Resensi Kitab Yauma Tublas Sarair; Pada Hari disingkap Segala Rahasia

wakaf laptop

 

Penulis

Hati Tempat Jatuhnya Pandangan Allah

Tema-tema syariat Islam jika kita perhatikan seksama, akan ditemukan keterkaitan erat hubungan antara amal zhahir dan amal hati (batin). Amal hati ini justru menjadi kunci, karena amal zhahir yang dilakukan anggota badan (amal jawarih) tidak akan bermanfaat tanpa benar dan bersihnya amalan hati. Maka amalan hati dan perbaikan amalan-amalan yang siri (tidak tampak) lebih wajib dari amalan yang tampak.

Tolak ukurnya pada hati dan amalan-amalan siri (amalan yang tidak tampak dilakukan secara rahasia). Dengan baiknya hati dan amal siri membuat amal lahir menjadi baik, sebaliknya jika amalan hati rusak maka otomatis amal lahir menjadi rusak pula seperti disebutkan dalam hadits:

أَلَا إِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

Ingatlah sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik maka baik pula seluruh jasad, namun apabila segumpal daging itu rusak maka rusak pula seluruh jasad. Perhatikanlah, bahwa segumpal daging itu adalah hati!” (Al-Bukhari dan Muslim)

Hati jugalah yang berperan membongkar antara mukmin yang shadiq (jujur) dengan munafik. Sebab itu mengapa ibadah hati lebih berat dari ibadah jawarih. Hati adalah tempat jatuhnya pandangan Allah, dengannya manusia bertingkat-tingkat kedudukannya dihadapan Allah. Hati pula faktor diterima atau ditolaknya amalan di sisi Allah.

 

Tiga Kelompok Manusia Memandang Amalan

Manusia mempunyai sikap yang berbeda-pada pada amalan batin dan lahir. Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Badaiul Fawaid 3/162-163 membaginya menjadi tiga kelompok:

  1. Mengutamakan pada perbaikan amal jawarih lahiriyah sesuai dengan sunah namun lemah memperhatikan amal hati dan siri. Akibatnya ibadah hatinya menjadi lemah.

  2. Mengutamakan amalan hati tetapi lemah mengerjakan amalan jawarih. Akibatnya ibadah jawarihnya lemah atau rusak.

  3. Kelompok pertengahan, yaitu orang-orang yang mengutamakan perbaikan amalan rahasia dari pada amalan lainnya dan menempatkan amalan lahir mengikuti amalan hati. Inilah ibadah yang jujur sempurna.

 

Pada Hari disingkap Sarair

Jika kita mencermati kehidupan salaf shalih akan ditemukan perhatian mereka dalam memperbaiki amalan-amalan siri dan sekuat tenaga menghindari perkara-perkara yang dapat merusaknya. Sebaliknya, kondisi kita hari ini banyak lalai dan meremehkan hati. Lalai memperbaikinya dan lupa dengan amalan siri dan menjaga dari perkara yang merusaknya.

Posisi amal siri sangat kritis. Andai terbongkar rahasia seseorang akan tampak semua amalan lahir dan batin, yang baik maupun yang buruk. Disinilah mengapa amal siri harus ditutup rapat. Amalan rahasia dihadapan Allah semuanya tampak, apa yang disembunyikan dalam hati semuanya tampak.

Allah telah memperingati kita pada hari ditampakkan dan dibongkar segala rahasia. Saat itu seluruh amalan batin akan yang kita rahasiakan akan ditampakkan dihadapan manusia. Tampaklah keikhlasan, mahabah (cinta) dan yakin. Tampak pula kenifakan yang kita sembunyikan, kedustaan yang kita pendam dan riya amalan yang kita lakukan. Allah berfirman:

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

Pada Hari disingkap sarair.” (Ath-Thariq: 9)

 

Definisi Sarair

Definisi sarair dalam Lisanul Arab yaitu:

السر : من الاسرار التي تكتم . و السر : ما أخفيت , و الجمع أسرار , و اسريرة كا لسير . و الجمع السرائر , و السر

As-Sir dari kata al-asrar (rahasia-rahasia) yang disembunyikan. As-sir : apa yang disembunyikan jamaknya asrar. Sedangkan As-Sarirah seperti as-sir, jamaknya as-sarair. As-Sir apa yang dirahasiakan. As-Sarirah: amalan sir (rahasia) yang baik atau buruk.

