menjadi pribadi tangguh

 

Bab 2 Karakteristik Syariat Islam

Syariat Islam memiliki karakteristik dan sifat agung yang tidak ditemukan pada syariat-syariat lainnya di antaranya:

  1. Sumbernya Rabaniyah.

  2. Lengkap.

  3. Mencakup.

  4. Konsisten.

  5. Realitis, sesuai akal dan akal membenarkannya.

  6. Mudah dan memudahkan.

  7. Pertengahan (Al-Washithiyah).

  8. Terjaga.

 

Persoalan dalam Tahapan-tahapan Penerapan Syariat

Terdapat tiga kelompok manusia dalam usaha penerapan syariat Islam.

  1. Berlebih-lebihan dan ghuluw (ekstrim). Mereka ingin menerapkan syariat Islam seluruhnya dalam sehari tanpa mengusahakan sebab, kemampuan, serta melaksanakan mana yang mungkin dan mana yang tidak mungkin.

  2. Peremehan menerapkan syariat dengan tidak mengerjakan syariat mana yang mungkin dan mampu bisa dilaksanakan.

  3. Pertengahan, dengan menerapkan syariat mana yang mungkin bisa diterapkan dan sesuai kemampuan. Mana syariat yang bisa dilakukan segera diterapkan sedangkan yang belum mampu atau terdapat mafsadah yang rajih dan zhahir maka melakukan kerja keras dan mempersiapkan sesuai kemampuan untuk menerapkannya.

Seluruh hukum-hukum syariat dikerjakan sesuai kemampuan. Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya.

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُم

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu." (At-Thaghabun: 16)

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

Sabda Rasulullah salallahu alaihi wassalam:

وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم" متفق عليه.

Dan apa yang aku perintahkan pada kalian kerjakanlah semampu kalian.” (Muttafaq alaih)

Kaidah fiqih

الميسور لا يسقط بالمعسور

“Sesuatu yang mudah tidak boleh digugurkan dengan sesuatu yang sulit."

قال الإمام الشافعي رحمه الله: فالله تعالى يعلم أن هذا مستطيع يفعل ما استطاعه، فيثيبه، وهذا مستطيع لا يفعل ما استطاعه، فيعذبه، فإنما يعذبه لأنه لا يفعل مع القدرة، وقد علم الله ذلك منه، ومن لا يستطيع لا يأمره ولا يعذبه على ما لم يستطيعه

Imam Asy-Syafii berkata: Allah Maha Tau orang yang memiliki kemampuan beramal sesuai dengan kesanggupannya, lalu Dia memberi pahala. Allah Maha tau orang yang memiliki kemampuan tetapi tidak beramal sesuai dengan kesanggupannya, lalu Dia mengazabnya. Dia mengazabnya karena tidak beramal padahal dia mampu. Padahal Allah telah memberitahunya, bahwa siapa yang tidak memiliki kemampuan Allah tidak memerintahkan mengamalkannya dan Allah tidak mengazabnya atas ketidakmampuannya.

وقال العز بن عبد السلام في قواعد الأحكام 2/5: إن من كلف بشيءٍ من الطاعات فقدر على بعضه وعجز عن بعضه، فإنه يأتي بما قدر عليه، ويسقط عنه ما عجز عنه ا- هـ.

Al-Izz bin Abdissalam berkata dalam Qawaidul Ahkam 2/5: Sesungguhnya orang yang diberi pembebanan melaksanakan ketaatan lalu dia mampu mengerjakan sebagian dan lemah pada sebagian lainnya, dia hanya diberi pembebanan yang mampu dia lakukan dan gugur atas pembebanan yang dia tidak mampu melaksanakan.

Siapa saja yang meremehkan penerapan hukum-hukum syariat Islam yang dia mampu melaksanakannya maka dia berdosa. Siapa yang tidak melaksanakannya karena hasil ketiadaan kemampuan dengan tetap berusaha bersungguh-sungguh untuk mencapai kemampuan melaksanakannya; tidak berdosa jika dia bersungguh-sungguh, bertakwa dan ikhlas menasihati umat dan diennya.

Fikih ini sangat kita perlukan dalam usaha restorasi umat dan penegakkan daulah Islamiyah ketika bersikap bersama masyarakat. Membimbing masyarakat dengan kasih sayang, hikmah dengan segala cara yang mungkin. Siapa saja yang tergesa-gesa sebelum siap dia hanya akan merusaknya dan mendapat hukuman dengan diharamkan memperoleh hasilnya. Terkhusus pada fase pasca revolusi dunia arab Islam modern. Karena rakyat baru saja lepas dari cekikan di bawah hukum thaghut yang menghukumi dan memimpin mereka dengan kakafiran, pembodohan, tekanan, penghinaan, pemaksaan, teror dan pemiskinan.

