Istilah-istilah Terkait Hukum Tata Negara dan Politik Islam

menjadi pribadi tangguh

 

Definisi Siyasah (Politik)

Dari kata ساس يسوس؛ قادَ يقودُ yaitu memimpin.

Yaitu seni memimpin, mengelola dan mengarahkan.

Juga berarti: Realisasi politik untuk kemaslahatan mereka yang dibawah kepemimpinannya dan pengelolaannya serta mencegah kerusakan dan madharat yang mengancam mereka dengan berbagai macam cara yang memungkinkan.

Definisi tersebut dipahami dari dua hadits berikut yang menerangkan persamaan makna qiyadah (kepemimpinan) dengan siyasah (politik):

كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء، كلما هلك نبي خلفه نبي، وإنه لا نبي بعدي، وسيكون خلفاء فيكثرون

Bani Israil dipimpin oleh para Nabi. Setiap meninggal seorang Nabi maka diangkat Nabi lain untuk memimpin. Dan sesungguhnya tidak ada Nabi sepeninggalku dan akan muncul para khalifah yang banyak.” (Al-Bukhari)

لو استعمل عليكم عبد يقودكم بكتاب الله، فاسمعوا له وأطيعوا

Andai kalian dipimpin dengan Kitab Allah oleh budak, dengarkan dan taatilah!” (Muslim)

Baik atau buruknya politik tergantung pada asas perpolitikan tersebut seperti asas pemikiran, kebudayaan dan ilmu pengetahuan serta akhlak.

 

Siyasah Syariyah (Politik Syari)

Banyak definisi yang disampaikan para ulama diantaranya:

  • Mengarahkan moral manusia baik dia pemimpin atau bawahan agar sesuai dengan tujuan hukum-hukum syariat.

  • Memimpin manusia kepada maslahat diniyah dan dunawiyah dengan hukum-hukum syariat Islam.

  • Pemahaman waqi (realitas kekinian), penafsirannya dan penyikapannya melalui kecamata Islam.

Prioritas siyasah syariah demi menjaga tujuan dan maslahat: dien, jiwa, akal, kehormatan, nasab dan harta. Kelima tujuan syariat tersebut mengharuskan untuk menjaga wilayah dan tanah air, karena tanah air menjadi pelindung semua tujuan tersebut. Ketidakmampuan menjaga tujuan syariat karena ketiadaan tanah air. Dari sinilah asal fatwa jihad jika terdapaat sejengkal tanah air umat Islam dijajah oleh musuh.

 

Gaya Bahasa Beramal dalam Ranah Politik

Gaya bahasa beramal dalam ranah politik berbeda dengan gaya bahasa beramal dalam dakwah. Keduanya memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda. Pada dakwah, umumnya seorang pendakwah berdiri dihadapan masyarakat memberikan tausiyah dan ilmu untuk kebaikan dunia dan akhirat. Sedangkan politikus, memiliki tanggungjawab manajerial pada sejumlah orang, jamaah atau masyarakat luas.

Seorang muslim yang bekerja dalam bidang politik untuk masyarakat luas, dalam pemerintah atau sebagai presiden, dia bekerja mengelola berbagai macam suku, karakter masyarakat, muslim dan kafir dan shalih atau buruk. Pula berinteraksi dengan tatanan yang rusak khususnya di zaman kita ini, berinteraksi dengan pemerintahan thaghut yang merusak. Berinteraksi dengan pemerintah yang asas pemerintahan mereka untuk melakukan makar, tipuan dan konspirasi. Maka seseorang yang bekerja dalam ranah politik ini bergerak dihadapannya tersebar ranjau dan lubang ular. Sudah seharusnya dia memikirkan langkah-langkah yang harus dia tempuh secara cermat. Harus menimbang matang-matang segala keputusan. Begitu pula menimbang kalimat yang akan diucapkan. Jika tidak, dia akan jatuh pada suatu madharat, kerugian bagi diri sendiri, masyarakat dan juga negaranya. Bila demikian hal tersebut bukan bagian dari iman, kecerdasan dan politik.

Seandainya dia sukses dalam misinya di ranah politik, kita harus memberinya penghargaan tanpa berlebih-lebihan atas amal dan jasanya. Tidak boleh menyempitkannya dengan sesautu yang tidak perlu, atau mengoreksi siyasah syariyahnya dihadapan orang lain. Mencelanya atau menganggapnya berkhianat, memvonisnya dengan kafir hanya karena senyumannya, perkataannya, pergerakannya, majlis-majlisnya saat bekerja di ranah politik. Ini tidak boleh.

Sayangnya, sebagian kita membantahnya dengan cara yang kasar dan berlebihan kepada aktivis perpolitikan. Si yunior merasa lebih hebat dari seniornya bahkan memvonis dengan perbuatan dosa. Tetapi si yunior ini ternyata jika diberi kesempatan untuk beramal dan membangun tidak mampu melakukannya bahkan membahayakan orang lain dari pada memberi manfaat.

Ketika berdiskusi dengannya berkaitan dengan siyasah syariyah dan tuntutan-tuntutannya, tentang maqashid syariyah, maslahat dan mafsadat serta tarjih antara keduanya, tentang alasan tujuan melakukan atau tidak melakukan, tentang membiarkan madharat yang lebih kecil dari madharat yang lebih besar ketika posisi lemah dan tidak memiliki kemampuan defensif. Tentang menahan madharat yang lebih besar dengan madharat yang lebih kecil, tentang ekploitasi sesuatu yang mungkin untuk diwujudkan sekarang ini sesuai kemampuan dari sesuatu yang tidak mungkin dilakukan sekarang. Maka si yunior ini segera menolak dan membantah, bahkan mungkin menuduhmu murtad.

