Telaah Kitab Manhaj Al Ghuraba Fi Muwajahatil Jahiliyah

menjadi pribadi tangguh

 

Penulis

Tidak sedikit karya para ulama yang mengupas mengenai siapa ghuraba serta sifat sifatnya. Kitab paling terkenal dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karya Syeikh Salman Al-Audah, yang hari ini dalam ujian keterasingan dalam penjara rezim Saudi. Semoga Allah mentsabatkan syeikh.

Manhaj Al-Ghuraba Fi Muwajahatil Jahiliyah diterbitkan tahun 2009, masuk menjadi referensi paling kontemporer dalam tema. Juga menjadi tahun-tahun paling sulit bagi penulis, Syeikh Abdul Majid Abdul Maajid yang memiliki nama asli Rafi Musthafa Sayid Ahmad Sulaiman. Ahli ilmu yang melewati umurnya dengan debu-debu jihad. Perjalanan perjuangan penuh kesabaran beliau hadapi dengan tabah. Perjalanan keterasingan beliau terhenti dua tahun kemudian dengan terbunuh menjadi syuhada, demikian kita mengira. Beliau syahid bersama dua putranya Al-Miqdad dan Khalid rahimahumallah.

Saat membacanya, hati kita bergetar. Tulisan ini hidup meskipun penulisnya telah mati. Hidup dengan darah dan konsistensi ucapannya seperti kata Syeikh Abdullah Azzam rahimahullah:

Sesungguhnya kata-kata kita akan tetap mati, kering tidak bergerak dan tetap diam sampai kita mati karena kata-kata kita. Saat itulah kata-kata kita bangkit hidup di antara manusia.”

Melalui tulisannya ini, Syeikh rahimahullah sungguh-sungguh memahami ujian dari Allah yang sedang dialami merembet pada keluarganya, istri serta anak-anaknya. Dari ujian ketakutan ancaman musuh, kelaparan, kesempitan ekonomi, menjadi DPO pemerintah, terpenjara, keterasingan di hadapan masyarakat bahkan terbunuh.

Ujian ini harus siap dialami oleh para ghuraba, karena memang demikian sudah jalannya. Dari sini saja kita paham, menjadi ghuraba tidaklah mudah. Jadi jangan gegabah menggunakan slogan ghuraba karena konsekuensinya berat. Jangan bangga karena bisa jadi kita tidak tahan.

Hanya 75 halaman, kitab ini begitu ringkas dan terstruktur dengan baik. Dengan mudah kita bisa memahami bagaimana manhaj ghuraba ketika berhadapan dengan kejahiliyahan. Sekarang ini saat jamak orang orang mengaku ghuraba, malahan masuk ke dalam lingkaran kejahiliyahan, kecuali yang Allah rahmati. Dan dengan tegas beliau rahimahullah menyebut sistem tata negara hari ini merupakan bentuk jahiliyah modern.

Al-Quran menyebut empat asas jahiliyah, salah satunya hukum jahiliyah. Allah berfirman:

 

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

 

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50)

Hukum jahiliyah yaitu penerapan perundang-undang buatan manusia yang bertentangan dengan syariat Islam baik dalam ushul maupun cabang. Hukum ini dipaksakan pada masyarakat kita. Wujud hukum jahiliyah terbesar sekarang; sistem demokrasi.

Mengutip perkataan Syeikh Ahmad Syakir rahimahullah, ulama hadits awal abad 20 dari Mesir yang paling berpengaruh di dunia, hakikat undang-undang buatan ini adalah sebuah dien yang menggeser dien Islam yang haq. Para penjajah Barat yang memprakarsai undang-undang ini telah menjadikannya sebagai dien bagi kaum muslimin.

"Sesungguhnya undang-undang yang diberlakukan atas kaum muslimin oleh musuh-musuh Islam para kolonial, sejatinya merupakan dien lain yang diperuntukkan bagi kaum muslimin menggantikan dien mereka yang suci. Sebabnya mereka mewajibkan kaum muslimin untuk menaatinya, mengajak untuk mencintainya, menyucikannya dan menanamkan nasionalisme.”

Meskipun terdapat pasal-pasal yang bersesuaian dengan syariat, tetap dianggap batil. Karena sebenarnya istilah bersesuaian dengan syariat yaitu bila sumbernya dari syariat. Namun bila hanya hukum turunan dari undang-undang jahiliyah, walau sesuai dengan syariat dianggap batil dan keluar dari syariat.

