Submitted by admin on Thu, 06/17/2021 - 00:43

Kebalikan dari kelapangan ilahiyah ini yaitu seseorang tidak mampu memperoleh al-haq dan tidak ridha pada-Nya atau kelapangan pada kebatilan dan menikmatinya. Al-Quran telah menyebutkan kondisi hati pada kebatilan, membicarakan tentang keadaan hati pada kebatilan, yaitu:

Pertama; keadaannya sempit seperti firman Allah:

وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا

“Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit.” (Al-An’am: 125)

Atau firman-Nya:

كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِ

“Seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): ‘Marilah ikuti kami’.” (Al-An’am: 71)

Atau firman-Nya:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung.” (Al-Haj: 31)

Semua ini masuk dalam satu ayat yaitu:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (Thaha: 124)

Kedua; lapang pada kebatilan dan menikmatinya seperti firman Allah ta’ala:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَامَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ

“Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian daripada kami telah dapat kesenangan.” (Al-An’am: 128)

Dan firman-Nya:

وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ

“Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya.” (Al-Baqarah: 93)

Dan firman-Nya:

كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ

“Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik amalan mereka.” (Al-An’am: 108)

Keadaan kedua lebih sesat dari yang pertama dan seseorang terjatuh pada kondisi kedua harus melewati dulu kondisi pertama. Kita bisa melihatnya pada dedengkot orang-orang mujrim (pendosa), musyrik dan thaghut. Mereka menikmati, bersenang-senang dengan kebatilan dan melapangkan hatinya dengan kebatilan.

Bahkan kita bisa melihat dengan jelas jiwa dan akal mereka benar-benar menikmati kebatilan itu yang membuatnya tenggelam sangat dalam di pusaran kebatilan. Rasa kelezatannya seperti orang kena penyakit kudis sewaktu dia menggaruk gatal penyakitnya. Seperti kenikmatan orang kecanduan narkoba yang pada akhirnya membunuhnya. Seperti itulah.

Kondisi ini sangat berbahaya, menimpa semua pengikut kebatilan walaupun tidak sampai pada derajat kesyirikan. Sebab Allah ta’ala berfirman:

كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ

“Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik amalan mereka.” (Al-An’am: 108)

Ayat ini umum mencakup setiap pelaku kebatilan. Kenikmatan kelapangan dada yang mereka rasakan berbeda dengan kelapangan pada ahlul haq. Tampaknya hiasaan ini tidak dialami oleh pelaku kebatilan difase pertama, karena kebatilan adalah kegelapan dalam hati. Kebatilan akan menimpa seseorang secara bertahap sampai dia mengingkari jiwanya seperti dalam hadits:

والباطل لجلج

“Dan kebatilan adalah kegagapan.”

Tetapi dengan lamanya diam pada kebatilan akan menghasilkan keselarasan dan terhiasi. Sedangkan pengikut al-haq, dia akan memperoleh kelapangan dada sejak pertama menjumpainya seperti firman ta’ala:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.” (Al-Baqarah: 257)

Seperti dikatakan:

الحق أبلج

“Al-Haq adalah terang jelas.”

Kondisi ini terjadi pada semua orang yang mendapat petunjuk seperti banyak dalam kisah-kisah yang mutawatir. Juga terjadi pada sahabat radhiyallahu anhum, banyak sekali kisah-kisah pada awal keislaman mereka yang merubah wajah mereka. Maka dikatakan:

رجع بغير الوجه الذي ذهب به

“Dia kembali dengan wajah yang berbeda sebelum pergi.”

Semua hal tersebut masuk dalam makna ini.