Pemikiran mereka adalah terapkan Islam 100% atau tidak usah sama sekali. Jika diterapkan Islam 90% dia tidak akan mengakuinya dan meributkan yang 10% belum mampu diterapkan.

Sesuatu yang bisa dilaksanakan sebulan diinginkan dikerjakan selama sehari. Apa yang bisa dilakukan selama setahun ingin dirampungkan selama sepekan. Jika kamu tidak melakukannya dan tidak mampu melakukannya maka menurutnya anda orang yang buruk.

Andai diserahkan urusan padanya tidak akan tegak Islam, tidak akan tegak daulah selama setahun kedepan atau bertahun-tahun karena mereka tidak mengakui strategi pembangunan dan tuntutan siyasah yang mungkin bisa diaplikasikan.

 

Perbedaan antara Penanggungjawab dengan Bawahan

Seorang penanggungjawab/koordinator yang menangani urusan kaum muslimin, harus bisa menjaga lisan dan tindakannya, harus berhati-hati agar tidak terkena ranjau. Sedangkan mereka yang tidak memiliki tanggungjawab apapun atau sebagai bawahan dan rakyat dapat berteriak semaunya sendiri, melakukan kritik dan bantahan tanpa resiko.

Potensi kesalahan selalu pada siapa yang beramal dan bergerak sedangkan orang yang tidak beramal tidak akan melakukan kesalahan atau melakukan kebenaran.

Negara, lembaga dan yayasan dibangun atas kesungguhan para penanggungjawab bukan mereka yang tidak menjadi penanggungjawab dan tidak bekerja.

Pekerjaan penanggungjawab dengan kesalahannya dan ketergelincirannya, usahanya dalam melakukan perbaikan dan meluruskan semampunya diberi pahala. Dia lebih baik dan lebih afdhal seribu kali daripada yang bukan tidak memiliki tanggungjawab dan tidak beramal karena mereka tidak memiliki resiko salah.

 

Syubhat: Politik Hanya Merusak

Ada pendapat untuk meninggalkan (i'tizal) pemerintahan, pengelolaan negara dan masyarakat pada fase reformasi dengan alasan akan memicu kesulitan dan benturan. Kesulitan untuk mengendalikan pada akhirnya nanti.

Ini adalah alasan yang tertolak karena mementingkan kemaslahatan dan keselamatan pribadi, kelompok di atas kemaslahatan umat dan rakyat. Kami tidak menyetujui dan menetapkannya. Bahkan dalam tahap ini wajib bagi pemimpin jamaah yang memiliki kemampuan untuk memimpin untuk tampil memimpin masyakarat. Seperti Yusus alaihissalam saat menjadi PM Mesir melakukan pencegahan agar negara tidak hancur dan meminimalisir kerusakan serta madharat.

Jika tidak mengambil kepemimpinan akan direbut oleh pemimpin yang lemah, lebih buruk dan menambah kerusakan serta madharat. Hasil yang demikian tidak diridhai oleh siapapun yang beramal melakukan perbaikan.

Mundur dari tempat yang wajib ain baginya melakukan kendali dan melakukan kepemimpinan serta kepengurusan khususnya saat terdapat person pengelola yang buruk bukan bagian dari takwa, wara dan zuhud pada kepengurusan atau perbuatan yang tidak meminta kepemimpinan atau menolak karena akan mengakibatkan kehancuran bagi keseluruhan, bagi negeri dan rakyat sekaligus.

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقًا ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا . فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا ، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (Al-Bukhari).


Siapa yang melarang suatu kelompok agar tidak menjadi nakhoda kapal agar tidak merusak kapal dan penumpang tidak akan terealisasi kecuali anda harus mengganti kepemimpinan mereka.

إن الإسلام بدأ غريبًا، وسيعودُ غريبًا كما بدأَ، فطُوبَى للغُرباءِ. قيل: من هم يا رسولَ اللهِ؟ قال: الذينَ يُصلحونَ إذا فسدَ الناسُ

Sesungguhnya Islam datang terasing dan akan kembali menjadi terasing seperti mulanya. Thuba bagi orang terasing. Ditanya: Siapa mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Mereka yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia rusak.”

Dalam riwayat lain:

مَن يَعصيهم أَكْثرُ مِمَّن يطيعُهُم

Mereka yang menentangnya lebih banyak dari yang menaatinya.”

Namun dengan kondisi tersebut mereka tidak meninggalkan pentingnya perbaikan, bahkan malahan berdiri menghadapi gelombang yang rusak untuk mengembalikan kepada al-haq dan kebaikan meskipun mereka mendapatkan gunjingan dan resiko pribadi. Pahala tergantung pada kesulitan, amal dan ujian karena Allah. Penerimaan langit dan bumi tergantung dengan amal orang-orang yang ikhlas bukan bagi orang yang duduk-duduk yang meninggalkan tempat-tempat yang wajib bagi dia untuk maju.