Syeikh Ahmad Syakir rahimahullah berkata, “Dien baru ini menjadi kaidah dasar hukum kaum muslimin di kebanyakan negeri Islam lalu diterapkan. Baik itu sebagian cocok dengan syariat Islam dan sebagian lainnya bertentangan, maka semuanya batil dan keluar dari syariat.”

Orang-orang ghuraba, manhajnya menjauhi demokrasi, mencampakkannya dan memperingati masyarakat darinya. Beliau berkata pada halaman akhir:

Janganlah kalian menjual perjuangan dengan apa yang disebut perjuangan jalan damai untuk merebut kekuasaan melalui demokrasi dan Pemilu. Dien kita mengatur, meraih tujuan tidak dibenarkan dengan segala cara tetapi wajib mecapai tujuan dengan wasilah yang syari.”

Risiko dari dakwah ini yaitu ujian penolakan masyarakat, sebab dakwah yang benar itu pasti memiliki risiko seperti yang terjadi pada pengikut Nabi Luth alaihissalam.

 

وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَن قَالُوا أَخْرِجُوهُم مِّن قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

 

Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ‘Usir lah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang menyucikan diri.’” (Al-Araf: 82)

Persis seperti ujian yang menimpa ustadz Abu Bakar Baasyir, semoga Allah segera membebaskannya. Tetap di penjara karena beliau ingin membersihkan dirinya dari noda hukum jahiliyah. Banyak sekali orang-orang zalim yang mencaci dan mencela beliau karena sikap ini, ust Abu tidak konfrontasi dengan mereka, tapi hanya karena sikap beliau yang tidak mau tunduk pada aturan-aturan hukum jahiliyah sebagai kompensasi kebebasannya.

Hari-hari ini masa jelang pemilihan Presiden, sebagian ikhwan dan akhwat yang ingin membersihkan dirinya dari terlibat pesta demokrasi justru malah dibully. Dianggapnya aneh bagi aktivis Islam yang berpendapat tidak memanfaatkan hak pilihnya menghadapi rezim yang disebut “pro penista agama”. Padahal demokrasi itu sendiri sumber sistem yang menistakan agama. Sebagian mungkin berpendapat hukumnya wajib mendukung Letjen. Prabowo hadahullah. Entah dengan dalih maslahat, taqlilu madharat (meminimalisir mudarat) dan lain sebagainya.

Kita bisa menyaksikan, ikhwan berjenggot dan akhwat bercadar tanpa malu memamerkan simbol dukungan pada salah satu kandidat. Di foto-foto yang di unggah media sosial dalam berbagai macam acara dari pengajian sampai walimah. Seolah-olah demokrasi menjadi satu-satunya solusi dari kezaliman rezim.

Seluruh fenomena tersebut membuat mereka yang ingin membersihkan dirinya dari hukum jahiliyah termarjinalkan. Ajaib ada aktivis tidak mau mendukung calon yang didukung para ulama. Inilah salah satu ciri ghuraba, terasing.

Buku ini obat dan hiburan bagi mereka yang ingin bersih, ingin membersihkan dirinya, kembali pada Islam. La tahzan, kendalikan hati untuk tidak hasad pada ikhwah, wala nuzaky alallahi ahad. Bukan adab Islam saat kita berselisih kemudian meng screenshot foto-foto yang kita temui lalu menyebarkannya di grup. Maka timbullah hasad yang merusak hati dan melencengkan dari keikhlasan peribadatan pada Allah.

Kerusakan itu timbulnya dari hasad, kedengkian yang memancing pada tingkatan selanjutnya permusuhan dan bentrokan. Syeikh rahimahullah memperingatkan dengan perkataanya:

“Sikapi segala sesuatu sesuai dengan haknya secara seimbang agar tidak terjadi bentrokan akibat salah menimbang.”

Perselisihan itu timbul dari hasad yang terletak dalam hati. Karena masalah ikhlas. Pengikut ghuraba harus selalu menghadirkan keihlasan untuk memutus tali setan. Lalu dalam halaman lain beliau mengatakan:

Janganlah kalian tertipu dengan diri kalian sendiri dengan merasa memiliki keutamaan dari orang lain meskipun kedudukan kalian setinggi bintang. Sebab segala keutamaan milik Allah semata, Allah berfirman:

 

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

 

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (An-Najm: 32)

Ghuraba memang secara kuantitas sedikit, tapi mereka memiliki prinsip bukan ikut-ikutan. Mereka belajar, orang-orang cerdas dan tidak serta merta mengikut fatwa-fatwa kelompok dengan adab yang mulia.

