Submitted by admin on Wed, 05/11/2022 - 01:37

Pemahaman keterkaitan dua perkara ini terkumpul dalam satu maqam, yaitu ayat:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu terdapat kemudahan.” (Asy-Syarah: 6)

Dengan ayat:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (Asy-Syarah: 7)

Maksudnya; kesulitan dan kemudahan dua perkara yang telah ditakdirkan yang selalu menemani perjalanan manusia. Tidak selayaknya ketika tertimpa kesulitan berhenti beramal atau ketika mendapat kemudahan justru menyeru pada kerendahan. Keadaan sulit juga tidak menghalangi partisipasi, karena beberapa orang menunda-nunda jika mereka dalam kesulitan sampai kemudahan datang. Barang siapa yang kehilangan cita-citanya dalam kemudahan dia akan kehilangan kebaikan dalam dua keadaan.

Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sahabat, ahlul ilmi dan ahlul iman mengerjakan amal dalam segala keadaan. Bahkan seseorang tidak akan mengetahui derajat dan kedudukannya kecuali dengan amal dibawah tekanan dan kesulitan. Saat itulah nampak kelebihan, cita-cita dan keteguhannya. Sebagaimana kita lihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Hunain berdiri di atas puncak skala manusia dan kedudukan yang paling tinggi. Ketika pasukan kaum muslimin melarikan diri kocar-kacir seketika membuat barisan menjadi rentan, disambut arus pasukan musuh menyerbu seperti gelombang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru disaat paling sulit:

أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ

“Aku adalah seorang Nabi bukan pendusta dan aku adalah cucu Abdul Muthallib.” (Al-Bukhari dan Muslim)

Seruan ini bukan hanya pengakuan sebagai Nabi saja yang Allah telah mengkhususkannya di alam semesta ini, tetapi juga pengakuannya pada akar kemuliaan nasab yang mencegahnya untuk memilih kehancuran andai sekalipun beliau bukan Nabi, beliau serukan, “Aku cucu Abdul Muthalib!”

Lainnya, kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsul ifki; beliau tertimpa kesedihan, kesempitan dan tekanan pikiran. Walau demikian tidak pernah keluar dari lisannya perkataan batil atau perilaku tidak terkontrol seperti yang terjadi pada manusia ketika mendapat masalah sehingga muncul emosi marah, kepenatan dan penderitaan.

Mereka yang mewarisi sifat ini adalah para hawariyun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Peringkat tertinggi diwarisi oleh Abu Bakar Ash-Shidiq ra yang paling kokoh dan tabah dalam peristiwa riddah. Sebab itu dia berhak mewarisi kepemimpinan sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau total berdiri tegak dibawah Islam dalam seluruh kehidupannya. Posisi beliau dalam situasi pemberontakan riddah mirip dengan perang Badar saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa:

اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ

“Ya Allah, jika kelompok kecil pasukan Islam ini musnah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembah-Mua di muka bumi.” (Muslim)

Seandainya Abu Bakar tidak kokoh pada saat itu, Islam juga tidak akan tegak seperti dalam peristiwa Badar. Semoga Allah meridhainya dan Allah memberikan balasan dengan sebaik-balasan atas jasanya pada Islam dan muslimin.

Karena itu ahlul quran dan yang memahami dengan ilmu yang matang tidak akan hancur saat berbenturan dengan kesulitan. Bahkan dia akan menjadi orang yang sangat kuat berpegang pada al-haq. Sedangkan persangkaan orang yang menyangka zaman ini adalah zaman kehancuran, mereka adalah orang-orang yang memiliki mental lemah seperti dalam hadits:

الْآنَ حَمِيَ الْوَطِيسُ

“Sekarang peperangan sudah semakin sengit!” (Mu’jam Ath-Thabrani Al-Kabir, Musnad Abu Ya’la Al-Maushuli, Musnad Al-Bazar)

Tetapi orang yang mewarisi iradah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan berkata seperti yang dikatakan oleh Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu anhu dalam peperangan riddah:

والله لو منعوني عقالًا كانوا يؤدونه إلى رسول الله لقاتلتهم على منعه

“Demi Allah seandainya mereka menahanku satu 'iqal yang dahulunya mereka tunaikan kepada Rasulullah shallAllahu wa'alaihi wa sallam niscaya aku akan memerangi mereka karena penolakannya.” (Muslim)

Perkataannya ini wujud dari kekuatan ketabahan disaat sempit dan situasi sulit yang menguatkan jiwa orang-orang sekitarnya serta mengguncangkan jiwa musuh dan merealisasikan kemenangan atau mencegah ujian-ujian lainnya. Inilah fikih Al-Quran seandainya kaum memahaminya. Karena itu betapa bagusnya perkataan sahabat Anas bin Nadhir di Uhud ketika tersebar terbunuhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

فقوموا فموتوا على ما مات عليه رسول الله ﷺ

“Bangkitlah dan terbunuhlah sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbunuh.” (Dalailun Nubuwah, Al-Baihaqy)

Inilah iradah seorang mukmin yang terus tumbuh dalam segala keadaan. Pengusung al-haq akan terus tegak dalam segala kondisi sulit maupun lapang. Selamanya perubahan situasi tidak memalingkan mereka. Berpindah dari satu amal ke amal yang lain merupakan aktivitas mereka. Adapun orang-orang yang memprotes keadaan dan kondisi, mereka adalah makhluk jahat dan orang yang paling sengsara dalam mencapai tujuan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu meminta perlindungan dari sifat orang seperti tersebut yang memprovokasi manusia ketika tertimpa cuaca panas atau dingin ekstrim agar mundur dengan mengatakan:

لقد ملأتم قلبي همًا

“Kalian telah memenuhi hatiku dengan kekhawatiran.”

Mereka inilah pewaris orang-orang munafikin yang disebutkan dalam Al-Quran:

لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ

“Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” (At-Taubah: 81)

Mereka juga berkata:

شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا

“Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami.” (Al-Fath: 11)