 

Bahasa Politik

Bahasa politik berbeda dengan bahasa mufti atau fatwa. Bahasa politik seringkali meninmbulkan multitafsir tidak mengandung ketegasan. Ini dilakukan agar pada kesempatan lainnya yang dibutuhkan dia bisa keluar dari kesulitan. Jika dia menggunakan kalimat tegas akan kesulitan saat menghadapi situasi yang tidak menguntungkan.

Bahasa yang disampaikan ketika kondisi taqiyah dan lemah serta darurat berbeda dengan bahasa yang disampaikan saat kuat, tamkin (memiliki kedaulatan) dan leluasa. Hanya orang bodoh yang mencampur antar keduanya.

Kita memerangi sekularisme selama seratus tahun, kita mengatakan Islam adalah dien dan daulah. Lalu saat diantara kita bersungguh-sungguh untuk mewarnai siyasah syariyah dan beramal dalam bidang politik untuk membuktikan batilnya konsep pemisahan antara dien dengan politik tiba-tiba sebagian kita mengingkarinya dan mencelanya. Memvonisnya melakukan dosa karena perkataan tersamar yang dia katakan.

Maka apapun gerakan politiknya atau perkataan politik yang tersamar, perundingan dengan unsur asing yang terdapat maslahat dan siyasah syariyah, senyuman, atau sikap yang ditunjukan dalam keadaan bahaya dan taqiyah, melindungi diri dari keburukan munafik, kafirin pada Islam dan kaum muslimin akan ditafsirkan secara langsung oleh orang-orang ekstrim bahwa dia kafir, murtad, antek asing, pengkhianat dan berwali kepada orang kafir yang mengakibatkan pelakunya keluar dari milah. Kemudian memprovokasi sekitarnya lalu timbullah fitnah.

Cara menilai suatu amal politik baik atau tidak dengan melihat hasil. Apakah terdapat maslahat yang rajih atau tidak, apakah mencegah kerusakan yang rajih atau tidak.

Dalil:

إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً

Kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali-Imran: 28)

Ibnu Kasir: Yaitu siapa berada disuatu negara atau situasi tertentu dan takut dari keburukannya hendaknya dia bertaqiyah di lahiriyah bukan di batin dan niatnya, sebagaimana riwayat Al-Bukhari dari Abu Darda bahwa dia berkata: Sesungguhnya kami menunjukkan wajah ceria di hadapan suatu kaum padahal hati kami melaknatnya.

Ibnu Jarir: Ketika kalian takut pada kekuasaan mereka yang berisiko keselamatan diri kalian, tampakkan ketundukan pada kekuasaan mereka dengan lisan kalian, sembunyikan permusuhan dan jangan cela perbuatan kufur mereka dan jangan muslimkan hanya karena perbuatan keislaman mereka.

Terkhusus pada zaman dan fase kelemahan maka jangan menunjukkan sikap keras atasnya.

وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195)

 

Larangan ini tertuju pada perseorangan, negara dan masyarakat. Bahkan membentengi negara dan masyarakat dari kehancuran atau dari sesuatu ancaman yang berisiko kepada kehancuran lebih prioritas dari membentengi diri sendiri. Jika kehancuran ini tidak bisa dicegah atau untuk mencegahnya diperlukan suatu bentuk menampakkan kebaikan dan keramah tamahan, senyuman, candaan dan tawa dihadapan orang-orang batil maka sikap tersebut tidak mengapa.

 

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآهُ قَالَ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ وَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ

Dari Aisyah Bahwa seorang laki-laki meminta izin kepada nabi shalalahu 'alaihi wa sallam, ketika beliau melihat orang tersebut, beliau bersabda: "Amat buruklah saudara Kabilah ini atau seburuk-buruk saudara Kabilah ini." Saat orang itu duduk, beliau menampakkan wajahnya yang berseri-seri, setelah orang itu keluar Aisyah berkata; "Wahai Rasulullah, ketika anda melihat (kedatangan) orang tersebut, anda berkata seperti ini dan ini, namun setelah itu wajah anda nampak berseri-seri, Maka Rasulullah shalalahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai Aisyah, kapankah kamu melihatku mengatakan perkataan keji? Sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut akan kekejiannya." (Muttafaq alaih)

Atsar Abu Darda: Kami menunjukkan wajah senyum dan tertawa pada suatu kaum padahal hati kami melaknatnya.

Senyuman dan menunjukkan wajah ceria di hadapan orang kafir lagi zhalim terutama pada zaman kelemahan tidak bisa disebut berkhianat atau berwali pada kafir.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ قَالُوا وَكَيْفَ يُذِلُّ نَفْسَهُ قَالَ يَتَعَرَّضُ مِنْ الْبَلَاءِ لِمَا لَا يُطِيقُهُ

"Tidak patut bagi seorang mukmin merendahkan dirinya sendiri." Para sahabat bertanya, "Bagaimana seseorang merendahkan dirinya sendiri?" beliau menjawab: "Menerjunkan diri pada ujian yang dia tidak mampu menanggungnya." (At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Mencegah ujian yang tidak dimampui negara dan rakyat lebih prioritas dari mencegah ujian pada perseorangan. Jika tidak mampu direalisasikan kecuali dengan menampakkan wajah cerah dan taqiyah pada lisan maka tidak mengapa.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

الحرب خدعة

Perang adalah tipu daya.” (Muttafaq alaih)

Tidak boleh bagi muslim saat beramal dalam bidang politik untuk mengatakan kalimat yang muhkam jelas yang menunjukkan penentangannya pada aqidah Islam kecuali pada kondisi ikrah (terpaksa).

