Submitted by admin on Sun, 06/13/2021 - 10:37

Kebalikan itu semua adalah keyakinan, ilmu, ketentraman dan tidak bisa mencapainya kecuali dengan kelapangan dada karena adanya ilmu, mendapat keyakinan dan menghasilkan tsabat (keteguhan) seperti firman Allah ta’ala:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Al-An’am: 125)

Dada menjadi lapang karena ilmu dan amal. Jadi bukan hanya pengetahuan akan ilmu kebaikan saja tetapi ilmu itu tidak mempengaruhi dalam jiwa, kehidupan dan iradah (pengamalannya –pent). Apa yang terjadi pada Rasul-Nya shalallahu alaihi wassalam, beliau menemukan penyerahan diri, ridha dan ketentraman ketika dada beliau telah merasa lapang.

Al-Hairah (dalam surat Al-An’am: 71 -pent) adalah suatu bentuk kebodohan, pertentangan, plin plan, kesempitan, inkonsistensi diiringi dengan suatu rasa sakit. Yaitu suatu kegelapan jiwa yang berasal dari ketakutan, kecemasan dan tidak konsistensi pada akhirnya membuatnya menjadi sempit.

Ilmu yang bermanfaat merupakan cahaya menghilangkan kegelapan maka menghasilkan kelapangan, kelegaan dan mendapat ketentraman. Inilah yang diperoleh kekasih Allah Ibrahim alaihissalam tatkala beliau meminta diperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan dari kematian. Alasannya yaitu:

لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

“Supaya hatiku tentram.” (Al-Baqarah: 260)