Jadi arti sarair adalah amal-amal rahasia yang baik atau buruk. Saat hari hisab tiba, maka pada hari itu disingkaplah semua amal-amal baik atau buruk yang kita rahasiakan.

 

Qolbun Salim

Waktu itu orang yang bahagia adalah yang takut berdiri dihadapan Rabbnya dengan menyiapkan perbaikan hati saat hidup di dunia. Sebab tidak ada yang selamat kecuali orang yang memperhatikan perbaikan amalan rahasia dan keselamatan hati di zaman penuh kelalaian ini seperti firman Allah:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan qolbun salim.” (Asy-Syuara: 88-89)

Qolbun salim inilah yang disebut sebagai sarirah shalihah, tersebut dalam doa Nabi Ibrahim alaihissalam. Qolbun salim harus terisi dengan amalan-amalan dan keyakinan (aqidah) hati yang dicintai Allah dan harus kosong dari amalan-amalan hati dan keyakinan yang dibenci Allah.

Tidak bisa disebut qolbun salim bila dalam hati bercampur sesuatu yang dicintai dan dibenci Allah. Tidak bisa disebut qolbun salim bila dalam hati terdapat aqidah yang shahih lalu pada sisi hati yang lainnya terdapat aqidah yang rusak.

Syeikh As-Sadi mendefinisikan qolbun salim dengan: Hati yang selamat dari syirik dan keragu-raguan, cinta pada keburukan, perkara bidah dan dosa dan harus terisi dengan lawan semua itu yaitu ikhlas, ilmu, yakin, cinta kebaikan. Iradah dan cintanya mengikuti cinta Allah dan menyingkirkan hawa nafsunya mengikuti pada perintah Allah.

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin ketika menulis tentang manzilah taslim (peringkat penyerahan diri) dengan perkataan beliau: Pahamilah sesungguhnya taslim adalah membebaskan dari syubhat yang bertentangan dengan kebaikan, syahwat yang bertentangan dengan perintah, iradah yang bertentangan dengan ikhlas, penentangan yang berlawanan dengan qadar dan syariat. Dan mereka yang memiliki manzilah ini yaitu pemilik qolbun salim yang tidak akan selamat di akherat kecuali siapa saja yang datang dengannya.

 

Keutamaan Salaf pada Amalan Sir

Bila kita amati perjalanan para Nabi alaihimushalatu wassalam, kita akan menemukan kehidupan yang agung lagi mulia. Contohnya Nabi Ibrahim yang disifati Allah dengan pemilik qolbun salim:

إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(lngatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang salim.” (As-Shafat: 84)

 

Sedangkan Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam disifati dengan pemilik akhlak yang mulia.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)

Semuanya Nabi tersebut memiliki akhlak mulia yang meliputi akhlak batin dan zhahir. Kemudian setelah itu datang para shidiqun yang juga mengutamakan amalan sir dan salamatul qolbi, penghulunya adalah Abu Bakar As-Shidiq radhiyallahu anhu. Tampak kebaikan amalan sir nya dan kejernihan batinnya dalam berbagai situasi dalam kehidupannya. Seperti yang dikatakan oleh Abu Bakar Al-Muzni rahimahullah:

ما فضل أبو بكر بفضل صوم ولا صلاة لكن بشئ وقر في قلبه

“Abu Bakar tidak menjadi utama karena puasa dan shalat tetapi apa yang terpatri dalam dadanya.”

 

Ibnu Aliyah rahimahullah menjelaskan : Yaitu apa yang ada dalam hatinya dari cinta pada Allah dan nasihat pada sesama.

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: Zaman kami dikenal bukan karena banyaknya shalat dan puasa tetapi dikenal karena jiwa besar, lapang dada dan menasihati umat.

 

Tanda diharamkan dari Taufik

Tanda taufik dari Allah bagi hamba adalah perhatiannya pada perbaikan amalan rahasia dan sibuk memperbaiki amalan batin serta menyucikannya dari perkara-perkara yang merusak dan sifat tercela seperti: hasad, riya, ujub, sombong, keinginan terkenal dan viral dll.

Sebaliknya, tanda keharaman taufik Allah adalah seseorang tersibukkan dengan aib orang lain atau sibuk dengan perbaikan lahir daripada batin.