 

Menyikapi Para Politikus

Seseorang yang dikenal jujur, walanya pada Allah, rasul dan kaum mukminin serta telah mengalami ujian dan jihad fi sabilillah maka sikap kita harus husnuzhan saat dia melakukan perbuatan yang syubhat. Seperti dalam hadits mengenai Hatib bin Abi Baltaah:

لعل اللهَ اطلع إلى أهل بدرٍ فقال: اعملوا ما شئتُم، فقد وجبتْ لكم الجنةُ، أو فقد غفرتُ لكم.

Mudah-mudahan Allah telah mengetahui perihal mereka yang ikut perang Badr dan berfirman: ‘Berbuatlah apa yang kalian kehendaki. Sungguh Aku telah memastikan jannah bagi kalian atau firmannya: Aku telah ampuni segala dosa kalian.” (Al-Bukhari)

Sebaliknya jika seseorang memusuhi Allah, rasul dan mukminin, dia tidak jujur pada perwaliannya pada Islam dan muslimin serta makin bertambah sikap permusuhannya maka sikap kita semakin suuzhan padanya dan berhati-hati. Meskipun dia memiliki beberapa kebaikan atau jasa yang bagus.

 

Politik Wasilah Bukan Tujuan

Islam datang untuk menjaga lima tujuan: dien, jiwa, akal, kehormatan, nasab dan harta. Wajib dalam politik untuk mengutamakan tujuan-tujuan ini, komitmen dan menjaganya. Saat itu politik menjadi wasilah untuk mencapai tujuan.

Tetapi ketika kelima tujuan tersebut dijadikan wasilah maka politik menjadi tujuan. Bila demikian para politikus itu disebut pedagang yang memperdagangkan dien dan rakyat, tanah dan kehormatan demi kepentingan politik pribadinya.

Al-Ahkam As-Sulthaniyah (Hukum Tata Negara)

Adalah kumpulan hukum-hukum syari berkaitan dengan kepala negara, tugas-tugas dan tanggungjawab, hak-hak dan kewajiban, cara pemilihan dan pengangkatan, prosedur menurunkannya dan lainnya yang berkaitan dengan pemerintahan.

 

Daulah (Negara)

Sebuah daulah akan diakui jika memenuhi tiga unsur yaitu: Memiliki kedaulatan wilayah, rakyat dan pemerintahan.

 

Daulah Diniyah (Negara Agama)

Istilah daulah diniyah merupakan istilah yang samar karena bisa dipahami dengan dua makna:

  1. Yaitu negara yang dipimpin oleh seorang kepala negara yang dilabeli, diyakini memiliki titah khusus ilahiyah dan rububiyah di muka bumi. Pemimpin ini menobatkan dirinya mashum dan suci karena sebagai wakil Allah di dunia. Seperti pemerintahan gereja zaman dahulu, pemerintahan daulah Fathimiyah di Mesir yang bergelar Al-Hakim bi Amrillah dan seperti pemerintahan rafidhah Iran hari ini dengan presidennya yang disebut wilayatul faqih.

  2. Tuduhan kaum sekulerisme pada pemerintah syariat Islam dengan menyebutnya sebagai daulah diniyah yang ditolak mentah-mentah oleh mereka.

Maka perlu hati-hati menggunakan istilah daulah diniyah dan tidak diperbolehkan menggunakan istilah ini. Jika kita menolak daulah diniyah bisa disangka menolak daulah islamiyah. Tetapi jika kita menginginkan daulah diniyah bisa disangka daulah seperti pemerintahan gereja dsb.

 

Daulah Madaniyah

Istilah ini juga istilah kontemporer yang kabur, memiliki dua makan:

  1. Negara pemerintahan sipil yang mendepak peran militer (dwifungsi ABRI) dari pemerintahan.

  2. Negara sekuler.

 

Daulah Muasasah (Negara Lembaga)

Yaitu negara yang dikelola oleh bidang-bidang lembaga secara kolektif. Seperti militer, pendidikan, ekonomi, penerangan, hukum, kemasyarakatan dikelola oleh lembaga masing-masing dan saling menopang. Dalam sebuah negara, semakin banyak lembaga yang menopang pengelolaan negara maka negara tersebut akan semakin kuat dan kokoh. Makin dapat memberi manfaat maksimal bagi rakyat dan mencegah dari kezhaliman. Dengan sistem lembaga seperti ini, siapa saja memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin demi kemaslahatan rakyat dan negeri. Seperti sabda Nabi:

كلكم راعٍ، وكلكم مسؤول عن رعيته

Kalian semua adalah pemimpin dan masing-masing memiliki tanggungjawab pada yang dipimpinnya.” (Al-Bukhari)

Bentuk negara seperti ini tidak bertentangan dengan syariat bahkan merupakan bentuk negara yang baik.

Kebalikan dari bentuk negara daulah muasasah adalah negara rezim otoriter dan negara yang dikuasai oleh individu yang menghilangkan kesertaan masyakarat dalam pengelolaan negara.

 

Daulah Islamiyah (Negara Islam)

Yaitu negara yang seluruh pengelolaan kehidupan baik umum dan khusus, dalam maupun luar negeri, pendidikan, undang-undang dan aqidahnya berdasarkan Islam. Jika hanya penduduknya muslim tetapi pengelolaannya tidak berdasarkan pada Islam maka dia bukan negara Islam.

