Submitted by admin on Mon, 06/14/2021 - 08:05

Allah berfirman:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar: 22)

Orang-orang yang terkena fitnah ini mereka adalah orang-orang yang bodoh tapi tentram dengan kebodohannya dan merasa damai serta aman. Mereka menyangka kelapangan dada bisa didapat tanpa ilmu dan mujahadah.

Kondisi terkena fitnah ketentraman seperti itu hakikatnya merupakan ketertipuan. Sebab orang yang jahil tetapi merasa tentram, damai dan aman sebenarnya terkoyak iradahnya. Ia kehilangan kemuliaan dan makna-makna. Maka keadaan ini tidak bisa disebut kelapangan dada. Sebab kelapangan yang hakiki tidak akan dapat diperoleh kecuali dengan iradah tinggi dan memahami makna-makna.

Dengan kedua hal tersebut; iradah tinggi dan memahami makna-makna, jiwa menjadi rehat. Sedangkan mereka yang menyangka akan mendapatkan kerehatan ini tanpa iradah dan kesemangatan tinggi, dia keluar dari konsep keimanan Qurani. Sebab itu Allah berfirman:

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (Al-Muthafifin: 26)

Dan sabda Nabi shalallahu alaihi wassalam:

إن الله تبارك وتعالى يحب إذا عمل أحدكم عملًا أن يتقنه

“Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala mencintai seseorang dari kalian yang beramal secara sungguh-sungguh, sempurna dan konsisten.” (Syabul Iman)

Dan sabda Nabi shalallahu alaihi wassalam :

إذا سألتم الله فاسألوه الفردوس

“Jika kalian meminta pada Allah, mintalah Firdaus.” (Musnad Al-Bazar)

Tujuan kelapangan hati yaitu keluar dari kegelapan menuju cahaya. Kegelapan yang paling gelap adalah kesyirikan disusul oleh maksiat dan perbuatan kefasikan. Keluar dari kegelapan menuju ilmu qurani yang bermanfaat. Sudah seyogyanya, bagi dai kepada Allah, kelapangan hati hanya bisa diwujudkan dengan yakin diatas hikmah Allah pada taqdir-Nya. Yaitu dengan cara memperhatikan sebab-sebabnya, bekas-bekasnya (atsar), akibat-akibatnya serta hikmah-hikmahnya.