Submitted by admin on Tue, 06/22/2021 - 22:12

Karena itu manusia yang paling agung kedudukannya di hari kiamat adalah Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam pemilik syafa’at uzhma (agung), para mahkluk memohon syafa’atnya. Anugerah tersebut karena beliau terjaga dari melakukan perbuatan dosa dan kesalahan. Dari sinilah diketahui makna firman-Nya ta’ala pada Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wassalam:

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ

“Dan Kami telah meletakkan daripadamu bebanmu.” (Al-Insyirah: 2)

Maksud ayat ini yaitu; Allah memberi taubat kepada Rasulululah shalallahu ‘alaihi wassalam dengan menghapus segala dosa sebelum dilakukan dan mencegah dadanya untuk melakukan dosa. Inilah makna taubat dan rahmah yang paling agung.

Semua ayat yang meminta Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam untuk beristighfar kembalinya pada makna ini, seperti firman Allah ta’ala:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ۚ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا ﴿١٠٥﴾وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا ﴿١٠٦﴾وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا ﴿١٠٧﴾

“1. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. 2. dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 3. Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.” (An-Nisa: 105-107)

Makna perintah istighfar dalam ayat tersebut bukan untuk memohon ampun pada dosa yang telah dilakukan tetapi memohon ampun sebelum terjadinya dosa. Inilah tingkat istighfar yang paling agung. Istighfar seperti ini yang diminta oleh Abu Bakar ketika bertanya mengenai doa meminta ampun pada Allah, beliau mengajarkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ. فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Allah, Sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak. Tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmati aku. Sesungguhnya Engkau Dzat Maha pengampun lagi Penyayang.”1

Doa istighfar di atas dipanjatkan untuk memohon ampunan sebelum terjadinya dosa serta meminta ketinggian derajat dan kedekatan pada Rabb. Sedangkan tingkatan istighfar paling rendah (meskipun sejatinya tetap agung disisi Allah ta’ala), yaitu istighfarnya hamba setelah melakukan dosa seperti firman Allah ta’ala:

إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya dia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)

Hamba memohon ampun pada Allah dalam kondisi menzhalimi diri sendiri dan bodoh. Maka Allah memberinya ampunan karena kezhaliman dan kebodohannya. Sudah menjadi keharusan, manusia untuk terus menerus beristighfar tanpa putus dan menjadikannya sebagai suatu kebiasaan.

Bentuk kewajiban istighfar lainnya bagi orang-orang muhsinin yaitu istighfar setelah melakukan ketaatan sebagai permintaan agar Allah menyempurnakan amal ketaatan tersebut. Seperti seorang hamba yang beristighfar setelah shalat atau seperti juga firman Allah pada Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wassalam:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ﴿١﴾ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ﴿٢﴾ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا ﴿٣﴾

“1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. 2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. 3. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (An-Nashr: 1-3)

Bentuk ini berbeda dengan bentuk sebelumnya ketika si hamba beristighfar ketika melakukan dosa akibat kelemahan, kebodohan dan kezhalimannya.

Bentuk istighfar lainnya bagi orang-orang shalih yaitu istighfar bukan karena melakukan perbuatan dosa tetapi ketika melihat orang lain melakukan dosa, seperti melewati rumah orang zhalim. Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda pada para sahabat ketika perang Tabuk:

لَا تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ الْمُعَذَّبِينَ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ

“Jangan memasuki negeri kaum yang diazab kecuali kalian menangis.”2

Makna hadits ini berlaku pula ketika melihat tanda-tanda yang menyerupai azab seperti terjadinya gerhana matahari yang merupakan kejadian takdir Allah. Maka keberadaan manusia meskipun dalam keadaan baik berhadapan dengan gerhana menunjukkan makna-makna posisi manusia yang telah Allah tentukan, yaitu sebagai makhluk yang lemah, zhalim dan bodoh. Sebab itu berlaku atasnya beristighfar.

Sedangkan istighfar yang merupakan rahmat Allah atas hamba adalah istighfar yang dilakukan atas dosa yang telah ia lakukan. Bahkan bukan hanya menjadi rahmat ilahiyah lebih dari itu menjadi amalan yang Allah cintai. Karena Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk lemah dan Allah telah menunjukkan kelemahan ini pada ayah Adam ‘alaihissalam. Allah ta’ala berfirman:

وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى

“Dan durhakalah Adam kepada Rabbnya dan sesatlah ia.” (Thaha: 121)


  1. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.↩︎

  2. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.↩︎