Negara yang melabeli dengan negara Islam, memiliki sifat, hukum dan perundang-undangan berdasarkan syariat Islam; dia daulah Islamiyah. Tetapi jika hanya penduduknya muslim tapi undang-undangnya bukan berdasarkan syariat Islam; hanya disebut negeri muslim.

 

Darul Kufri

Yaitu negara yang penduduknya bukan muslim dan undang-undangnya bukan Islam. Darul kufri tidak mesti menjadi darul harb karena sebab lain seperti menjadi darul ahdi (negara kafir terikat perjanjian), dzimah atau darul aman atau terikat perjanjian perdamaian dengan kaum muslimin di luar negara tersebut atau dengan sebagian kaum muslimin yang tinggal di dalamnya dengan perjanjian keamanan khusus dengan penduduk negara tersebut.

 

Darul Harbi

Yaitu darul kufri yang ketambahan sifat harbi dengan memerangi kaum muslimin dan negerinya. Suatu negara yang terhimpun di dalamnya sifat kufur dan memerangi Islam serta kaum muslimin.

Terkadang suatu negara menjadi darul harbi hanya pada sebagian kaum muslimin saja tidak seluruhnya. Yaitu ketika suatu negara darul kufri memiliki perjanjian damai dengan sebagian kaum muslimin atau negara tapi tidak dengan kaum muslimin lain atau negara lainnya. Maka pada saat itu dia menjadi darul ahdi dan aman serta terikat perjanjian dengan yang terikat janji dengannya dan menjadi darul harbi dengan yang tidak terikat perjanjian dengannya.

وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يُهَاجِرُواْ مَا لَكُم مِّن وَلاَيَتِهِم مِّن شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُواْ وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلاَّ عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Anfal: 72)

Ayat ini menunjukkan pensyariatan adanya dua kelompok muslimin: kelompok yang memerangi kafirin dan kelompok yang melakukan perjanjian damai. Seorang muslim wajib menolong muslim lainnya jika meminta pertolongan kecuali jika dia memiliki perjanjian dengan kafirin. Maka tidak boleh baginya melanggar perjanjian. Jika ingin menolong harus lebih dahulu memutuskan perjanjian damai dan aman.

قال ابن كثير في التفسير: يقول تعالى: وإن استنصروكم هؤلاء الأعراب الذين لم يهاجروا في قتال ديني، على عدو لهم فانصروهم، فإنه واجب عليكم نصرهم؛ لأنهم إخوانكم في الدين، إلا أن يستنصروكم على قوم من الكفار بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ أي: مهادنة إلى مدة، فلا تخفروا ذمتكم، ولا تنقضوا أيمانكم مع الذين عاهدتم. وهذا مروي عن ابن عباس رضي الله عنه ا- هـ.

Berkata Ibnu Katsir: Maksud dari firman Allah tersebut, jika mereka orang-orang arab yang belum berhijrah meminta pertolongan kepada kalian membantu berperang atas musuh mereka, maka tolonglah mereka. Karena wajib bagi kalian untuk menolong mereka, karena mereka ikhwan fi dien. Kecuali apabila kalian diminta tolong untuk membantu memerangi kaum kufar yang terikat perjanjian dengan kalian; yaitu gencatan senjata temporer, maka jangan kalian khianati perjanjian dan jangan kalian putus perjanjian kalian. Atsar ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu.

 

Darul Murakabah

Yaitu negara bukan darul harbi secara mutlak dan juga bukan pula darul Islam dan aman secara mutlak. Seperti negeri yang penduduknya muslim tetapi penguasanya kafir zhalim memerangi Allah, rasul-Nya dan kaum beriman. Maka saat itu melakukan interaksi sesuai porsinya. Penduduknya yang muslim disikapi sebagai kaum muslimin dengan hak-haknya, keamanan dan harta serta darahnya terjaga. Sedangkan penguasa disikapi sebagai ahlul harbi. Syeikh Ibnu Taimiyah menyebutnya Darul Maridin (nama sebuah negara masa lalu dengan kasus ini sebagai contoh)

 

Khilafah Islamiyah

Yaitu negara yang menyatukan seluruh bangsa kaum muslimin dengan beragam perbedaan suku, bahasa, wilayah dan negeri. Mereka memiliki hak-hak dan kewajiban yang sama dalam satu negara besar dipimpin oleh seorang imam berdasarkan Kitab Allah dan sunah nabi salallahu alaihi wassalam. Pemimpin ini diterima dan diridhai oleh seluruh umat Islam dan perwakilan-perwakilan umat dari ahlul hal wal aqdi di seluruh wilayah daulah Islamiyah.

Setelah berdirinya khilafah, tidak ada mengapa diberi nama Khilafah Islamiyah, Persatuan Bangsa-bangsa Islam atau penamaan lainnya yang diridhai oleh umat Islam. Karena yang terpenting adalah eksistensinya bukan hanya namanya saja.

Pendirian khilafah adalah tujuan yang agung setelah penerapan tauhid.