 

بَدَأَ الإِسْلامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ " ، قِيلَ : وَمَا الْغُرَبَاءُ ؟ قَالَ : " النُّزَّاعُ مِنَ الْقَبَائِلِ "

 

Islam datang dalam keadaan yang gharib, akan kembali pula dalam keadaan gharib. Sungguh beruntungnlah orang yang ghuraba. Sahabat bertanya, “Apa itu ghuraba? Beliau menjawab: Terasing dari masyarakat.(HR. Ahmad)

Gharib yaitu sedikit jumlahnya. Sedikitnya pengikut bukan berarti pertanda salah jalan. Justru malahan banyak dalil yang menunjukkan, sedikitnya jumlah dengan ujian yang menimpa pertanda kebenaran.

 

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ "

 

Sesungguhnya besarnya pahala bersama dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum Dia menguji mereka. Siapa yang ridha maka Dia juga ridha tapi siapa yang membenci maka Dia juga murka.” (At-Timirdzi)

Allah berfirman mengenai orang-orang yang menganggap gampang masuk janah:

 

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ

 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk janah, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata lah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’” (Al-Baqarah: 214)

Ustad Sayyid Qutb rahimahullah menjelaskan tatkala menafsirkan firman Allah:

 

مَّا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ

 

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia memisahkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin).” (Ali Imran: 179)

Beliau berkata: “Dijelaskan dalam ayat ini, ujian merupakan nikmat Allah. Tidak menimpanya kecuali mereka yang Allah kehendaki kebaikan. Bila wali-wali Allah mendapat ujian itu dimaksudkan untuk kebaikan yang Allah inginkan. Di sana ada hikmah yang tidak tampak dan manajerial kelembutan Allah serta keutamaan bagi wali-wali Allah dan kaum mukminin.”

Jika bukan demokrasi, lalu apa jalan perjuangan kelompok ghuraba ini? Beliau rahimahullah tegaskan pada halaman 52, jihad dan menempuh ujian merupakan satu-satunya jalan perjuangan. Alasannya karena jihad dan ujian sunah para Nabi dan para pengikutnya.

Ibnu Hisyam dalam sirahnya mengisahkan: Ketika para pembesar Qurays berkumpul menemui Nabi salallahu alaihi wassalam, mereka berkata, “Kami demi Allah tidak mengetahui ada seorang arab yang lebih merusak dari anda. Anda mencela nenek moyang, dien, ilah-ilah, menghancurkan masa depan dan memecah-belah persatuan. Semua keburukan yang ada telah anda timpakan di antara kita. Bila anda datang untuk mencari harta kami akan kumpulkan seluruh harta kami untuk anda sampai anda menjadi orang terkaya di antara kami. Jika anda mencari kemuliaan maka kami muliakan anda. Jika anda meminta kerajaan kami berikan anda kerajaan. Jika untuk merubah pemikiranmu ini kami harus menyerahkan sejumlah harta kami akan berikan sebagai kompensasi dan perdamaian agar kami bisa memaafkan anda.” Maka Rasulullah salallahu alaihi wassalam bersabda: “Apa-apaan yang kalian katakan, aku datang bukan untuk meminta harta kalian, ketokohan, dan kerajaan kalian tetapi Allah mengutusku kepada kalian sebagai rasul dan Dia menurunkan padaku Kitab. Dia memerintahkanku mengabarkan kabar gembira dan peringatan. Maka aku sampaikan risalah Rabbku dan menasihati kalian. Bila kalian menerima menjadi kebahagiaan kalian di dunia dan di akhirat, tetapi jika kalian menolaknya aku bersabar pada perintah Allah sampai Allah memutuskan antara diriku dan kalian.”

Kisah dialog antara Rasulullah salallahu alaihi wassalam dengan para pembesar Qurays tersebut terjadi saat Islam masih lemah di Mekah. Tawaran kekuasaan yang diajukan oleh Qurays disodorkan ketika dakwah membutuhkan pelindung dan penopang untuk menyebarkannya. Dari kisah ini Syeikh rahimahullah menemukan beberapa poin penting jalan perjuangan ghuraba:

  1. Tidak berbelok dari prinsip dengan mempertaruhkan aqidah. Dalam pertemuan dengan para pembesar Qurays tersebut, Rasulullah salallahu alaihi wassalam tidak menerima sedikipun tawaran mereka meskipun dengan pertimbangan kemaslahatan. Justru beliau menolaknya dengan tegas.

  2. Menjelaskan al-haq harus disertai pula penjelasan kebatilan. Manhaj dakwah seorang dai ilallah yaitu: Menjelaskan al-haq dan juga menjelaskan kebatilan. Beliau rahimahullah mengkritisi para dai yang hanya mau menjelaskan al-haq saja tapi tidak menerangkan apa itu jalan kebatilan demi keamanan dirinya sendiri.

