Submitted by admin on Sat, 06/19/2021 - 23:05

Kebutuhan dai pada kelapangan dada lebih banyak daripada kebutuhannya pada perkara lain. Sebab dakwah itu membawa beban ujian, sakit dan penderitaan. Apabila tidak ada kelapangan dada pada al-haq yang dia emban, maka lamanya perjalanan tentu saja akan membuatnya lari dan menyerah. Dengan lapang dada, menjadikan dakwah pada al-haq dan mengemban ujian di jalan-Nya menjadi kegembiraan.

Keutamaan ini tidak bisa dimengerti kecuali dengan ilmu memahami situasi kondisi dan posisi. Dengan mengenal hukum-hukum taqdir dan menyerahkan segala urusan pada Allah ta’ala sampai tunduk iradahnya. Maka dia dapat mewujudkan peribadatan yang sempurna. Karena makna hakikat peribadatan yaitu ketika seorang hamba menyerah dan meninggalkan penolakan baik batin maupun lahir.

Ayat pertama dalam surat Asy-Syarah merupakan anugerah ilahiyah atas Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, Allah berfirman:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

“Bukankan kami telah lapangkan bagimu dadadamu?” (Asy-Syarah: 1)

Ayat ini menerangkan padamu urgensi kondisi wadah atau tempat untuk menampung makna-makna. Tidak cukup hanya terdapat makna-makna yang shalihah (baik) saja tetapi harus ada wadah yang baik juga. Ini merupakan salah satu bab dari bab-bab ilmu taqdir. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

إذا ذُكر القدر فأمسكوا

“Jika disebutkan tentang takdir maka diamlah.” (Musnad Al-Harits karya Al-Haitsami, Al-Hafizh Al-Iraqi berkata dalam Takhrij Ahadits Al-Ihya: Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari hadits Ibnu Masud dengan sanad hasan)

Sebab andai ditanyakan mengapa Allah menciptakan wadah yang shalih dan wadah yang rusak? Lalu bagaimana standar pembagian takdir ini di alam ghaib? Maka jawabannya: Seperti yang pernah diucapkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu anhu:

الناظر في القدر كالناظر في الشمس كلما ازداد فيها نظرًا ازداد فيها حيرة

“Meneliti pada takdir seperti memandang matahari. Semakin lama memandangnya semakin pedih.” (Disebutkan oleh Ibnu Abdil Bar rahimahullah ta’ala dalam Jami Bayan Al-Ilmu wa Fadhlihi)

Memandang pada taqdir seperti memandang matahari, makin lama dipandang maka makin panas

Dan Allah berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (Al-Qashshas: 68)

Sudah seharusnya bagi seorang hamba jika dia mengetahui al-haq maka bersunguh-sungguh dirinya untuk beramal menumbuhkan biji. Namun apabila dia tidak bisa menumbuhkan biji, maka hendaknya beramal bersunguh-sungguh dan berusaha untuk mengikuti syariat.