Tugas Aktivis Muslim: Fokus pada Makna Asal Ibadah

menjadi pribadi tangguh

 

Submitted by admin on Wed, 06/05/2019 - 03:23
Penulis

Generasi sahabat adalah generasi yang beribadah pada Allah azza wa jalla. Tetapi ada pemahaman keliru pada pemahaman ibadah yang disampaikan oleh beberapa ustadz.

Ketika mereka menerangkan tentang ibadah, langsung membelokkan pada makna ibadah diluar makna prinsip. Mereka mengatakan: “Allah menciptakan kita untuk ibadah.” Segera setelah itu langsung menerangkan bahwa ibadah itu bukan hanya shalat, puasa, zakat, haji dan zikir. Bahwa makna ibadah sangatlah luas.

Pemahaman itu menimbulkan pengaruh buruk bagi jiwa. Harus menetapkan makna asal terlebih dahulu, yaitu ibadah itu merupakan amalan nusuk seperti shalat, puasa, zakat, haji, zikir, kurban dll. Artinya asal hidup manusia untuk shalat, berpuasa, tahajud, ibadah untuk menyucikan diri dan banyak-banyak berzikir:

لا يزال لسانك رطباً من ذكر الله

”Senantiasa lisanmu basah dengan zikir pada Allah.” (At-Tirmidzi)

Setelah diterangkan semua ini selanjutnya baru menerangkan definisi sekunder, definisi yang mengikuti makna ibadah prinsip. Seperti perbuatan baik secara umum, bekerja, menasihati, berbaik dengan tetangga dll adalah definisi ibadah dalam makna luas.

Inilah persoalan beberapa ustadz, membelokkan definisi ibadah kepada makna yang luas. Contohnya perkataan: “Maksud ibadah bukan hanya shalat saja.”

Kalimat ini dapat disalah artikan oleh masyarakat. Bisa keliru pemahaman shalat fardhu itu tidak penting lalu meremehkan ibadah-ibadah nusuk lainnya. Karena toh ibadah itu maknanya luas. Semua amal shalih itu juga ibadah. Akhirnya manusia malas dan meremehkan shalat fardhu, puasa sunah, tilawah Al-Quran, berzikir dan bentuk ibadah asal lain.

Penting merestorasi pemahaman kita dengan memperhatikan definisi asal ibadah. Sehingga tema dakwah pertama yang kita sampaikan pada masyarakat untuk menumbuhkan kecintaan mereka pada Al-Quran; membacanya, tahsinnya, dan menjadikannya sebagai kebiasaan wirid harian. Agar lisannya selalu basah dengan bacaan Al-Quran yang merupakan bentuk ibadah paling agung.

Menumbuhkan kecintaan pada shalat fardhu berjamaah dan tepat waktu, membiasakan shalat malam, puasa sunah, menutup aurat dengan sempurna dan itikaf. Terlebih dahulu membersihkan duri dalam hati kita sebelum menyingkirkan duri dari jalan.

Kita tidak mungkin dapat menyingkirkan rintangan di jalan dengan ikhlas kecuali hati kita harus bersih terlebih dahulu. Caranya dengan memperbanyak amalan ibadah prinsip. Melazimi thaharah, memperbanyak shalat, tilawah dan zikir.

Kasus sekarang, kita terjebak pada slogan aktivis muslim, yaitu seorang muslim yang tersibukkan dalam jamaah dan organisasi untuk berkhidmat pada masyarakat. Mengutamakan amalan-amalan zhahir dari pada amalan hati layaknya pekerja sosial. Pemahaman ini batil!

Tugas utama Aktivis muslim adalah sibuk beribadah pada Allah dengan bentuk ibadah-ibadah asal. Ibadah dalam makna lebih luas mengikuti ibadah makna asal.

Sahabat merupakan contoh aktivis muslim ideal, sebabnya keberadaan Nabi shalallahu alaihi wassalam bersama mereka. Syakhsiyah Nabi shalallahu alaihi wassalam dalam masyarakat sahabat merupakan rukun penting dalam mencetak generasi sahabat.

Seluruh sahabat ditarbiyah oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam untuk beribadah pada Allah dengan makna ibadah asal, menyerahkan segala urusan pada Allah dan memperbanyak zikir agar hati mereka bersih. Mereka melihat contoh nyata Nabi shalallahu alaihi wassalam yang selalu shalat, puasa, beristighfar dan ibadah lainnya.

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

”Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan (secara langsung) kepada mereka ayat-ayat Allah, (bersentuhan langsung untuk) membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah (dengan tatap muka).” (Ali-Imaran: 164)

Muhammad shalallahu alaihi wassalam yang telah diampuni dosa yang lampau dan akan datang tetapi kakinya bengkak begadang shalat malam. Sehingga ibunda Aisyah radhiyallahu anha mengatakan: ”Bukankah Allah telah ampuni segala dosa antum yang lalu dan akan datang?,” yang dijawab oleh beliau shalallahu alaihi wassalam:

أفلا أكون عبدا شكورا؟

”Tidakkah sudah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur.”

Kalimat itu menjadi mutiara tarbiyah sepanjang hayat bagi Aisyah radhiyallahu anha dan seluruh sahabat radhiyallahu anhum yang menyaksikan langsung shalat dan ibadahnya Nabi shalallahu alaihi wassalam.

Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu shalat bermakmun dibelakang Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang membaca surat Al-Baqarah. Saking panjangnya beliau mengira akan rukuk pada ayat ke seratus. Tapi setelah lewat ayat ke seratus Nabi belum juga rukuk, maka beliau menyangka rukuk pada ayat ke dua ratus. Selesai Al-Baqarah, Nabi langsung menyambung dengan An-Nisa sampai terbesit benak buruk dalam hati Ibnu Masud, yaitu duduk shalat sambil berdoa agar Nabi shalallahu alaihi wassalam segera rukuk.

Nabi shalallahu alaihi wassalam mengimami sahabat dalam satu rakaat membaca surat Al-Baqarah, An-Nisa sampai Ali Imran. Demikian seksama Nabi shalallahu alaihi wassalam mentarbiyah makna ibadah kepada generasi sahabat.

Sehingga bila kita melihat pada sahabat, kita akan menjumpai mereka selalu berdiri shalat di tengah kegelapan malam, melazimi zikir tanpa putus, selalu berpuasa sunah dan mereka mengutamakan amal-amalan hati agar mendapat anugerah kecintaan Allah ta’ala. Mewujudkan apa yang disebut ibadah pada Allah azza wa jalla.

Abu Asad

Disarikan dari Kalimatu Ramadhaniyah Syeikh Abu Qatadah Al-Falestini rahimahullah.

Artikel Terkait