin Al-Walid. Sedangkan bangsa Romawi berlindung di tembok benteng kota. Maka seseorang menceburkan diri menyerang musuh sendirian. Orang-orang berkata: Mah Mah! La ilahailallah, dia menceburkan diri kedalam kehancuran (bunuh diri -pent). Maka Abu Ayub berkata: Ayat tersebut turun pada kami golongan anshar yaitu ketika Allah memenangkan Nabi-Nya saw dan menjayakan Islam maka kami mengatakan: Sekarang kita bisa mengembangkan harta kita. Lalu Allah menurunkan firman-Nya:

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Dan infakkan (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.

Maksud menceburkan diri kedalam kehancuran yaitu sibuk mengembangkan harta dan meninggalkan jihad.” Abu Imran berkata: Abu Ayub terus berjihad fisabilillah sampai wafat dimakamkan di Konstantinopel.

Ayahanda Syeikh Umar Mahmud mengomentari hadits ini:  Permisalan peristiwa tersebut yang sahabat Abu Ayub hidup didalamnya, beliau sangat memahaminya karena nash hidup bersamanya, sangat fakih mengerti maknanya, merasakan cahaya dan petunjuknya dan huruf-huruf nash hidup dalam setiap tindakannya.

Rasulullah saw mentarbiyah para sahabat langsung dengan berbagai macam peristiwa yang mereka alami. Mereka tidak belajar di kelas atau halaqah. Tetapi para sahabat belajar bergerak di alam nyata. Karenanya, tarbiyah di lapangan menjadi bentuk tarbiyah paling ideal dan efektif karena akan melekat di pikiran dan hati. Syeikh Umar Mahmud berkata:

و التربية بالحدث هي أرقي أنواع التربية وما دام أن القراة تربية و سلوك و صناعة فإن القراة من خلال الحدث تكشف أعماقا للحرف لا يصل إليها الواقف على حده و شاطئه

Tarbiyah langsung di lapangan menjadi bentuk tarbiyah paling unggul sebagaimana membaca bisa membentuk adab dan perilaku. Maka membaca melalui kejadian peristiwa yang dilalui menyingkap kedalaman huruf yang tidak bisa dicapai pemahamannya oleh orang yang diam statis. (Fanul Qiraah: 85)

Belajar melalui peristiwa, para sahabat mempelajarinya melalui dua bentuk:
1. Percobaan kehidupan yang mereka saksikan langsung dengan turunnya nash yang menyertai kejadian. Dalil tersebut langsung menyentuh akal dan hati nurani sahabat.
2. Konsep nabawiyah dalam tarbiyah dan taklim yaitu mengkoneksikan peristiwa yang sedang mereka hadapi dengan peristiwa masa lalu yang pernah juga dialami kaum sebelumnya.

Bentuk kedua ini seperti riwayat Nabi saw meminta pendapat Abu Bakar dan Umar soal tawanan Badar. Setelah keduanya menyampaikan pendapatnya, Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya permisalanmu wahai Abu Bakar seperti Isa ketika berkata: 

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sedangkan permisalanmu wahai Umat seperti Nuh ketika berkata:

رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا

Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.

Tarbiyah mengkoneksikan peristiwa kekinian dengan peristiwa masa lalu bertujuan agar sahabat memahami sejarah perseteruan antara iman dan kufur sepanjang zaman. Dengan tarbiyah ini, ketika Rasulullah saw meminta kaum anshar berperang melawan Qurays di luar Madinah di lembah Badar, kaum anshar menyanggupi. Padahal baiat mereka di Aqabah hanyalah perjanjian melindungi Rasulullah saw di dalam Madinah bukan di luar Madinah. Melalui tarbiyah ini, Miqdad bin Al-Aswad tegas menjawab dengan mengingat peristiwa penolakan Bani Israil: 

 يا رَسولَ اللهِ، إنَّا لا نَقولُ لك كما قالت بَنو إسرائيلَ لِموسى: اذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ، ولكنِ اذهَبْ أنتَ وَرَبُّكَ فقاتِلا، إنَّا معكم مُقاتِلونَ.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak akan mengatakan padamu seperti perkataan Bani Israil pada Musa: Pergilah anda dan Rabbmu berperang. Sungguh kami duduk saja di sini. Tetapi kami berkata: Pergilah anda dan Rabbmu berperang, sungguh kami turut berperang.”

Tarbiyah melalui peristiwa membuat riwayat kisah sahabat menjadi indah, bercahaya dan hidup. Sanadnya yang diriwayatkan melalui mata rantai antar generasi bukan hanya dihantarkan melalui buku saja tetapi juga dihantarkan melalui perbuatan dan ketauladan perawi.

Zen Ibrahim
Penghujung tahun 1443 H, 27 Dzulhijah