Tuhfatul Urus: 3 Kiat Memilih Jodoh untuk Ikhwan dan Akhwat

Submitted by admin on Mon, 05/09/2022 - 11:41
Penulis

Berkata Imam At-Tijani:

Dalam memilih jodoh beberapa ahli hikmah memiliki pendapat; Diupayakan laki-laki lebih tinggi di atas wanita pada tiga perkara: Umur, harta dan kedewasaan. Jika tidak istri akan meremehkannya.

Dan diupayakan wanita di atas laki-laki pada tiga perkara: Kesabaran, kecantikan dan adab serta kecerdasan. Jika tidak suami akan meremehkannya.

Al-A'masy dari Ibrahim berkata: Jika Al-Qomah melamar wanita mencari yang keluarganya lebih rendah kedudukannya.

Ibnu Numair menjelaskan: Yaitu melamar wanita yang lebih rendah kedudukannya dan meninggalkan yang lebih tinggi kedudukannya.

Penjelasan

Terdapat rumus penting dalam perkataan ahli hikmah bagaimana mencari pasangan yang cocok :

Pertama, bagi ikhwan:

Diupayakan mencari calon istri yang umurnya lebih muda, lebih miskin dan kedewasaannya dibawahnya. Suami itu lebih baik lebih tua umurnya, lebih kaya dan lebih dewasa dari istri. Jika tidak, istri akan berpotensi meremehkan suami.

Tidak ada rumus si ikhwan harus paling ganteng, lebih pinter atau hafalan qurannya harus lebih banyak. Yg penting adalah si ikhwan sebaiknya lebih tua umurnya, punya uang lebih banyak dan lebih dewasa. Dia akan menjadi suami terhormat.

Kedua buat akhwat:

Carilah suami yang sabarnya dibawahnya, ganteng nya dibawah cantiknya, dan adab serta cerdasnya dibawah dirinya. Jadi, istri harus lebih menarik, cantik dari suami, harus lebih sabar dan harus lebih beradab dan cerdas. Jika tidak, suami akan meremehkannya.

Suami ganteng berpotensi meremehkan istri yg kurang cantik.
Suami lebih sabar berpotensi meremehkan istri yg emosian.
Suami lebih pinter dan lebih banyak hafalannya berpotensi meremehkan istri yg kurang pintar hafalannya dikit.

Istri lebih cantik, sangat sabar dan lebih pintar akan menahan kezhaliman suami. Pendapat ini menjadi tambahan setelah kriteria agama dan akhlak terpenuhi.

Zen Ibrahim
8 Syawal 1443 H / 9 Mei 2022 M

Referensi:
Tuhfatul Urus wa Mutatun Nufus, Imam Muhammad bin Ahmad At-Tijani (w 709H) hal 77

Artikel Terkait