 

Khilafah Sykes-Picot

Perundingan Sykes-Picot memecah negeri-negeri arab dan negeri kaum muslimin menjadi berbagai macam negara dengan batasan wilayah masing-masing dan setiap negara dikelola sendiri-sendiri tanpa melibatkan negara kaum muslimin lainnya. Negara-negara ini tidak boleh turut campur tangan dengan negara kaum muslimin lainnya kecuali terdapat maslahat dan kepentingan nasional dalam negeri sendiri. Setiap negara melantangkan nasionalisme dan tidak mau peduli dengan madharat yang mengancam negara-negara lainnya.

Perjanjian yang melemahkan umat Islam ini telah mengikat bangsa-bangsa selama lebih dari satu abad. Lalu bagaimana solusi dari penyakit yang telah menjangkiti umat selama lebih dari 100 tahun ini yang masyarakat dan pemerintah telah sampai pada stadium kronis?

Mengobati penyakit Sykes-Picot tidak boleh diobati dengan cara salah, dengan penyakit sejenis atau bahkan lebih parah darinya misalnya dengan cara operasi pengeboman di sana sini. Meledakkan bom mobil dan membom tempat umum. Ketika pelakunya ditanya mereka menjawab: Operasi kami untuk menjawab perjanjian Sykes-Picot, kami menolak Sykes-Picot, kami ingin menegakkan khilafah!

Orang-orang bodoh ini, bahayanya lebih banyak dari manfaatnya. Dengan operasi mereka ini menambah ujian pada umat, keburukan dan menambah perpecahan.

 إنَّ الرِّفقَ لا يكونُ في شيءٍ إلَّا زانه، ولا يُنزعُ من شيءٍ إلَّا شانه" مسلم.

Sesungguhnya kelembutan itu tidak akan ada pada apapun kecuali akan memperindahnya. Dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya.” (Muslim)
 

ما كان الرِّفقُ في شيءٍ قطُّ إلا زانه، ولا كان الخَرَقُ في شيءٍ قطُّ إلا شانَه

Tidaklah kelembutan dalam segala sesuatu ia akan menghiasinya dan tidaklah kekasaran pada segala sesuatu hanya akan memperburuknya.” (Shahih At-Targhib: 2672)

Urusan yang berkaitan dengan umat secara luas dan besar wajib didasarkan dengan jalan kelembutan. Jika bisa diselesaikan dengan cara yang halus maka tidak boleh diselesaikan dengan cara yang lebih dari itu seperti cara kekasaran. 

Solusi menghancurkan perundingan Sykes-Pico sebagai berikut:

  1. Bekerja untuk menyadarkan umat soal kesepakatan ini dan dampaknya pada negeri dan bangsa.

  2. Kerjasama antar lembaga non pemerintahan, NGO, yayasan dengan lembaga sejenis di negara-negara muslim lainnya. Sehingga terjalin perhatian dan fokus ikatan bangsa-bangsa melalui lembaga non pemerintah. Mereka bersepakat untuk bekerja mana yang memungkinkan untuk merobohkan Sykes-Picot dan membiarkan mana yang tidak mungkin. Dengan usaha ini berarti ada upaya untuk membuat pemerintahan di negara masing-masing menjadi pemerintahan yang amanat dan memberi kebebasan rakyat untuk bergerak melalui yayasan dan lembaga non pemerintah yang resmi legal di dalam dan luar negeri.

  3. Setelah terjadi kerja sama antara lembaga dan yayasan dalam dan luar negeri, isu Sykes-Picot dapat diangkat untuk didiskusikan dan dicari solusinya. Karena itu setiap bangsa atau rakyat dalam sebuah negara fokus berpikir bagaimana menciptakan pemerintahan muslim yang rasyid dan amanat terlebih dahulu. Setelah itu bergerak dalam satu langkah bersama-sama rakyat seluruh dunia Islam untuk menghancurkan rintangan Sykes-Picot seperti yang telah dilakukan oleh rakyat Jerman Barat dan Jerman Timur menghancurkan sekatan tembok Berlin.

  4. Perhatian pada tingkat negara-negara muslim untuk menghancurkan Sykes-Picot merupakan langkah asas untuk kehancurannya atas izin Allah.

 

Khilafah Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir selalu berbicara tentang khilafah dan khalifah. Lebih dari 70 tahun sejak berdirinya organisasi ini tidak ada pekerjaan lain selain berbicara tentang khilafah dan khalifah. Namun dalam waktu yang sama, mereka meletakkan syarat-syarat bagi khalifah dan khilafah yang tidak pernah Allah syaratkan. Syarat-syarat batil yang ditawarkan tersebut membuat terwujudnya khilafah dan khalifah menjadi mustahil.

Sebab itu selama lebih 70 tahun mereka tidak pernah mampu mewujudkan khilafah. Menunggu khilafah seperti metode syiah dan rafidhah yang menunggu imam dalam alam ghaib lalu tiba-tiba turunlah khalifah dan berjihad bersamanya.

Karena itu mereka memiliki pendapat: Tidak ada jihad kecuali dengan khalifah. Siapa yang ingin berjihad sendirian untuk mempertahankan diri dipersilakan namun tidak boleh berkelompok karena jihad kelompok tidak diperbolehkan kecuali dengan khalifah dan setelah tegakkan khilafah. Sebab yang yang memiliki wewenang mengomando jihad hanya khalifah.

Hisbut Tahrir didirikan di Palestina dan sepanjang sejarah tidak pernah terdengar sekalipun mengirim pasukan untuk memerangi zionis yahudi yang menjajah bumi Palestina.