 

Urgensi Tema Perbaikan Amalan Hati

Tema pembinaan hati merupakan tema yang sangat penting, terlebih pada era digital. Syeikh Abdul Aziz bin Nashr Al-Julayil memberikan beberapa alasan mengapa beliau menulis kitab ini yaitu:

  1. Terbukanya pintu-pintu fitnah dari fitnah syubhat maupun syahwat dengan berkembangnya teknologi. Menyebabkan hati menjadi kotor dan lalai dari akherat. Timbulah hasad, ghil pada saudaranya, riya, senang popularitas dan menyukai jabatan dihadapan manusia.

  2. Keutamaan seseorang di sisi Allah berdasarkan hati dengan amalan rahasia yang benar seperti ikhlas, mahabah dan pengagungan padaNya. Sebab itu orang yang melakukan ibadah yang sama tapi nilai keutamaan dihadapan Allah bisa berbeda bahkan bisa sejauh antara langit dan bumi karena persoalan hati. Demikian juga besar kecil dosa maksiat yang dilakukan oleh orang yang sama bisa berbeda karena apa yang terdapat dalam hati berupa sikapnya pada maksiat dan malunya pada Allah.

  3. Permasalahan permusuhan yang terjadi antara manusia terutama para dai dan thalibul ilmi kebanyakan karena persoalan hati dan rusaknya amalan rahasia. Karena itu para dai dan mujahid fisabilillah harus berhati-hati dengan seseuatu yang tersembunyi dalam hati dan berusaha menyucikannya. Sehingga dakwah dan jihadnya diterima di sisi Allah serta meninggalkan bekas yang baik diantara manusia.

  4. Pentingnya amalan-amalan rahasia dan amalan hati karena itu merupakan asas keimanan, kekufuran dan kenifakan sesuai dengan dengan apa yang menimpa hati dari sifat-sifat tersebut. Pengaruhnya pada akhir nafas seseorang.

  5. Tema hati masih sangat sedikit referensinya dan masih jarang diajarkan pada majlis-majlis taklim dan dunia pedidikan dibandingkan dengan materi lain. Lebih terpaku pada persoalan ilmiah tanpa memperhatikan persoalan hati.

Kitab setebal 239 ini terbagi menjadi 5 pasal, penuh dengan dalil-dalil dan perkataan-perkataan salaf didalamnya meskipun kadang-kadang mengalami banyak pengulangan. Pasal tersebut yaitu:

  1. Definisi sarair.

  2. Ayat, hadits dan atsar berkaitan dengan sarair.

  3. Tanda-tanda baik atau rusaknya batin seseorang.

  4. Buah amalan sir.

  5. Faktor-faktor pendukung agar batin kita menjadi baik.

Salah satu faktor yang membuat kitab ini sangat menarik yaitu; kami tidak menemukan biografi lengkap tentang penulisnya, bahkan kami tidak menemukan fotonya. Kami hanya menemukan informasi singkat bahwa beliau adalah sarjana Farmasi dari Riyadh yang bekerja sebagai direktur perusahan penerbitan buku Darul Thayibah selama 20 tahun lalu menjadi pembina bagian keilmiahan di perusahan tersebut. Beliau memiliki guru utama kepada Syeikh Abdullah Al-Jibrin dan Syeikh Abdurrahman Al-Barak. Seolah-olah beliau ingin bersembunyi dari manusia mengamalkan apa yang beliau tulis dalam kitab ini.

 

Hamba yang Paling dicintai Allah

Sebelum kami nukilkan teladan para salaf dalam menjaga keikhlasan mereka dengan membina hati mereka, sebuah hadits yang menjadi acuan yaitu:

أحَبُّ العِبَادِ إلَى اللهِ تَعَالى الأتقِيَاءُ الأخْفِيَاء، الذيْنَ إذَا غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوْا، وَإذَا شَهِدُوْا لَمْ يُعْرَفُوا، أولئِكَ هُمْ أئِمَّة الهُدَى وَمَصَابِيْحُ العِلمِ

Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah mereka yang bertaqwa dan yang tersembunyi. Bila tidak hadir, mereka tidak dicari. Dan bila hadir mereka tidak dikenali. Mereka adalah para imam yang membawa petunjuk dan lentera-lentera ilmu.” (Al-Hakim)

Kebiasaan para salaf yaitu, mereka bermujahadah menghindari pujian manusia, pemuliaan dan mereka benci untuk nampak diantara mereka. Sikap tersebut pertanda keikhlasan mereka dan mencukupkan diketahui oleh Allah saja, mengharap pahalanya. Mereka sangat bersungguh-sungguh zuhud dari pujian manusia, menampakkan diri, mereka tidak mencari keterkenalan bahkan justru mereka membenci hal tersebut.