Karena itu setelah rakyat mendapatkan kebebasan harus melalui fase terapi dengan taklim dan penguatan mental sebagaimana terapi pasca orang yang baru sembuh dari sakit.

حَدِّثُوا الناسَ بما يَعْرِفُونَ؛ أَتُرِيدُونَ أن يُكَذَّبَ اللهُ ورسولُه

Atsar Ali bin Abi Thalib: “Berbicaralah dengan manusia sesuai pengetahuannya. Apakah kalian ingin berdusta atas nama Allah dan rasul-Nya?”

Syariat tidak boleh dibatasi dengan pelaksanaan hudud syari yang dilaksanakan oleh penguasa saja, tetapi mencakup seluruh hukum-hukum dan materi Islam, umum dan khusus baik yang zhahir maupun batin. Syariat mencakup seluruh cabang-cabang iman yang tertera dalam hadits shahih:

الإيمان بضع وسبعون شعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان

Iman tujuh puluh cabang. Cabang tertinggi ucapan La ilaha ilallah dan paling rendah menyingkirkan rintangan dari jalan. Dan malu bagian dari iman.”

Seluruh cabang ini ini termasuk membuang duri dari jalan adalah syariat dan mengamalkannya termasuk mengamalkan syariat. Cabang iman ada yang tugas penguasa seperti pelaksanaan qishosh dan hudud dan ada yang dilaksanakan personal serta jamaah dengan ruang lingkup pelaksanaan di rumah, pasar dan berbagai muamalah. Tidak boleh meremehkan syariat yang bisa dikerjakan dan mampu dilaksanakan dengan alasan penguasa atau pemerintah telah membatasi syariat padahal mampu dilaksanakan. Sesuatu yang mudah tidak boleh digugurkan dengan sesuatu yang sulit

Persoalan: Ada yang mengkampanyekan syariat dan berperang untuk menegakkan syariat hanya sebagai alat propaganda saja. Tetapi dalam adab harian, akhlak, kehidupan rumah tangga, jual beli, berlembaga dan pergaulan sosial serta sikap dalam kondisi perdamaian dan peperangan, cinta dan benci, ridha dan marah, wala dan bara, kesepakatan dan perselisihan justru malah seringnya tidak berdasar pada hukum-hukum syariat. Padahal dia mampu melaksanakannya jika mau. Mereka mengkhayal menghukumi manusia dengan syariat, seperti firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ .كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash-Shaf: 2-3)

Fikih Mungkin dan Fikih Waqi (Realitas)

Ketika beramal yang bersinggungan dengan kepentingan umum dan orang banyak harus memperhatikan dua perkara penting:

  1. Fikih mungkin dan kemampuan melaksanakannya.

  2. Fikih waqi.

 

Fikih Mungkin dan Kemampuan Melaksanakannya.

Kamu harus memahami kemampuan dan batasan kesanggupanmu dengan baik. Janganlah kamu membebani dirimu di luar kemampuanmu yang kamu tidak mampu menanggungnya.

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُم

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu." (At-Thaghabun: 16)

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

Sabda Rasulullah salallahu alaihi wassalam:

وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم

Kerjakan perintahku sesuai dengan kemampuan kalian.”

 

Fikih Waqi

Kamu harus memahami realitas sekitar kamu, realitas negara, regional lalu melihat kepada fikih mungkin dan kemampuan melaksanakannya. Mana yang mungkin dilaksanakan maka kerjakan sedang mana yang tidak mungkin dilaksanakan tidak dikerjakan.

Tuntutan padamu secara syari dan akal yaitu melaksanakan yang mungkin sesuai dengan fikih mungkin dan kemampuan melaksanakannya serta fikih waqi. Sedangkan mana yang lemah untuk dilaksanakan maka kamu tidak diminta pertanggungjawaban secara syari dan akal.

Terus beramal untuk mencapai kemampuan. Ketika sudah mampu dalam suatu tahapan melaksanakan syariat maka wajib ain melaksanakannya. Dan tidak ada kewajiban ain ketika belum mampu pada zaman kelemahan. Pada fase kuat dan tamkin ada hukum-hukum fikih sendiri dan pada fase lemah terdapat hukum-hukum fikih yang berbeda pula. Tidak boleh mencampur aduk keduanya.

Persoalan besar adalah saat seseorang berjalan melewati ladang ranjau tapi dia berkhayal berjalan melewati taman bunga, alangkah cepat kehancurannya.

Akibat tidak memperhatikan fikih mungkin dan fikih waqi:

  1. Beban berat, kehancuran dan kegagalan.

  2. Pertentangan antara fakta dengan syiar. Mengakibatkan kebobrokan dalam moril, diri, kehidupan, pemikiran anggota dan pengikut.

