Submitted by admin on Tue, 01/25/2022 - 23:38

Kedudukan “pemuliaan nama” bagi ahlul ilmi sepanjang sejarah kita merupakan hasil dari kaum yang telah Allah siapkan dari takdir-Nya bagi mereka yang memiliki banyak pengikut lebih banyak dari orang lain. Kaidah Al-Quran pada para ulama shalih ini adalah firman Allah ta’ala:

وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ

“Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.” (Ar-Radu: 17)

Perkataan dan ijtihad yang mereka pahami dari ulama sebelum mereka mendapat perhatian oleh umat. Tatkala ijithad mereka menjadi petunjuk bagi umat, maka orang dari generasi setelah mereka tidak akan menjadi faqih kecuali mereka harus memahami perkataan dan perbedaan pendapat mereka seperti pepatah;

لا يكون المرء فقهيا حتى يعرف اختلاف العلماء

“Seseorang tidak akan menjadi faqih sampai dia mengerti perbedaan pendapat para ulama.”

Ijtihad-ijtihad tersebut menjadi sebab munculnya karya-karya kitab dengan berbagai macam katagori. Kesungguhan Imam Abu Ja’far Ath-Thahawy rahimahullah ta’ala dalam menulis kitabnya karena perhatiannya pada mazhab Hanafi. Begitu pula Imam Al-Baihaqi Asy-Syafii dalam berbagai kitabnya merupakan perhatian dan penjelasan pada mazhab Syafi’i. Demikian pula yang dilakukan oleh Imam Abu Amru bin Abdul Bar pada mazhab Malik. Ijihad-ijtihad ulama itu menjadi sebab kebaikan pada umat ini.

Kemudian setelah itu muncul kitab-kitab perbandingan pendapat dalam satu mazhab atau perbandingan pendapat dalam beberapa mazhab seperti kita Al-Majmu karya An-Nawawi dan Al-Mughni karya Ibnu Qudamah.

Kedudukan “pemuliaan nama” bagi mereka dalam mazhab merupakan iradah rabaniyah hasil dari kecintaan masyarakat pada para ulama. Bergabungnya masyarakat dalam sebuah mazhab di beberapa situasi dan zaman disebabkan karena alasan penjagaan agama melawan kebidahan dan sekte zindiq. Seperti bergabungnya masyarakat Maghrib (Afrika) pada mazhab Maliki dimasa dinasti Ubaidiyin sebagai pengakuan tindakan berpisah dari mazhab Ubaidiyin yang sesat.

Bergabungnya masyarakat sebagian benua India pada Mazhab Hanafi juga karena alasan penjagaan agama. Bergabungnya masyarakat di Mesir pada mazhab Syafii untuk menentang sekte Ismailiyah Ubaidiyah setelah Shalahudin Al-Ayubi berhasil mengambil kekuasaan pemerintahan Ubaidiyah Mesir. Jadi bergabungnya masyarakat pada sebuah mazhab bukan seperti yang disangka beberapa orang bahwa hal tersebut merupakan penyimpangan pada al-haq dan sunah.

Ada orang-orang yang menyeru untuk kembali pada sunah dan meninggalkan mazhab dengan alasan terjadinya perselihan antar mazhab. Padahal fakta yang kami dengar, perselisihan orang-orang ini lebih keras daripada perselisihan antar mazhab dahulu kala. Hakikatnya, orang-orang tersebut merupakan orang-orang muqolid (ikut-ikutan) pada mazhab baru dan pengikut mazhab baru tetapi bersembunyi dengan nama mengikuti sunah. Sebenarnya, mereka keluar dari mazhab masuk kedalam mazhab baru, bukan mengikuti sunah. Jangan sampai kamu tertipu dengan nama-nama indah atau slogan yang menyilaukan.

Apa yang mereka lakukan bertujuan menanamkan pemahaman bahwa mazhab yang diakui seperti Hanafi, Maliki dan Syafii merupakan mujtahid yang keutamaannya sama dengan mujtahid lainnya. Pendapat ini tertolak dengan alasan seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya serta banyak alasan lainnya.

Hari ini Islam diuji dengan penentangan orang-orang yang berusaha membebaskan diri dari mazhab, yaitu para ulama fiqih komtemporer yang ingin mendistorsi syariat dibawah bendera tajdid dan ijtihad. Termasuk gerakan yang menginginkan mazhab baru dibawah slogan ihya as-sunnah. Gerakan mereka tertolak sendirinya melalui ijtihad-ijtihad ulama mazhab masyhur yang Allah telah jadikan diterima luas masyarakat.

Para pengikut mazhab baru ini seolah tidak menemukan kesalahan dari penyimpangan para ulama kontemporer mazhab baru. Maka hendaknya orang-orang yang menuduh pengikut mazhab sebagai penentang sunah harus memahami tuduhan mereka itu salah baik secara syariat maupun takdir. Sebab ajakan mereka sebenarnya menyimpangkan pada mazhab baru mengikuti pendapat ulama-ulama mereka sendiri.