Mereka sangat menginginkan bercampur dengan manusia tidak nampak. Mereka tidak ingin amal mereka terlihat kecuali hanya oleh Allah. Namun justru Allah sendirilah yang menampakkan mereka, meninggikan nama mereka dan membuat orang-orang mencintainya.

Uwais Al-Qarni radhiyallahu anhu, mustahil Umar radhiyallahu anhu bisa menemukannya tanpa tanda yang disebutkan Rasulullah salallahu alaihi wassalam. Umar radhiyallahu anhu menemukannya saat ia hendak pergi ke Kufah Irak, beliau menawarkan untuk membawa surat pengantar kepada gubernur Kufah agar mendapat pelayanan dan kemudahan perjalanan. Uwais menolak, “Aku lebih suka bercampur dengan orang-orang,” katanya.

 

Tauladan Salaf

Imam Asy-Syafii rahimahullah pernah berkata: Aku sangat mendamba, makhluk mempelajari ilmu ini dan tidak menyandarkan semua ilmu tersebut pada diriku.

Adalah Khalid bin Mi’dan rahimahullah jika halaqahnya semakin ramai beliau menghentikan pelajarannya dan menutupnya khawatir terkenal.

Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah menulis kepada saudaranya: Waspadalah pada cinta kedudukan, karena sesungguhnya zuhud dengannya lebih berat dari zuhud dengan dunia.

Ibrahim bin Adam rahimahullah berkata: Allah tidak akan mempercayai siapa saja yang mencintai popularitas.

Ditanyakan kepada Hamdun bin Ahmad rahimahullah: Apa yang membuat perkataan salaf lebih bermanfaat dari perkataan kita? Beliau menjawab: Sebab mereka berkata demi izah Islam, keselamatan jiwa dan mencari ridha Ar-Rahman. Sedangkan kita berkata demi izah diri sendiri, mencari dunia dan ridah makhluk.

Dari Nuaim bin Hamad rahimahullah berkata, aku mendengar Ibnu Mubarak rahimahullah berkata: Aku tidak melihat seseorang melebihi Malik, bukan karena banyak shalat dan puasanya tapi karena sarirahnya.

Dari Al-Qasim bin Muhammad rahimahullah berkata: Kami bersafar bersama Ibnu Mubarak, banyak pertanyaan yang membuat hatiku penasaran; apa sih yang membuat orang ini lebih mulia dari yang lainnya? Padahal jika dia shalat kami jika shalat, jika dia puasa kami juga puasa, jika dia berperang kami juga berperang dan jika dia berhaji maka kami juga berhaji. Suatu saat, ketika kami diperjalanan malam menuju Syam, kami beristirahat di sebuah rumah. Tiba-tiba mati lampu. Maka diantara kami keluar mencari pelita. Setelah menemukan dia masuk bersama pelita yang menerangi. Segera aku menengok ke wajah Ibnu Mubarak dan aku lihat jenggotnya basah dengan air mata. Aku berkata dalam hati: Inilah khasyiah yang membuatnya lebih mulia dari kita-kita. Mungkin ketika mati lampu dia mengingat hari kiamat.

Berkata Abu Ubaid As-Siri rahimahullah: Nifak adalah kotoran busuk sarirah. Takutlah pada Allah seakan-akan manusia melihatmu takut pada Allah padahal hatimu bermaksiat.

Berkata Imam Asy-Syafii rahimahullah: Seorang alim harus memiliki suatu amal shalih yang diketahui hanya antara dirinya dan Allah saja. Jangan sampai dia hanya bersandar pada ilmunya saja. Jika hanya demikian sedikit manfaatnya di akhirat.

Berkata Ibnul Qayim rahimahullah: Semua cinta bukan padaNya hanya azab pada pelakunya dan kerugian, kecuali cinta padaNya dan cinta untuk menyeru pada cinta-Nya, ajakan pada taat untukNya dan mencari ridhaNya. Hanya ini yang akan tetap bermanfaat dalam hati pada hari disingkap segala sarair.

Download

Download Ebook Kami

Kami telah menyiapkankannya dalam bentuk Ebook Cetak, Ebook smartphone.

Download Sekarang

 

Download
Download Ebook Kami

Kami telah menyiapkankannya dalam bentuk Ebook Cetak, Ebook smartphone.

Download Sekarang