Mereka berpendapat: Tidak ada jalan untuk menegakkan khilafah dan khalifah kecuali dengan metode nusrah (meminta pertolongan). Thalabu nushrah kepada militer, tokoh yang mau menolong HT untuk mendirikan khilafah dan khalifah. Bagi mereka thalabu nushrah hukumnya wajib sedangkan menegakkan khilafah dengan selain metode ini berdosa.

Kesimpulan: Manhaj Khilafah menurut Hizbut Tahrir; Tidak ada jihad keculai dengan khalifah dan setelah beridirinya khilafah. Tidak ada khilafah dan khalifah kecuali dengan jalan nushrah. Hasilnya akhirnya, HT tidak berjihad membela umat yang tertindas dan tidak menegakkan khilafah maupun khalifah.

Imarah Islamiyah (Pemerintahan Islam)

Sinonim dari daulah islamiyah yang telah disebutkan sebelumnya. Namun Imarah Islamiyah memiliki makna lebih luas lagi yaitu suatu negara bagian dari khilafah islamiyah. Tidak disarankan penamaan imarah islamiyah sebelum tegakknya khilafah. Jadi jika suatu negara menerapkan syariat Islam sebelum adanya khilafah namanya daulah Islamiyah.

 

Wathan (Tanah Air)

Yaitu negeri asal seseorang. Tanah kelahiran, tumbuh berkembang, tempat ditemukannya sebab-sebab izah dan kemuliaan. Tanpa sebab tiga dibawah ini, seseorang harus mempertimbangkan untuk berpindah mencari tanah air lain:

  1. Terdapat jaminan beribadah dan berislam. Tujuan luasnya bumi adalah untuk mewujudkan keamanan dalam ibadah dan berdien. Jika seseorang merasa sempit pada diennya dan ibadahnya di suatu bumi atau negeri maka dia berhijrah ke negeri yang lain untuk menemukan keamanan dalam beribadah dan berdien.

  2. Mendapat keamanan. Keamanan pada dirinya, kehormatannya dan hartanya. Sebagaimana sahabat berhijrah ke Habasyah padahal saat itu habasyah masih darul kufri.

  3. Keluasan rizki dan kemuliaan hidup. Islam telah mensyariatkan membela tanah air kaum muslimin dan berperang fi sabilillah mempertahankannya, mengorbankan diri untuk membelanya. Tanah air adalah tempat dien, jiwa, kehormatan, keturunan dan harta. Jika tanah air dilecehkan maka terlecehkan pula tujuan tujuan agung sesuai dengan kadar terlecehkannya tanah air. Dari sini para ulama sepakat, wajibnya membela tanah air dan negeri kaum muslimin walaupaun hanya sejengkal tanah direbut musuh.

 

Hak Asasi Manusia

HAM merupakan istilah baru yang sangat populer, memiliki banyak definisi tergantung sudut pandang kepentingan. Ada yang mendefisnikan kezhaliman manusia, ada yang mendefisnikan sesuai dengan definisi PBB. Sedangkan definisi menurut kami adalah yang sesuai dengan Islam.

Menurut Islam, HAM adalah kesempurnaan, ihsan dan keadilan bagi manusia. Karena sumber pengaturan HAM Islam dari Allah yang Maha Pencipta, Maha Mengetahui dan Maha Terampil.

Sedangkan definisi HAM dari PBB justru banyak yang menelantarkan hak-hak manusia. Bahkan tidak mampu untuk memenuhi hak manusia yang paling minimal. Misalnya sikap mereka pada pembantaian ratusan hingga ribuan anak-anak, wanita dan orang tua warga sipil. Mereka membiarkan pelakunya tetapi melarang untuk melakukan perlawanan.

HAM menurut PBB adalah apa yang sesuai dengan kemaslahatan lima negara veto; Amerika, Inggris, Prancis, Rusia dan Cina. Andai seluruh dunia menuntut suatu hak dari HAM tetapi salah satu dari negara tersebut menolak maka tuntutan tersebut tidak dapat dipenuhi.

 

Dustur (Undang-undang)

Yaitu suatu perjanjian atau kesepakatan bersama mengatur hak hak dan kewajiban bagi pemerintah dan warga sebagai suatu ikatan antara keduanya. Kesepakatan ini mengikat semuanya.

Selama kesepakatan dan perjanjian tidak menyelisihi syariat Islam, wajib memenuhinya karena merupakan bagian dari perjanjian dan kesepakatan yang dinashkan syariat untuk memenuhinya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَوْفُواْ بِالْعُقُودِ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” (Al-Maidah: 1)

Dalam sirah, Rasulullah salallahu alaihi wassalam mengadakan perjanjian dan kesepakatan politik dengan penduduk Madinah berisi aturan hak-hak penduduk Madinah sebagai suatu yang agung.

Halfu Al-Muthayibin atau Al-Fudhul, suatu kesepakatan menyelesaikan kezhaliman yang dilakukan siapapun dan dipuji oleh Rasulullah salallahu alaihi wassalam.

المسلمون عند شروطهم

Seorang muslim terikat dengan syarat-syarat perjanjian mereka.” (Silsilah Ash-Shahihah: 2915)

Yaitu memenuhi dan iltizam dengan syarat selama tidak menyelisihi kitab Allah dan sunah rasulNya. Jika menyelisihi maka syarat tersebut batil dan tidak boleh memenuhinya.