    Beliau berkata: “Kita menemukan sebagian mereka banyak bicara tentang peribadatan pada Allah ta’ala tetapi tidak bicara mengenai peribadatan pada selain Allah yang batil. Jika mereka berbicara tentang kebatilan peribadatan pada orang mati, pohon dan batu mereka tidak bicara tentang peribadatan pada orang hidup yang menjadikan diri mereka sendiri sebagai tandingan rububiyah, uluhiyah dan hukum Allah. Jika mereka bicara tentang iman mereka tidak bicara tentang kufur pada thaghut.”

  3. Islam tidak membenarkan segala cara untuk mencapai tujuan. Tujuan Islam itu mulia karenanya tidak diperbolehkan mencapai tujuan tersebut kecuali dengan cara yang mulia pula, cara yang sesuai dengan syariat.

    Beliau berkata: “Kita tidak beribadah pada Allah dengan cara bermaksiat pada Nya. Nabi salallahu alaihi wassalam tidak setuju tawaran kafir Qurays menyerahkan kekuasaan pada beliau. Saat itu Qurays mengatakan, ‘Jika anda menginginkan kerajaan kami berikan anda kerajaan.’ Beliau menolaknya padahal dakwah masih lemah dan permulaan. Andai seseorang dari kita menempati posisi seperti Rasulullah salallahu alaihi wassalam tentu akan mengatakan, sesungguhnya ini kesempatan untuk mencapai kekuasaan, atau ini adalah jalan yang mudah untuk memenangkan dakwah dari pada perang dan darah seperti mereka yang memilih demokrasi sebagai jalan atau menjadi kesempatan untuk duduk bersama mereka melakukan negosiasi yang disepakati kedua pihak.”

Jalan negosiasi dengan taruhan aqidah bukan jalan yang ditentukan Allah untuk menegakkan dien dan menyebarkan dakwah. Selain itu manhaj tersebut menjadi celah melemahkan aqidah kaum mukminin sehingga kebencian mereka pada kafirin melemah, talbis (mencampur aduk) al-haq dengan kebatilan. Padahal al-haq adalah prinsip yang tidak bisa dipertaruhkan. Tidak ada jalan lain selain bersabar dan merintis jalan jihad.

Tentu saja memilih jalan konfrontasi melawan sistem demokrasi pilihan mendaki tebing terjal. Hal ini disadari oleh beliau rahimahullah dengan memberikan arahan tarbiyah masyarakat agar siap menghadapi ujian-ujian berat tersebut. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menyiapkan generasi ghuraba. Dimulai dari keluarga, sahabat, tetangga dan komponen masyarakat lebih luas.

Ustadz Sayid Qutub rahimahullah mengatakan: “Harus ada tarbiyah diri menghadapi ujian, menghadapi cobaan saat berbenturan di atas medan tempur al-haq dengan cobaan ketakutan, kepayahan, kelaparan, kemiskinan, dan kekurangan ekonomi. Ujian-ujian ini harus ada supaya kaum mukminin saat menggenggam aqidah dirinya mampu melewati ujian tersebut. Mereka yang memiliki aqidah yang lemah yang loyo mengangkat beban tidak akan mampu bertahan ketika terjadi awal benturan.”

Kitab ini memang bukan ditujukan untuk masyarakat umum dan bukan secara khusus mengupas hukum demokrasi dalam Islam. Masyarakat biasa tidak mampu menanggung ujian-ujian tersebut. Karenanya kitab ini dihadirkan sebagai rambu-rambu bagi thaifah al-ghuraba (kelompok kecil). Dan pula, sebagian besar isi buku membahas mengenai tarbiyah menyiapkan diri menghadapi cobaan karena beliau telah mencicipi betapa beratnya menjadi ghuraba!

Download: Telaah Kitab Manhaj Al Ghuraba Fi Muwajahatil Jahiliyah.PDF

Download: منهج الغرباء في مواجهة الجاهلية.PDF

Judul Buku
منهج الغرباء في مواجهة الجاهلية

Penulis
Syeikh Asy-Syahid Abdul Majid Abdul Maajid rahimahullah

Penerbit
Sariyah As-Shumud Al-Ilamiyah

Tahun Terbit
1430 H / 2009 M

Tebal
75

Peresensi
Zen Ibrahim

18 Jumadil Akhir 1440 / 28 Februari 2019
cover manhaj ghuraba

Artikel Terkait