Submitted by admin on Sun, 05/30/2021 - 10:34

Sirah-sirah para rasul termasuk Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, mengungkapkan munculnya suatu emosi, perasaan yang mengombak-ombak pada saat wahyu pertama kali turun. Mereka merasakan risalah yang turun diluar kemampuan mereka untuk melaksanakannya.

Seperti Nabi Musa alaihissalam ketika mendapat perintah untuk menemui Firaun untuk menyampaikan risalah, Musa berkata:

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ (12) وَيَضِيقُ صَدْرِي وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِي فَأَرْسِلْ إِلَى هَارُونَ (13) وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْبٌ فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ

“Berkata Musa: "Ya Rabbku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun. Dan aku memiliki dosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.” (Asy-Syuara: 12-14)

Demikian pula terjadi pada beliau shalallahu alaihi wassalam saat mengetahui nantinya akan diusir oleh kaumnya dari Mekah sebagaimana dikabarkan oleh lelaki shalih Waraqah bin Nufail. Beliau seakan tidak percaya dengan balik bertanya:

أو مخرجي هم؟

“Apakah mereka benar akan mengusirku?” (Al-Bukhari dan Muslim)

Dimaklumi, pertanyaan-pertanyaan berat dalam hati terdetik ketika diri dalam keadaan kepayahan, kesempitan dan kegalauan.

Tags