فأيما شرط كان ليس في كتاب الله، فهو باطل، وإن كان مائة شرط، فقضاء الله أحق، وشرط الله أوثق

Syarat apa saja yang tidak sesuai dengan Kitab Allah, dia batil walaupun seratus syarat. Hukum Allah adalah haq dan syarat Allah lebih kuat.” (Hadits shahih)

Pemikiran bahwa umat atau negara memiliki dustur yang mengatur hubungan, hak-hak dan kewajiban antar umat Islam atau antar negara merupakan tindakan yang diperbolehkan selama maslahat manfaatnya ada dan selama tidak bertentangan dengan Kitabullah dan sunnah. Namun apabila bertentangan dia menjadi tertolak tidak ada mendengar dan taat serta tidak boleh berhukum dengannya.

Mengapa diperlukan dustur padahal Al-Quran dan sunah telah menerangkan segala sesuatu? Al-Quran dan sunah telah menerangkan segala sesuatu tapi bukan untuk setiap orang. Tidak setiap orang mampu memahami seluruh isinya. Dustur disusun untuk meringkas hasil kesimpulan (istimbath) hukum-hukum dari Al-Quran dan sunnah dalam sebuah buku yang susunannya terstuktur dan ringkas untuk mempermudah hakim dan terdakwa saat dibutuhkan dan menjadi kesepakatan bagi seluruh masyarakat. Dengan adanya dustur terdapat maslahat yang jelas.

Dustur dapat berlaku dengan dua syarat:

  1. Kepala negara seorang muslim suni yang adil.

  2. Islam adalah dien daulah. Undang-undang apapun yang bertentang dengan asas Islam dia tertolak.


 

Syariat Islam

Syariat adalah at-thariqah (jalan, sunah, madzhab) dan manhaj. Secara istilah: Seluruh syariat-syariat dan hukum-hukum ilmiah seperti aqidah dan praktek seperti hukum-hukum dan syariat berkaitan dengan akhlak manusia: ibadah, muamalat, hudud, hak-hak, adab, politik dsb umum dan khusus mencakup seluruh kehidupan yang telah ditetapkan dalam kitab dan sunah. Mencakup seluruh yang diperintahkan Allah dan rasulnya baik fardhu maupun nafilah serta seluruh larangan Allah dan rasul-Nya.

فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً

Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”. (Al-Maidah: 48)

Ibnu Abbas, Al-Hasan dan Mujahid menafsirkan شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً: jalan dan sunnah.

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاء الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah: 18)

Qatadah menafsirkan: Syariat perintah dan larangan, hudud dan kewajiban.

Membatasi syariat hanya pada hudud atau tuntutan untuk menerapkan sebagian hudud bagi pelaku kriminal adalah pemahaman yang salah, sebab hudud hanyalah bagian dari syariat.

Terdapat tiga macam syariat:

  1. Syariat Al-Munazal. Yaitu syariat yang tsabit yang diturunkan dan ditetapkan hukumnya dalam kitab serta sunnah shahihah.

  2. Syariat Al-Muawwal. Yaitu hasil dari ijtihad para mujtahid pada persoalan yang diperbolehkan ijtihad didalamnya. Definsi lain: Pemahaman ulama pada syariat al-munazal. Syariat ini dipertimbangkan: jika sesuai dengan syariat al-munazal maka diamalkan namun jika menyelisihi ditolak.

  3. Syariat Al-Mubadal. Yaitu produk dari ahlul ahwa, bidah dan kesesatan. Syariat ini batil seluruhnya dan tertolak.

 

Siapa Bertanggungjawab untuk Menerapkan Syariat Islam?

Tanggungjawab penerapan syarita Islam bukan hanya tugas pemerintah. Tetapi setiap orang memiliki tugas dan tanggungjawab menerapkan syariat sesuai dengan peran, tempat dan kemampuan.

Orang tua memiliki tugas dan tanggungjawab menerapkan syariat pada diri sendiri, rumahnya, anggota keluarganya semampunya. Istri memiliki tanggungjawab menerapkan syariat Islam pada suaminya dan anak-anaknya. Pedagang, guru, insinyur, petani pembantu, pegawai, mujahid dan lain-lain memiliki tanggungjawab masing-masing untuk menerapkan syariat Islam dalam ruang lingkupnya.

Syariat Islam meliputi pribadi, keluarga, masyarakat, negara dan politik, kehakiman dan lain-lain. Siapa saja yang tidak menerapkan syariat pada yang dimampuinya maka dia tidak jujur untuk menerapkan syariat Islam di tataran negara.

Maka benarlah yang mengatakan:

أقيموا دولة الإسلام في نفوسكم، تَقُمْ في أرضِكم

Tegakkan daulah Islam pada diri kalian maka akan tegak di tanah kalian.

 

Larangan Penegakkan Hudud di Darul Harbi

Rasulullah salallahu alaihi wassalam melarang penegakkan hukum hudud di dua tempat: masjid dan medan perang sebab dikhwatirkan akan terjadi fitnah pada pelaku.

لا تُقام الحدود في المساجد

Jangan tegakkan hudud di masjid.” (Shahih Jami: 3736)

لا تُقطَع الأيدي في الغزو

Jangan laksanakan hukum potong tangan di medan perang.” (hadits)

Daftar Isi Tata Negara dan Politik Islam

Artikel Terkait