  3. Kehilangan kepercayaan masyarakat. Karena hanya propaganda saja tidak ada realitasnya. Menyuarakan syiar yang mampu dilaksanakan dalam kehidupanmu, kehidupan masyarakat dan jujur melaksanakannya lebih baik dari menyuarakan seribu syiar tapi kamu tidak mampu menerapkannya sedikitpun, tidak mampu dilaksanakan dalam kehidupan dan realitas sosial.

  4. Paling berbahaya, menampakkan bahwa Islam bukan dien realitas hanya gambaran-gambaran khayali propaganda.

 

Ukuran Istitha’ah

Dua sikap manusia tentang kemampuan:

  1. Berlebihan, bersikap keras dan memforsir diri. Membebani diri sendiri dengan sesuatu yang dia tidak mampui dan memasuki ujian yang dia tidak mampu menanggungnya. Dia ingin melaksanakan urusan dalam sekali paket dan dalam satu masa.

  2. Peremehan, sehingga dia tidak melaksanakan yang dia mampui dengan alasan fikih tadaruj (fkih tahapan), istitha’ah (kemampuan) dan fikih kelemahan. Padahal hakikatnya dia mampu melaksanakan jika memiliki kemauan.

  3. Pertengahan. Melaksanakan mana yang mampu dilaksanakan dan meninggalkan yang tidak mampu dilaksanakan serta secara jujur dan terus bersungguh-sungguh untuk mencapai kemampuan melaksanakannya.

 

Bagaimana Cara Mengetahui Ukuran Istitha’ah:

Pertama

Dengan cara meneliti secara cermat dan shahih pada persoalan kesanggupan dan kemampuan, tuntutan kewajiban yang akan dilaksanakan dan melihat apakah ditemukan kesesuaian antara keduanya. Atau apakah ditemukan tuntutan kewajiban tersebut - baik perintah maupun larangan- lebih berat dari kemampuan seseorang.

Kemudian jika dipandang melaksanakannya, apakah mampu dilaksanakan atau tidak. Andai dilaksanakan apakah ditemukan kesulitan yang berat dan beban yang tidak mampu ditanggung atau kerusakan yang jelas.

Kedua

Kewajiban dan kondisi yang dihadapi oleh manusia terbagi menjadi dua:

  1. Muhkam sharih (jelas). Tidak perlu ilmu yang mendalam atau konsultasi pada ulama. Misalnya Seseorang mampu mengangkat beban 20 kilo tapi saat diberi beban 10 kilo dia berkata tidak mampu. Maka dia dusta. Seseorang mampu makan dengan tangan kanan tapi dia mengatakan tidak mampu, maka dia dusta.

  2. Mutasyabih (samar). Kemampuan melaksanakannya ini tersamar tidak jelas antara mampu dan tidak mampu. Perlu penelitian lebih mendalam dan dikonsultasikan kepada para ahli serta ulama. Perselisihan antara ahli ilmu dalam memandang hal yang mutasyabih yang mengandung dua perkara: antara mampu dan tidak mampu, tidak boleh merusak kasih sayang antara ikhwan, tidak boleh diterapkan wala dan baro atau jarh dan tadil. Perselisihan dalam masalah ini masuk dalam katagori ijtihad. Kesalahannya diberi satu pahala dan jika benar diberi dua pahala.

Ketiga

Kelemahan ada dua

  1. Kelemahan permanen seperti kebutaan atau cacat.

  2. Kelemahan temporer. Bisa diusahakan untuk disembuhkan. Misal jika tidak bisa melaksanakan jihad dalam suatu fase karena lemah dan ketidakmampuan maka jihad pada saat itu bergeser pada amal untuk menghilangkan kelemahan dengan melakukan idad wajib dan yang dituntut sesuai dengan kemampuan. Hal yang sama juga diterapkan pada hukum haji serta lainnya.

Perundang-undangan Berbasis Syariat

Menjadikan hukum syariat dalam sebuah kitab undang-undang dengan pasal-pasal terstruktur memudahkan bagi hakim untuk memutuskan dalam persidangan. Undang-undang ini bukan bidah bahkan merupakan maslahat mursalah dan istihsan yang sesuai dengan akal dan syariat. Bagian dari sunah yang terpuji.

من سنَّ سنةً حسنة فعُمِلَ بها بعده، كان له أجرُه، ومثلُ أجورِهم من غير أن ينقصَ من أجورهم شيئاً

Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka.” (Shahih Sunan Ibnu Majah)

Undang-undang berfungsi juga untuk menyamakan sebuah keputusan, sehingga sebuah negeri para hakim tidak memiliki keputusan yang berbeda-beda saat memutuskan hukum.

لا يقضينّ أحد في أمرٍ بقضائين

Seorang hakim tidak boleh memutus dua vonis dalam satu perkara.” (Ath-Thabrani)

Daftar Isi Tata Negara dan Politik Islam

Artikel Terkait